Hidup yang Menghidupi Pendidikan

Bagikan

oleh DS

Jakarta, Direktorat P3GTK, Kemendikbud---  Karakter, kompetensi, numerasi, dan literasi. Empat hal pilar pendukung transformasi kerja pengawas sekolah di era digital. “Karakter setidaknya ada dua, yakni moral karakter dan performance karakter. Seseorang yang baik hati, tapi tidak mau bekerja pastinya tidak akan dapat penghargaan, juga tidak dapat mengaktualisasi diri,” kata Dr. Ninik Kristiani, M.Pd., Pengawas SMA pada Dinas Pendidikan Kota Malang dan Batu, Jawa Timur.

 

Ninik menyampaikan hal tersebut kala menjadi pembicara terakhir pada Seri Webinar Guru Berbagi jilid keenam, pada Rabu, 8 Juli 2020. Seri Webinar diselenggarakan Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK), melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud. 

 

Menurut Ninik, kompetensi pengawas sekolah akan optimal jika moral karakter dan performance karakter makin hari makin di atas. “Numerasi dan melek literasi akan tampak terbentuk jika pengawas sekolah dapat melewati tahapan, seperti sering disampaikan Mas Menteri, yakni jika tidak tahu bertanya, setelah bertanya mencoba, setelah mencoba harus mampu berkarya,” ujarnya. Karya yang dihasilkan pengawas sekolah inilah yang akan mengisi portofolio digital kelak.

 

Setiap pengawas sekolah, kata Ninik, sadar atau tidak sadar selalu berhadapan dengan sebuah proses yang dikenal sebagai problem solving. Ketika mengidentifikasi permasalahan sekolah, terdorong kemampuan menganalisis. “Inilah yang disebut kemampuan numerasi, kemampuan menganalisis permasalahan. Sementara literasi pada hakikatnya adalah sebuah pengetahuan yang harus lengkap didukung keterampilannya, yang mampu mendorong kemampuan membaca, menulis, berbicara, berhitung, dan paling utama adalah problem solving,” ujar Ninik.

 

Proses problem solving dimulai dari identifikasi permasalahan di sekolah binaan. Kemudian berlanjut pada menganalisis hasil identifikasi. Tahap berikutnya adalah menemukan solusi penyelesaian masalah, merencanakan tindakan terhadap solusi, mengimplementasikan dan di tahap akhir adalah mengevaluasi.

 

PENGAWAS SEKOLAH SEBAGAI PENDAMPING

 

Berdasarkan praktik baik selama melakukan supervise sekolah, Ninik menggolongkan sekolah setidaknya tiga kategori. Ada sekolah tipe A yang sudah siap dengan pengembangan teknologi digital, baik infrastruktur maupun mindset warga sekolah, khususnya guru dan tenaga kependidikan. Sekolah tipe B baru sebatas infrastruktur yang siap, namun mindset mereka belum. Sementara sekolah tipe C, sama sekali belum didukung infrastruktur berteknologi dan juga mindset.  

 

“Pengawas sebagai pendamping harus mampu meningkatkan tipe sekolah. Pada sekolah binaan saya, dari sebelumnya hanya dua sekolah tipe A, 7 sekolah tipe B, 1 sekolah tipe C, setelah pendampingan jauh terjadi peningkatan. Sudah ada tujuh sekolah tipe A dan sisanya 3 sekolah sudah meningkat menjadi tipe B,” kata Ninik.

 

Proses pendampingan tidak hanya pada pemetaan sekolah, namun juga pada program pendampingan, pendampingan untuk guru (RPA), pendampingan untuk kepala sekolah (RPM), serta pendampingan untuk guru dan kepala sekolah (RPB). “Pengawas sebagai pendamping, melakukan pendampingan akademik, manajerial, dan bimlat atau bimbingan pelatihan,” kata  Ninik. 

 

Ninik berbagi tips kepada pengawas sekolah, bahwa untuk meraih sesuatu pasti dikerjakan dengan cara yang tidak biasa. “Ketika teman pengawas sekolah bisa tidur lama, saya tidak tidur lebih lama. Karena banyak yang dikerjakan. Di masa pandemi ini, saya membuka layanan virtual pendampingan guru dan kepala sekolah terkait teknologi digital. Yang saya lakukan tidak terbatas pada sekolah binaan, tetapi tidak dibatasi sekolah mana saja dapat ikut layanan virtual.

 

Inilah yang bagi Ninik disebut hidup yang menghidupi pendidikan. “Hal itu bisa capai kalau kita sebagai pengawas sekolah memiliki karakter, kompetensi, numerasi, dan literasi yang wahid,” kata Ninik.

Artikel Terkait