Kelebihan dan Kekurangan Sistem Kenaikan Pangkat Daring

Bagikan

oleh DS

Pada masa pandemi Covid-19 ini semua kegiatan berubah total. Tak terkecuali pada pendidikan. Penilaian kenaikan pangkat bagi pengawas sekolah yang biasanya dilakukan secara konvensional, tak dapat dilaksanakan karena kebijakan bekerja dari rumah. Kegiatan dan cara penilaian kenaikan pangkat pun harus berubah menyesuaikan melalui media online (daring).  

 

“Kita mau tidak mau harus menyesuaikan dengan kondisi, penilaian-penilaian secara online,” kata Prof. Dr. Tri Marhaeni Pudji Astuti, M.Hum., Guru Besar Universitas Negeri Semarang. Prof. Tri sebagai pembicara pertama, menyampaikannya pada Webinar Seri Guru Belajar episode ke-21, pada Selasa, 4 Agustus 2020. Seri Webinar diselenggarakan secara berkelanjutan oleh Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK) dari 30 Juni 2020. Webinar dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis, pukul 09.00-11.00 melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud

Menurut Tri, saat ini semua masyarakat dari kalangan mana pun dan golongan apa pun sedang mengalami masa liminal. Di mana masyarakat berada di fase kebingungan dan ambigu, karena satu kaki masih di masa lalu, sementara satu kaki lain sudah harus melangkah ke masa adaptasi kebiasaan baru (AKB). Akibatnya terjadi suatu kebingungan dan kekisruhan dalam bertindak dan berpikir.

 

Tri menyebut, kondisi ini tidak hanya berdampak pada kenaikan pangkat pengawas sekolah. Tetapi juga berimbas pada semua kegiatan orang, termasuk dosen, guru, dan orang tua. Semua orang kini berada di fase kebingungan karena sebelum ada pandemi mereka sudah terbiasa melakukan kegiatan seperti dulu, tetapi ketika kondisi berubah mereka tiba-tiba dihadapkan pada seuatu yang berbeda. “Maka fase kebingungan inilah yang berbulan-bulan kita hadapi. Sekarang kita harus sudah mulai memilih untuk menjadi suatu kebiasaan baru,” ujar Tri.

 

Gagasan Penilaian Kenaikan Pangkat Daring

 

Kenaikan pangkat sebelum tahun 2020 penilaian kenaikan pangkat dilakukan dengan cara yang biasa. Karya dan bukti fisik dikirimkan melalui pos untuk dinilai oleh tim penilai kenaikan pangkat. Ketika pandemi, semua kegiatan penilaian kenaikan pangkat tidak bisa dilakukan karena harus menjalankan protokol kesehatan Covid-19. Berkas yang sudah terkirim akhirnya menumpuk belum diproses.

 

Tri menggas agar penilaian kenaikan pangkat pengawas sekolah tetap berjalan secara daring. “Guru sudah melakukan, tinggal pengawas sekolah nanti kita akan mengusulkan cara-cara ini,” katanya.  

   

Dalam pegembangan profesi masa AKB, tema-tema pengembangan profesi pengawas harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nomor 4 Tahun 2020, tema-tema yang diambil dalam pengembangan profesi pengawas adalah tema sederhana yang membahas seputar PJJ dan BDR.

 

Tri menyontohkan hal sederhana pengembangan profesi di masa pandemi adalah melatih guru dan kepala sekolah secara virtual, dalam menggunakan aplikasi-aplikasi digital. Pengawas dapat membuat laporan dan melampirkan bukti pelatihan yang bisa diambil dari tangkapan layar. “Itu nanti sudah bisa menjadi karya pengembangan profesi pengawas,” kata Tri.

 

Tri menyarankan agar karya ilmiah didokumentasikan ke dalam dua bentuk, baik bentuk dokumentasi fisik maupun format file. Hal ini karena ia belum tahu kebijakan mana yang akan dipakai dalam penilaian pengembangakan profesi pengawas ke depan, apakah melalui daring atau luring. “Maka dengan demikian pengawas akan siap  dengan dua bentuk bukti fisik dan softcopy,” kata Tri.

 

Selain itu, Tri juga meminta para pengawas selalu membiasakan diri membaca panduan sebelum melakukan kegiatan. “Misalnya kenaikan pangkat online dan harus mengunggah berkas, saya berharap teman-teman pengawas bersedia membaca syarat dan ketentuan agar sesuai dengan panduan,” ujarnya.

 

Kegiatan pengembangan profesi pengawas tidak ada yang berubah. Semua aturan, jenis, dan sistematika masih sama dengan aturan sebelumnya. Perubahan terjadi hanya pada tata cara dan praktik pelaksanaan. “Kalau kemarin tatap muka, sekarang dilakukan dengan aplikasi-aplikasi digital dan online,” ujar Tri.

 

Pengembangan Profesi Masa AKB

 

Menurut Tri, pengembangan profesi pengawas di masa AKB dapat dilakukan melalui tema-tema sederhana yang bermanfaat bagi guru dan kepala sekolah. Tema-tema yang nantinya berdampak kepada siswa. Selain itu, ia mengingatkan bahwa pengembangan profesi pengawas hanya ada lima jenis karya ilmiah, yaitu buku, makalah, jurnal, best practices, dan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS).

 

Dalam karya ilmiah buku, baik buku hasil penelitian, gagasan atau terjemahan, bukti fisik yang bisa disiapkan dan disimpan pengawas dalam bentuk softcopy adalah dengan memindai cover buku lengkap dengan ISBN, identitas buku, dan daftar isi. Kemudian menyertakan file isi buku dengan lengkap.

 

Apabila tingkat nasional, buku karya ilmiah harus ada pindaian keterangan dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud atau BNSP. Sementara apabila buku terjemahan harus ada pindaian cover dari buku aslinya.

 

Untuk jurnal, baik jurnal gagasan, penelitian, terjemahan, termasuk jurnal daring, bukti fisiknya bisa dengan memindai cover pada jurnal. Sementara untuk jurnal daring bisa mengirimkan tautan jurnalnya untuk bisa dicek oleh tim penilai. “Silahkan scan cover jurnalnya. Jangan difoto dan masih dalam bungkusan plastik,” Tri menceritakan pengalamannya sebagai tim penilai.

 

Penyimpanan bukti fisik best practices dan makalah, penyimpananan ke dalam bentuk softcopy merupakan file makalah berisi identitas dan nama forum ilmiah di cover makalah, bukan powerpoint. Kemudian harus disertakan pula pindaian pengesahan Koodinator Pengawas Sekolah (Korwas), pindaian surat undangan sebagai pembicara, pindaian surat tugas dari atasan langsung, dan pindaian sertifikat atau piagam. Apabila forum ilmiah dilaksanakan di tingkat kabupaten/kota, pindaian daftar hadir peserta harus ikut disertakan dalam bukti fisik karya ilmiah.

 

Sementara dalam penyimpanan bukti fisik karya ilmiah best practices, file best practices yang telah disahkan oleh Korwas harus disertakan dalam berkas. Kemudian dimasukan juga pindaian surat pengesahan Korwas dan surat pengesahan dari salah satu perpustakaan binaan.

 

Selanjutnya dalam PTS, bukti fisik seminar bisa dilakukan secara daring melalui zoom meeting atau google meet. Demikian pula dengan pengambilan data bisa dilakukan dengan cara virtual melalui aplikasi-aplikasi digital. ”Jadi pengawas yang sudah mempunyai PTS dan belum sempat diseminarkan, seminarkan sekarang dengan menggunakan aplikasi digital. Bukti fisiknya bisa dengan foto dan daftar hadirnya bisa dengan google form kemudian dilampirkan,” Tri menjelaskan.

 

Kenaikan Pangkat Daring

 

Tri menuturkan, dalam kepangkatan online pengawas sekolah ada beberapa pertimbangan yang harus dilakukan oleh institusi pembina. Pertama, menyiapkan pedoman penilaian kenaikan pangkat online. “Tentu ini institusi pembina yang bertanggung jawab dibantu dengan teman-teman pengawas dan ahli untuk menyusun pedoman itu,” tutur Tri.

 

Kedua, adanya sosialisasi pedoman yang dilakukan secara terus menerus melalui media berbasis digital. “Kita tidak perlu mengundang pengawas ke Jakarta, tidak perlu menerjunkan tim penilai ke berbagai daerah, tetapi bisa dilakukan secara masif per regional, bisa barat, tengah, timur,” jelas Tri.

 

Ketiga, perlu adanya infrastruktur dalam menjalankan penilaian kenaikan pangkat pengawas, baik penilaian melalui daring maupun luring atau bahkan keduanya. “Andaikata penilaian online penuh, maka harus disiapkan sistemnya. Atau berkasnya diunggah secara online tapi menilainya secara offline,” tutur Tri memberikan pilihan-pilihan yang bisa dilakukan dalam penilaian kenaikan pangkat pengawas ke depan.

 

Keempat, perlu adanya penyiapan tim penilai melalui penyegaran bimbingan teknis secara virtual. Tri menambahkan, kegiatan ini dilakukan untuk menyamakan persepi antar sesama tim penilai dalam menghadapi masa pandemi ini.

 

Kelebihan Penilaian Angka Kredit Daring

 

Tri menjelaskan, jika sistem dalam Penetapan Angka Kredit (PAK) daring telah siap, ada sederet kelebihan yang bisa didapatkan. Pertama, pengiriman berkas tidak perlu lagi memakan biaya yang sangat mahal karena cukup mengunggah berkas secara daring menggunakan koneksi internet.

 

Kedua, berkas yang dikirmkan terjamin penyimpanannya sehingga tidak terselip atau tercecer disembarang tempat  seperti ketika pegiriman berkas secara luring. “Pengiriman offline ini ada bebeapa teman pengawas yang berkasnya terselip karena menumpuk, di PO BOX dan di direktorat,” terang Tri.

 

Ketiga, penyimpanan berkas secara daring tidak bertumpuk dan memakan tempat sehingga memudahkan ketika dicari. “Kadang-kadang yang mau pensiun mau dipilih oleh teman-teman merasa kesulitan karena harus ribuan berkas yang dipilih dari tumpukan,” kata Tri.

 

Keempat, mengunggah berkas yang bisa dilakukan secara bertahap sehingga bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja ketika ada jaringan internet dan sesuai dengan periode yang telah ditentukan. ”Tapi jangan pada saat-saat terakhir karena nanti kapasitas internetnya kalau semua masuk error,” tutur Tri.

 

Kelima, memudahkan dalam penilan karena bisa menilai kapan saja di mana saja selama ada koneksi internet. Bahkan penilaian bisa dilakukan ketika sedang melakukan kegiatan, baik ketika di mobil saat diperjalanan maupun ketika di bandara saat menunggu pesawat. “Seperti saya saat menjadi reviewer Ditjen Dikti, mereview proposal dosen seluruh Indonesia bisa dilakukan di mana saja karena sistemnya sudah siap,” kata Tri.

 

Keenam, mudah untuk dikoreksi karena berada dalam sistem sehingga bisa dikoreksi dengan mudah jika ada kesalahan penilaian. “Selama ini ketika berkasnya hardcopy ketika ada kesalahan kita harus membongkar lagi mencari lagi. Tetapi kalau sudah online nanti masuk dalam sistem kita akan mudah melakukan koreksi kalau ada kesalahan,” Tri menjelaskan.

 

Kekurangan Penilaian Angka Kredit Daring

 

Selain ada kelebihan, PAK daring juga memiliki kekurangan. Membangun sistem PAK daring memerlukan waktu, tenaga, dan dana  yang luar biasa karena sistem ini harus dirancang dengan baik agar sempurna saat digunakan. “Tetapi memang ketika di awal ada ketidaksempurnaan itu wajar,” tutur Tri.

 

Dalam membangun sistem PAK daring juga diperlukan penyiapan tim IT dan admin yang siap siaga dalam mengawasi sistem. Tim yang bisa membantu para pengawas yang menemui kesulitan ketika mengunggah berkas.

 

Dalam PAK daring sistem yang dibangun harus memiliki rentan waktu buka tutup unggah berkas yang otomatis agar sistem dan berkas yang diunggah bisa aman. “Rentan waktu kapan mengunggah berkas, kapan melakukan penilaian sehingga ketika close otomatis kita tidak bisa melakukan apa-apa,” ujar Tri.

 

Kekurangan lain dalam menggunakan sistem digital ini adalah sistem yang terkadang error. Bisa jadi karena server penuh karena banyak yang mengunggah berkas di waktu yang sama. Bisa juga disebabkan gangguan pada sistem jaringan aplikasi. “Oleh sebab itu, tim penilai dan pengawas jangan menilai pada menit-menit terakhir. Jangan mengunggah berkas pada menit-menit terakhir dari tanggal yang ditentukan karena akan error,” tutur Tri.

 

Selain itu, penggunaan PAK daring juga memerlukan server berkapasitas besar agar mampu menampung seluruh berkas unggahan yang dikirimkan pengawas. Tentunya perlu biaya yang tak sedikit agar server bisa menampung lebih banyak data. “Ini memerlukan biaya juga jadi tentu penyiapan-penyiapan perlu dilakukan,” kata Tri.

 

Tri meminta agar para pengawas memperhatikan pedoman dan tata cara pelaksanaan PAK daring ketika sistem ini siap. Pengunggah juga harus memperhatikan kualitas unggahan yang dikirimkan agar sesuai dengan kriteria dan syarat yang berlaku. “Jangan sampai dimintanya file pdf yang dikirimkan foto cover luar dengan bungkusan plastik sehingga tim penilai tidak bisa melihat,” tutur Tri.

 

Solusi PAK Masa Transisi

 

Ada beberapa solusi untuk mengatasi kekurangan yang terjadi dalam penerapam sistem PAK daring. Pertama, ketika menunggu sistem siap di masa transisi ini ia berharap agar PAK bisa dijalankan dengan mengunggah berkas secara daring dan dinilai secara luring. “Selama sistem itu dibangun dan belum jadi, sementara berkas sudah menumpuk  maka mungkin bisa melakukan penilain offline dengan memperhatikan zona,” terang Tri.

Kedua, pengawas yang berada di zona hijau yang melakukan kepengawasan tatap muka tetap akan dinilai oleh sistem. Begitu pun dengan pengawas yang berada di zona merah yanng melakukan kepengawasan secara daring akan tetap dinilai.

 

Ketiga, sekretariat harus memiliki tim IT yang bertugas khusus untuk menangani berkas unggahan. Tim IT yang siap sedia dan siaga dalam menangani sisten PAK daring ini sehingga ketika ada masalah atau kendala bisa dengan cepat terselesaikan.

 

Keempat, standar file yang diunggah harus dipatuhi sesuai ketentuan dan regional yang berlaku. “Kalau tidak memenuhi ketentuan atau menggampangkan mengunggah berkas akan terjadi kesulitan bagi tim penilik dan akhirnya tidak bisa dinilai,” kata Tri.

Artikel Terkait