Bagikan

YouTube
Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua Dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak

19 Juli 2020

Menurut Ibu Weilin, tiga pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan kesehatan mental murid-murid di masa pandemi: Hal apa saja yang pihak sekolah komunikasikan kepada para orang tua murid? Bagaimana pihak sekolah memastikan kesehatan mental para murid? Kegiatan apa saja yang pihak sekolah lakukan untuk menjaga kesehatan mental para murid?
“Sebelum ada pandemi Covid-19, OECDE telah menuliskan cara menyiapkan keterampilan-keterampilan yang transformatif di tahun 2030. Untuk itu semua pemangku jabatan seperti kepala sekolah, guru, orang tua, komunitas dan rekan kerja perlu berkolaborasi untuk mencapai well-being,”
Oleh karena itu, pandemi Covid-19 menjadi momentum pembelajaran bagi semua sektor, khususnya warga sekolah. Karena pada dasarnya pendidikan tidak hanya dilakukan oleh pihak sekolah saja. Namun sebaliknya pihak sekolah juga perlu lebih mengenali latar belakang keluarga dari murid-murid untuk dapat mendampingi mereka agar tumbuh dengan baik. “Sama seperti kita, semua murid tidak dapat menunggu dan menghentikan waktu. Waktu akan terus berjalan,”
Dalam laporan survei yang dilakukan McKinsey & Company, April 2020, menyebutkan ada empat hal yang harus menjadi prioritas sekolah di era pandemi. Pertama, kesehatan dan keselamatan. Kedua upaya memaksimalkan capaian dari pembelajaran luring.
Pertama, belajar dari fase pertama covid-19. Kedua, mengenali kebutuhan murid dan apa yang ingin ia capai. Ketiga, kembangkan sistem komunikasi yang positif.
Menuju tahun ajaran baru 2020/2021, sudah selayaknya kita melakukan refleksi bersama. Baginya belajar memiliki beragam cara dan bisa dilakukan dengan siapa saja. Belajar bukan hanya tentang membuka buku atau gawai, bukan hanya tentang menjawab soal atau tugas.
Waktu Berkomunikasi
Weilin punya beragam contoh pembelajaran yang ia kumpulkan dari berbagai pengalaman baik para guru ketika kegiatan belajar dari rumah. “Mungkin dalam hal ini sudah Bapak Ibu lakukan. Tentunya dalam manajemen berbasis sekolah dan kesehatan mental anak murid,” tuturnya.
Weilin mencontohkan, ada sekolah yang memberikan waktu untuk berbicang bersama secara rutin. Baik itu dengan orang tua murid maupun dengan siswa. “Artinya ada kesepakatan waktu di sana. Membangun rutinitas dan kebersamaan. Tentunya meminta para orang tua khususnya anak usia dini dan kelas rendah supaya ikut juga terlibat ngobrol bersama,”
Setiap pagi mereka secara rutin pada pagi hari melakukan daily check in atau mengobrol bersama. Bukan langsung meminta siswa membuka buku atau menanyakan PR. Tapi para murid diminta mengungkapkan suasana hati mereka. Kemudian saling mengomentari dan mengungkapkan suasana hati hingga kemudian saling menguatkan.
“Anak-anak belajar bersama mengenali perasaannya sendiri. Mengekspresikan secara terbuka, mendengarkan, dan berempati. Serta memberi dukungan semangat untuk teman-temannya. Menyatu dalam komunitas yang saling menyayangi,”
Sekolah Harus Lebih Siap
Menjelang tahun ajaran baru, peran orang tua dan sekolah penting dalam mendampingi anak-anak di masa pandemi. Mereka harus memiliki pengetahuan protokol kesehatan yang harus dijalankan di sekolah. Terlebih banyak anak yang rindu bermain dan bertemu dengan teman-temannya di sekolah. “Anak-anak yang lebih besar mungkin akan lebih bisa menahan diri untuk tetap mempertahankan jarak. Sementara anak-anak kecil? Di sana peran dan kerjasa kita semua,”.
Pembelajaran jarak jauh (PJJ) sejatinya membawa berkah bagi para pendidik. Lewat PJJ guru menjadi lebih tahu minat dan bakat siswa. Ketika pembelajaran tatap muka berlangsung, ada anak pendiam tetapi ketika belajar dari rumah murid tersebut lebih aktif dan percaya diri, terampil membuat karya. “Padahal mungkin di kelas terlihat biasa-biasa saja,”
Ibu Wei mengajak semua pihak agar lebih siap dalam melakukan pembelajaran pada 13 Juli 2020 mendatang. Menjadikan sekolah wahana yang mampu menumbuhkan minat dan potensi murid serta yang bisa menumbuhkan sikap positif, baik itu sukacita, empati, yang aktif dan semangat. “Tidak fokus pada penyelesaian kompetensi dasar yang kognitif semata,” Weilin menerangkan. Ia meminta sekolah memperhatikan durasi PJJ dan BDR yang aman dan sehat bagi mata, otak, dan hati.