Bagikan

YouTube
Langkah "Harmoni" Untuk Mencapai Student Wellbeing

23 Juli 2020

Weilin mengajak peserta webinar memberikan pendapat “apa itu wellbeing” melalui www.menti.com. Ragam jawaban pun bermunculan. Ada yang menyebut sejahtera, bahagia, siswa yang sejahteraa, masa depan lebih baik, belajar bahagia, damai, menyenangkan, dan masih ada banyak makna lain lagi. “Orang sunda menyebut wellbeing itu bagja,” kata Weilin.

Istilah “wellbeing” sudah dibincangkan lebih dulu di tataran global. Misalnya OECD sudah mengeluarkan Guidelines on Measuring Subjective Well-being (2013); How was Life?Global, Well-Being Since 1820 (2014). “Sudah dua ratus tahun yang lalu, manusia membicarakan wellbeing,” kata Weilin.

UNDP memasukkan wellbeing sebagai bagian dari Sustainable Development Goal 3, yakni “Ensure healthy lives and promote well-being for all at all ages” (2015). Di dunia pendidikan, OECD mengeluarkan “Well-being dan Pendidikan di Tataran Global”, Transformative Competencies 2030. “Tujuannya adalah Well-being 2030.

Weilin juga mengutip pernyataan Mendikbud Nadiem Makarim yang mengangkat kata wellbeing. “Untuk mengetahui ekosistem di sekolahnya, bagaimana implementasi gotong-royong. Apakah level toleransinya sehat, apakah well-being atau kebahagiaan anak itu sudah mapan, apakah ada bullying terjadi?” kata Mendikbud pada kegiatan Simposium Nasional Tenaga Kependidikan, November 2019.

“Wellbeing adalah sebuah proses konstruksi keadaan seseorang secara menyeluruh dan berkelanjutan, untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Well-being tidak dapat didefinisikan sebagai rumusan yang baku,” kata Weilin menambahkan.

Rumusan HARMONI

Weilin menyarikan rumusan untuk mencapai wellbeing’s student dari buku berjudul The PROSPER School Pathways for Student Wellbeing: Policy and Practices karya Noble, T. and McGrath, H. (2016). “Dalam buku ini ada teori kebijakan dan prakteknya, yang disingkat PROSPER, yakni positively, relationship, outcome, strength, purpose, engagement, dan resilience. Prosper diadaptasi menjadi akronim HARMONI,” kata Weilin.

HARMONI menggambarkan tujuh proses untuk mewujudkan student wellbeing. H memiliki makna Hasil yang Berproses; A adalah Andal, Berdaya Lenting; R adalah Relasi yang Positif; M adalah Makna dalam Tujuan; O adalah Orientasi Sikap Positif; N adalah Nilai Sesuatu Kekuatan; serta I adalah Inisiatif yang Melibatkan.

Hasil yang berproses dijabarkan ke dalam identifikasi goal; bayangkan hasilnya bisa/akan jadi apa; identifikasi tantangan; dan rencana penanganan. Andal, Berdaya Lenting dijabarkan menjadi berpengharapan dan optimis; menghadapi kekhawatiran dengan pemikiran-pemikiran logis/logika; mengatur jarak dari pengaruh (emosi) negatif.

“Seperti busur, saat ditarik sekuat tenaga, maka anak panah akan bisa melenting lebih jauh. Ketika ada masalah tidak apa-apa, masalah untuk dihadapi. Kita menemani murid-murid untuk berpengharapan dengan pemikiran yang logis. Yang penting juga, kita menemani murid untuk mengatur jarak dari emosi negatif,” kata Weilin.

Relasi yang positif dijabarkan menjadi guru yang mengasihi siswa dengan tulus, hangat, perhatian, akrab dan tidak angin-anginan. “Guru memberi dukungan, sehingga ada saling menghargai,” katanya.

Makna dalam tujuan dijabarkan tujuan jangka panjang; tindakan dan komitmen; serta motivasi tinggi. “Kita perlu mengajak anak-anak memiliki tujuan jangka panjang. Selama masa pandemi, kerja di rumah, orangtua bisa mengajak anak berbagi apa yang dimiliki, membangun empati,” katanya.

Orientasi sikap positif dijabarkan menjadi pemeliharaan emosi dan pola pikir positif. “Bapak Ibu guru harus bisa berorientasi pada pola pikir positif. Menimbulkan kesenangan pada siswa saat beraktivitas. Apa yang bisa dikembangkan, ada banyak humor positif, humor tidak merendahkan orang lain, jender, dan humor yang diterima semua kalangan,” kata Weilin.

Nilai sesuatu kekuatan dijabarkan menjadi: kemampuan, karakter, harga diri, pola menghargai. Sedangkan inisiatif yang melibatkan dijabarkan maknanya menjadi: kognitif, emosi, sosial, perilaku.

Bagaimana caranya mencapai well-being? “Kita memberi ruang kepada perbedaan, bukan penyeragaman. Kita saling menghargai dalam keberagaman. Karena wellbeing baru bisa dicapai kalau semua menghargai keberagaman,” kata Weilin.