Bagikan

YouTube
Pembelajaran Yang Well Being

25 Juli 2020

“Wellbeing’s Student dalam kerangka penilik bermakna pengendalian mutu kepada guru yang berdampak pada terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan dan menggembirakan serta menyejahterakan siswa,”

Pembelajaran Kontekstual
Menurut Tasim, ada beragam model pembelajaran yang dapat mencapai Wellbeing’s Student. Di antaranya adalah: 1) Pembelajaran kontekstual atau Contextual learning (CTL); 2) Pembelajaran Inkuiri; 3) Pembelajaran Berbasis Masalah; 4) Pengajaran Alam Sekitar; 5) Bermain Sambil Belajar; 6)Pembelajaran Berbasis Pengalaman (Experience Learning); dan 7) Diskusi Kelompok.

Pembelajaran Berbasis Masalah
Melalui model pembelajaran berbasis masalah, siswa dihadapkan pada suatu masalah. Siswa dituntut berpikir kritis, logis, dan analitis, menemukan pemecahan masalah tersebut. Tujuannya, agar kemampuan berpikir kritis siswa meningkat.

“Mari kita berpikir bersama bagaimana menyampaikan pembelajaran yang menyenangkan ini kepada guru. Karena tugas penilik adalah pengendali, pembimbing, dan pembina di lapangan,” ujar Tasim.

Setidaknya ada lima fase metode ini meliputi: menyusun orientasi peserta didik pada masalah, mengorganisasi peserta didik dalam belajar, membimbing penyelidikan peserta didik secara mandiri maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah laporan tertulis.

Pada fase pertama, guru bisa memberikan contoh masalah yang terjadi kepada siswa. Misalnya dengan menunjukkan gambar tumpukan sampah di tepi jalan. Peserta didik lalu diminta mengamati dan memberikan tanggapan tentang masalah yang terjadi. Sehingga terkumpul beragam permasalahan dalam bentuk pertanyaan yang berhubungan dengan gambar.

Fase kedua, guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan pertanyaan yang akan dicari penyelesaiannya. Kemudian peserta didik diberi tugas untuk menggali informasi dari sumber seperti buku.

Fase ketiga, peserta didik diminta mengumpulkan informasi guna membangun ide mereka sendiri dalam memecahkan masalah yang telah dimiliki. Kemudian berdiskusi dalam kelompok untuk mencari solusi terkait dengan masalah yang telah diidentifikasi

Fase keempat, peserta didik kemudian mencatat data hasil penyelidikan kelompok yang telah dilakukan ke dalam lembar kerja. Lalu mengolah data yang diperoleh dari kelompoknya agar bisa menjawab pertanyaan yang telah dibuat pada lembar kerja.

Fase kelima, guru melakukan evaluasi dan bimbingan kepada siswa terkait hasil penyelidikan melalui diskusi kelas. Sementara siswa diharapkan menggunakan buku sumber untuk membantu mengevaluasi hasil diskusi.

Pengajaran Alam Sekitar
Pengajaran alam merupakan salah satu model pembelajaran yang membuat siswa nyaman karena mereka diajak untuk dekat dengan alam. Belajar secara nyata dengan melihat langsung bentuk asli dari apa yang dipelajari. Guru memperkenalkan siswa dengan lingkungan sekitar di mana mereka tinggal dengan mengajak anak mengelilingi, mengamati dan menyelidiki segala sesuatu yang terdapat di dalam alam sekitar anak. “Misalkan siswa belajar tentang bunga, maka siswa diajak jalan-jalan ke taman bunga dan mengamati berbagai jenis bunga,” t

Bermain Sambil Belajar
Bermain sambil belajar merupakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak. Konsep pembelajaran ini sangat populer karena memberikan motivasi tinggi bagi siswa untuk melakukan permainan. Guru harus cerdas memilih permainan agar unsur edukasi di dalamnya bisa berdampak pada kemampuan siswa. Sehingga siswa bisa merasa senang dan nyaman ketika bermain sambil belajar. Penilik dapat mengarahkan guru, tutor, atau instruktur agar proses pembelajaran bisa enak dilakukan.

Diskusi Kelompok
Metode ini merupakan pembelajaran yang menyenangkan karena melalui kerja kelompok siswa bisa berkumpul dengan teman kelompoknya. Saling bersosialisasi dan termotivasi untuk bersaing dengan kelompok lain dalam mengerjakan tugas agar menjadi kelompok yang terbaik.

Aspek Pembelajaran
Agar model pembelajaran tersebut mencapai wellbeing’s student, menambahkan, ada delapan aspek pembelajaran yang harus dilakukan guru. Aspek tersebut meliputi: berorientasi pada tujuan, memancing keterlibatan anak, seimbang kognitif, afektif, psikomotorik, dan berpusat pada anak. Pembelajaran juga harus bermakna dan motivasi anak untuk tetap semangat. Selain itu, guru harus komunikatif dan memiliki metode, model, strategi, dan teknik yang bervariatif.

Bagi guru PAUD dan TK, ada 10 cara untuk mencapai wellbeing’s student pada anak usia dini. Mulai dari belajar lewat permainan, belajar sambil bernyanyi, dekat dengan alam, belajar berkelompok, dan memakai alat peraga. Anak juga perlu diajarkan secara berulang-ulang dan diajak untuk bermain warna. Kemudian beri contoh langsung, dan ikuti suasana hati anak. Tak lupa selalu berikan mereka hadiah agar senang mengikuti proses pembelajaran. “Ini tugas penilik untuk mengarahkan kepada guru PAUD maupun TK, sehingga pembelajaran bisa berjalan lancar dan menyenangkan,”