Bagikan

YouTube
Penguatan Inovasi Pembelajaran

20 Juli 2020

Prof. Syawal membahas tentang kualitas manusia, mendiskusikan nasib 44,6 juta siswa Indonesia dari jenjang SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB. “Tokoh utamanya adalah guru. Seperti itulah konstruksinya kalau orang berbicara mulailah dari ujung,”

Prof. Syawal mengawali bahasan dengan memaparkan paradoks Indonesia. Menurut data BPS, ada 24,79 juta orang Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. “Angka yang cukup besar. Jumlah jumlah penduduk Sumatera Utara saat ini hanya 12 juta jiwa. Artinya penduduk miskin Indonesia dua kali lipat penduduk Sumatera Utara,” ujar Syawal.

Batas penghasilan masyarakat yang terbilang miskin di indonesia terbilang sangat rendah. Hanya Rp 440.538 per kapita per bulan. Kenyataan kemiskinan ini berbanding terbalik dengan potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Mengutip Buku World in Figure 2003, terbitan The Economist, Indonesia merupakan penghasil lada putih, lada hitam, karet alam, puli dari buah pala, karet sintetik, kayu lapis, teh, kopo, coklat dan kelapa sawit (CPO) merupakan terbesar di dunia, dan berada di peringkat teratas.

Paradoks luar biasa itu, kata Syawal, bermula dari bangku sekolah, yakni berawal dari beberapa situasi belajar yang dilakukan guru. Pertama, guru tidak memenuhi jadwal, hadir pun tidak. Kedua, walau guru hadir tetapi tidak tepat waktu. Ketiga, meski guru memenuhi jadwal dan hadir tepat waktu, tetapi materi pembelajaran tidak relevan. Keempat, ketika materi relevan, tetapi ketuntasan dan kedalaman materi tidak memadai. Kelima, guru tidak mengajar dengan sepenuh hati dan berbasis penyelesaian masalah. Keenam, tidak memperhatikan muridnya untuk mencapai standar kompetensi.

“Situasi pembelajaran inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab kemiskinan terjadi. Kalau 17 tahun lalu guru mendidik orang dengan baik, tidak mungkin ada 24 juta orang miskin itu,” kata Syawal. “Dengan segala hormat serta penghargaan yang luar biasa kepada para guru saya tak ingin menyalahkan siapa pun.”

Bagi para pendidik, pandemi memaksa mereka untuk berinovasi membuat media pembelajaran memanfaatkan teknologi. Pendidikan pun tetap berlangsung dengan baik. Apa pun yang terjadi pendidikan merupakan satu-satunya yang tak boleh berhenti di republik ini. “Kata orang teknologi tidak akan menggantikan guru, tetapi guru yang tidak bisa menggunakan teknologi akan tergantikan,”

Guru harus menguasai empat konteks, yakni pertama, konteks kekinian pendidikan Indonesia dan negara lain. Kedua, konteks dan perspektif pengembangan profesi guru. Ketiga, konteks kekinian suasana pembelajaran di sekolah. Keempat, konteks kekinian kompetensi lulusan untuk semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan Indonesia.

Tahapan selanjutnya, barulah bisa membicarakan masalah proses belajar mengajar dan membahas siapa siswa. Kemudian membahas juga bagaimana komunitas guru di sekolah dan bagaimana sistem penjaminan mutu. ”Barulah ada pengakuan, karena kalau ada pengakuan orang datang ke sekolah untuk mengakui,”

Oleh karena itu, untuk membangun kapasitas siswa diperlukan perbaikan kurikulum dan kualitas guru, serta memperbaiki sarana dan prasarana. “Logikanya kalau mau tambah perolehan siswa perbaiki kurikulum, perbaiki guru dan saprasnya,” Sementara apabila sekolah ingin menciptakan guru yang produktif, sekolah harus memperbaiki iklim di sekolah. Sekolah perlu membangun kultur sehat agar guru menjadi lebih produktif. “Kalau manajemen yang diperbaiki tidak bisa, karena kepemimpinan hanya bisa bekerja lewat kultur sekolah yang baik,”

Anatomi Pendidikan

Menurut Syawal, dalam anatomi kompetensi siswa, guru, kepala sekolah, pengawas dan kepala dinas, kepala dinas harus bisa menjadi narasumber bagi pengawas sekolah. Pengawas sekolah menjadi narasumber bagi kepala sekolah dan guru. Sementara guru harus menjadi narasumber dan motivator bagi siswa.

Ketika siswa bertanya kepada guru, mereka mendapatkan jawaban dari guru. Ketika guru bertanya kepada kepala sekolah dijawab dengan benar. Selanjutnya kepala sekolah bertanya kepada pengawas sekolah, hingga ke kepala dinas ada jawaban yang benar. “Ini artinya kompetensi guru lebih luas dari siswa. Lebih luas lagi kompetensi kepala sekolah, dan lebih luas lagi kompetensi kepala dinas,”

Idealnya kepala dinas merupakan pengawas sekolah terbaik, dan pengawas sekolah merupakan kepala sekolah terbaik. Kepala sekolah adalah guru terbaik. Sementara guru adalah siswa terbaik. “Komposisi seperti ini pasti maju negaranya,”