Bagikan

YouTube
Strategi Satelit Lahirkan Pengajar Pancasila

24 Juli 2020

Di era Ujian Nasional masih diberlakukan, banyak guru lebih fokus menyiapkan siswanya pada aspek intelektual atau kognitif. Dampaknya guru jadi melupakan menginternalisasi nilai-nilai karakter pada setiap pembelajaran. “Di masa lalu ada ketidakseimbangan antara pendidikan intelektual dan pendidikan karakter,”

“Ada kata-kata mutiara yang menarik, pendidikan adalah seni untuk membuat manusia semakin berkarakter. Jadi melalui pendidikan kita akan membangun SDM berkarakter. visi ke depan kita bagaimana kita membangun good citizenship. Bagaimana membangun warga negara yang baik, tentunya melalui nation and character building. Di tangan para guru, orangtua, pegiat pendidikan diharapkan punya kontribusi menanamkan nilai-nilai karakter bangsa,”

Membangun karakter juga merupakan bagian dari cita-cita bangsa. Dalam lagu Indonesia Raya, tertulis lirik “bangunlah jiwanya bangunlah badannya”. Lirik ini menggambarkan bahwa pendidikan indonesia harus mengedepankan daya analisis yang tajam dan membangun budi pekerti. Dalam pembangunan karakter ada yang dinamakan moral knowing, moral feeling dan moral action. Moral knowing artinya peserta didik tahu mana yang buruk dan mana yang baik. Sementara moral feeling artinya moral itu dapat dirasakan dan menjelma membentuk perilaku (moral action) sesuai harapan. “Moral feeling itu yang perlu kita sentuh. Jadi nilai-nilai karakter yang baik itu akan muncul dalam diri peserta didik," ujarnya.

Strategi Satelit

Menggagas strategi satelit untuk sekolah binaan. Setidaknya ada empat langkah. Yaitu: 1) sosialisasi PPK fokus pada nilai utama terintegrasi dengan 6 profil pengajar pancasila; 2) Analisis program sekolah; 3) Integrasi PPK dalam intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler; 4) Melibatkan orangtua siswa dan masyarakat.

Pengawas sekolah harus mendampingi sekolah dalam menyosialisasikan enam profil pelajar Pancasila melalui penguatan pendidikan karakter. “Jadi kita sosialisasikan kembali, kita ingatkan kembali satuan pendidikan supaya tidak melupakannya," Pengawas sekolah juga membina sesuai dengan visi misi sekolah yang beragam. Sekolah akan memiliki karakter yang diimplementasikan ke dalam branding sekolah. Misalnya, Titik mencontohkan sekolah binaan, SMP Brighton. Sekolah ini mendorong siswa menjadi peneliti. Sejak kelas 7 sudah dididik untuk merancang projek ilmiah, kemudian dilaksanakan di kelas 8, dan dipertunjukkan pada kelas 9.

“Budaya menelitinya sampai mendapat penghargaan internasional,” Contoh nyata, siswa SMP Brighton sudah melakukan penelitian menanam jamur menggunakan media air yang garam, atau membuat permen dari daun kelor untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Contoh lain adalah sekolah binaan SMPIT Rahmaniyah, yang mencirikan sebagai sekolah dengan kurikulum STEM. Mereka ingin membangun teknokrat, calon ilmuwan seperti BJ Habibie. Kemudian ada SMP Darul Qur'an Annayyiroh yang memiliki visi sekolah melahirkan siswa penghafal Quran. “Sekolah menginternalisasi nilai ketakwaan dengan menghafal AL Quran. Dengan jangka waktu 1,5 tahun, siswa sudah hafal Al Quran,”

Jadi, manajemen sekolah dan pemangku kepentingan sekolah harus untuk membuat strategi penanaman nilai karakter pelajar Pancasila. Mereka menganalisis program PPK, membuat instrumennya, yang diverifikasi dan divalidasi pengawas sekolah.

Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat
Penanaman nilai-nilai karakter dengan melibatkan orang tua dan masyarakat juga merupakan bagian dari pendidikan. Pendidikan akan berjalan baik dan lancar jika orang tua dan masyarakat terlibat di dalamnya.

“Pendidikan bukan sebatas lembaga formal, tetapi juga membutuhkan peran luar biasa dari orang tua dan masyarakat. Sekolah mendapatkan masukan, saran, dan kritik untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Apalagi lingkungan keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak, tempat paling lama anak membangun karakter,”

Pengawas sekolah harus mampu menjadikan sekolah binaan adalah ruang yang baik bagi anak. Tempat untuk membangun pondasi karakter anak. Agar anak memiliki bekal ketika bersinggungan dengan lingkungan masyarakat, anak sudah punya filter yang baik.

Guru Menjadi Teladan
Agar tercipta siswa berkarakter pelajar Pancasila, perlu didukung silabus dan RPP berkarakter yang disesuaikan dengan semua mata pelajaran. “Jadi karakter apa disesuaikan dengan KD mapel,” kata Titik.

Di dalam kelas, guru juga harus membuat kontrak belajar dengan siswa. Kontrak yang harus saling ditaati, baik siswa maupun guru. Guru bisa memberikan teladan yang bisa ditiru siswa. Sementara siswa meneladani guru dan menaati aturan. “Jangan sampai menyuruh anak tepat waktu, tapi gurunya malah terlambat,” ujar Titik.

Titik juga meminta guru memilih metodelogi dan evaluasi pembelajaran yang tepat. Metode yang mampu memperkuat karakter anak menjadi Pelajar Pancasila, dan memiliki daya analisis yang kuat. “Metode yang mengembangkan nilai kearifan lokal agar memiliki tanggung jawab, kerja keras, dan karakter baik lain,” kata Titik.