Bagikan

YouTube
WS 11 Dr Asep Saefudin, M Pd Ketua Depdikmas UPI Bandung

27 Juli 2020

“Perkembangan global berdampak terhadap kebutuhan dan layanan pendidikan masyarakat masa depan. Sebab pendidikan berkaitan dengan perkembangan global. Pendidikan berada pada tiga posisi dalam dunia digital. Pertama, pendidikan berada di posisi tertinggal dari perkembangan dunia digital. Artinya ketika perkembangan semakin terus berubah dan teknologi semakin maju maka pendidikan ini ada di belakangnya,”

Transformasi Digital
Secara empirik perkembangan teknologi informasi digital saat ini jauh melampaui perkembangan pendidikan. Pendidikan harus terus mengejar perubahan. Akibatnya memunculkan beragam masalah dan tantangan.

Posisi pendidikan dalam perkembangan digital perlu dibahas karena pendidikan akan dihadapkan kepada dua kondisi. Pertama, pendidikan mampu menciptakan sekolah yang well-being student yang nyaman dan damai serta mensejahterakan. Atau sebaliknya pendidikan akan tergusur atas perkembangan. “Pendidikan menjadi termarjinalkan dan banyak masalah. Baik dari ketenagaan kurikulum, peserta didik, infrastruktur dan sebagainya,”

Perubahan dan perkembangan teknologi apapun bentuknya selayaknya mendorong sekolah menjadi school wellbeing. Mendorong institusi pendidikan menjadi nyaman aman dan damai. “Persoalannya, siapa yang akan bertindak melakukan hal itu? Tentu kita semua,”

Semua pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, dan masyarakat, juga penilik memiliki peran luar biasa untuk menciptakan sebuah pendidikan yang wellbeing. Sebuah pendidikan yang nyaman dan damai. Pendidikan yang pada gilirannya menjadi wellbeing student, sekolah yang mampu mensejahterakan warga belajarnya.

Di sisi lain, Asep mengharapkan ada institusi pendidikan yang sifatnya wellbeing, damai, dan menyenangkan, tidak lagi menegangkan. Maka antara pendidik, sumber belajar, dan peserta didik harus berkolaborasi, saling mencintai dan memiliki. Sehingga proses pembelajaran menjadi bermakna, bebas berkreasi dan saling menghargai. ”Ini sebuah proses pendidikan yang harus dialami oleh bangsa kita ketika masuk ke abad-21,”

Pendidik harus mampu menjadi fasilitastor dan motivator. Pendidik mampu membuat inovasi dan perencanaan luar biasa. Selain itu juga memberikan contoh teladan yang bisa menjadi cerminan siswa, serta memberikan sumber belajar yang multi dimensi. “Artinya harus memadukan berbagai aspek, disebut dengan blended learning,”

Posisi Strategis Penilik
Dalam rangka menghadapi perubahan dan perkembangan zaman yang cepat ini, Asep berharap para penilik melakukan sesuatu di luar kebiasaannya (out of the box). Keluar dari cara berpikir yang lama yang bersifat statis, rutinitas, dan pragmatis. “Kalau para penilik tidak out of the box dari kegiatan-kegiatan rutinitas. Maka tentu pendidikan itu akan menjadi terbelakang dari proses pengembangan,”

Posisi penilik sebagai tenaga kependidikan memiliki peran yang luar biasa karena memiliki tupoksi dalam pengendalian mutu dan evaluasi dampak. Sehingga penilik harus memvisualisasikan diri untuk menciptakan pendidikan yang wellbeing. “Tentu sesuai dengan regulasi yang ada sudah melakukan itu dan mereka sudah bekerja keras melakukan itu. Sesuatu yang luar biasa yang perlu kita apresiasi kepada para penilik,

Asep merekomendasikan sebagai sebuah intervensi kepada penilik dalam menciptakan wellbeing student dan school wellbeing. Agar ketika tercipta sebuah proses muncul layanan belajar yang bermutu. Layanan belajar yang memuaskan warga belajar dan mendamaikan bagi semuanya.

Penilik harus melakukan intervensi kepada satuan pendidikan, baik itu PAUD, PKBM, maupun LKP. Sehingga pendidikan nonformal menciptakan pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran yang tidak menekan, bebas, berkreasi, saling mengharga, dan mampu menguasai teknologi.

Dampak Perkembangan Teknologi Digital

Di era baru industrialisasi digital, semakin banyak penduduk tetapi lapangan kerja semakin berkurang bahkan tidak ada karena sudah tergantikan sistem digital.

Untuk itu, demi menghadapi tantangan dari perkembangan dunia global diperlukan persiapan bagi siswa Indonesia agar bisa masuk kerja di dunia digital. Karena untuk memasuki dunia digital tidak cukup hanya dengan selembar ijazah maupun mengandalkan kompetensi, tapi diperlukan kompetensi lain yang mampu meningkatkan kualitas lulusan.

Dengan tantangan, insan pendidikan harus mampu menguasai literasi, baik literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Hal ini karena kompetensi seperti itulah yang dibutuhkan oleh dunia di era digital. “Ada tuntutan lulusan pendidikan, ada tuntutan masyarakat ketika dia masuk pada era digital,”

Pendidikan saat ini sudah selayaknya tidak menyajikan pembelajaran instrumental dan terpaku pada rutinitas. Pendidikan abad 21 harus meningkatkan kompetensi siswa agar mampu berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, dan memanfaatkan berbagai macam teknologi. “Kalau tidak, maka pendidikan akan selalu di belakang perkembangan zaman. Jangan harap bisa masuk di era digital ini,”