Bagikan

YouTube
Menjaring Masukan Kembangkan Wirausaha

25 Juli 2020

Masa pandemi covid-19 di mata Made Rasta, SPd, MPd, tak sekadar menjadi musibah. Ketika tanggal 16 Maret 2020, sekolah-sekolah di Bali mulai melaksanakan pembelajaran di rumah, SMKN 1 Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali yang dipimpinnya harus mampu melaksanakan pembelajaran daring.

“Sebenarnya sudah sejak 1 Januari 2020, SMKN 1 Sawan sudah merintis pembelajaran daring. Namun pandemi memang memaksa semua guru harus mampu melaksanakan pembelajaran daring,” kata Made Rasta, ketika menyampaikan sebagai pembicara ketiga pada Seri Webinar Guru Berbagi edisi kesembilan, pada Senin 13 Juli 2020.

Seri Webinar diselenggarakan Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK) sepanjang bulan Juli 2020. Webinar dapat diikuti setiap Senin-Kamis pukul 09.00-11.00 melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud.

REFLEKSI DARI MASUKAN GURU DAN SISWA

Menurut Made Rasta, kemunculan pandemi menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Ia mengawali refleksi atas pelaksanaan pembelajaran dari rumah sepanjang Maret-Juni 2020. Ia menjaring masukan guru, tenaga administrasi, siswa, dan orangtua siswa mengenai pelaksanaan pembelajaran jarak jauh semasa pandemi.

Berdasarkan masukan hasil supervisi pembelajaran daring, hanya 37 orang guru (45%) yang mengisi survei pada April lalu. Ada sejumlah kendala pembelajaran daring, yakni kesulitan akses internet, keterlambatan siswa mengumpulkan tugas, kesulitan memantau perilaku siswa, dan siswa kurang merespons guru. Sementara supervisi terhadap pekerjaan administratif sekolah, hasilnya menyatakan sangat tercapai (7%), tercapai (36%), dan cukup tercapai (57%).

Made Rasta juga menjaring masukan terhadap siswa mengenai penghasilan orangtua semasa pandemi, dan persediaan kuota internet selama belajar di rumah. Hasilnya 50% penghasilan orangtua siswa kurang baik semasa pandemi, dan 50% kuota internet untuk belajar juga kurang baik.

Yang menggembirakan, hasil survei kepada siswa yang tergabung dalam Young Entrepreneur Smeksa. Sebanyak 54,5% dari mereka membuka usaha daring untuk menambah penghasilan. Sebanyak 45,5% dari mereka juga merasa terbantu dengan adanya usaha daring.

“Setidaknya memang ada tantangan pelaksanaan tugas sebagai kepala sekolah, di antaranya pendidik belum optimal dalam pembelajaran daring, beberapa siswa terkendala teknis jaringan, beberapa orang tua siswa belum optimal membantu pembelajaran anak dari rumah. Namun juga memunculkan peluang yaitu berupa berbagai ide kreatif para guru dan siswa,” kata Made Rasta.

SKEMA KESIAPAN TUGAS KEPALA SEKOLAH

Made Rasta telah menyiapkan skema keterlaksanaan tugas kepala sekolah di masa AKB. Dalam perencanaan manajerial SDM, Made Rasta mengawali dengan menganalisis dan identifikasi kemampuan SDM dalam pembuatan media pembelajaran daring. Jika ada yang tidak mampu, diikutsertakan dalam pelatihan pembuatan media daring secara virtual, dilanjutkan penguatan, sampai guru mampu membuat media pembelajaran daring.

Skema lain yang disusun Made Rasta adalah perencanaan manajerial sarana prasarana, keuangan, supervisi dan evaluasi pembelajaran, serta pengembangan kewirausahaan. Pada bidang kewirausahaan, tim kewirausahaan bersama siswa yang tergabung dalam Young Entrepreneur Smeksa bergotong royong menghidupkan wirausaha sekolah, dari perencanaan, pengembangan, produksi, pemasaran dan evaluasinya.