KEPEMIMPINAN BERBASIS MERDEKA BELAJAR

Bagikan

oleh P3GTK

 

“Peran kepala sekolah dalam membina sekolah merupakan tiang sebuah sekolah. Kepala sekolah adalah learning leader agar sekolah itu berjalan. Kepala sekolah juga harus mempersiapkan seluruh komunitas sekolah dalam menghadapi tahun ajaran baru,” tutur Rosmayanti Mutiara, Kepala Sekolah Cikal, Serpong, Tangerang.

Menurut Rosmayanti, hadirnya covid-19 ini dapat dijadikan momentum membangun dan berinovasi terhadap proses belajar di tahun ajaran 2020/2021. “Tentunya kita bisa bertemu dalam acara webinar berkat adanya covid-19,” kata Rosmayanti, pembicara kedua pada Seri Webinar Guru Belajar bertema tema “Revitalisasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Merdeka Belajar”. Webinar diselenggarakan Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan GTK pada Kamis, 2 Juli 2020, pukul 09.00-11.00.

Di masa pandemi, pembelajaran yang biasanya konvensional dengan bertatap muka di sekolah sekarang harus menggunakan cara yang berbeda, baik itu daring maupun luring. Dengan kejadian ini banyak guru dan kepala sekolah mencari cara dan berinovasi dalam pembelajaran agar bisa tetap berjalan dengan baik. Contohnya menggunakan pembelajaran model daring kepada anak-anaknya. Masalahnya, sebagian guru merasa takut apabila pembelajaran yang disampaikan tidak bisa diikuti atau tidak bisa dipahami siswa. Sementara dari sisi anak-anak, mereka kesulitan dan bingung bagaimana berkomunikasi dengan guru.

Menurut Rosmayanti, selama masa pandemi guru harus mempersiapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar tidak hanya sekadar menyampaikan materi. Guru harus membuat sesuatu yang berbeda agar pemahaman dan belajar anak bisa lebih baik. Selain itu anak lebih senang ketika harus belajar dari rumah.

Program belajar dari rumah (BDR) yang sudah berjalan selama 3 bulan juga merupakan sebuah pengalaman dan acuan yang bisa digunakan untuk mempersiapkan diri di tahun ajaran baru. Apakah proses pembelajaran jarak jauh  ini sudah tepat dalam menghadapi Covid-19 ini. Sehingga ketika masuk tahun ajaran baru sekolah bisa lebih siap.

Dalam Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini, kata Rosmayanti, warga sekolah harus siap menghadapinya fase baru dengan bertransformasi dalam kebiasaan baru. Menjaga agar proses belajar mengajar bisa tetap berjalan dengan baik. Pimpinan sekolah dan jajarannya menghadapi kebutuhan sekolah agar bertransformasi menuju kebiasaan baru. “Kebiasaan baru dengan tetap menjaga merdeka belajar,” tuturnya.

Merdeka Belajar

Kebijakan merdeka belajar yang dicetuskan Mendikbud Nadiem Makarim, kata Rosmayanti, dinolai sesuai dengan kondisi saat ini. Selain karena dalam status pandemi, perkembangan teknologi sudah begitu maju pesat. Pada fase kenormalan baru, kata Rosmayanti, pimpinan sekolah dan jajarannya menghadapi kebutuhan sekolah untuk bertransformasi menuju kebiasaan baru dengan tetap menjaga merdeka belajar.

Di sekolah Cikal, sebelum pandemic covid-19, sudah merintis sebagai sekolah merdeka belajar yang sudah diterapkan sejak tiga tahun silam. Setidaknya ada lima hal, yang menjadi refleksi sekolah dalam menerapkan merdeka belajar, yakni: perubahan, mengenali perasaan, mengenali diri, bersiap, dan bergerak.

 

Sekolah harus berubah dan menggunakan media digital sebagai bagian dari model pembelajaran. “Kita juga harus melihat perubahan yang terjadi dalam peserta didik kita saat ini. Kita harus membantu menggali potensi anak secara maksimal,” ujarnya.

Rosmayanti juga menilai pandemi dapat dijadikan sebagai batu loncatan dimanfaatkan dengan baik dalam program merdeka belajar. “Saya sangat bersyukur dengan perubahan ini. Pada akhirnya kita bisa benar-benar membuat pembelajaran yang berpusat pada anak atau berpusat kepada murid,” kata Rosmayanti. Tujuan utama sekolah adalah perkembangan anak didik. Sekolah hanya pendukung. Sekolah hanya sebuah sistem yang membantu anak didik. Sehingga ketika perubahan terjadi sebagai pemimpinan sekolah harus tahu perasaan komunitas sekolah.

Perasaan, juga semakin dipercepat dengan adanya covid-19. “Apakah mereka sangat antusias dengan perubahan ini. Apakah perubahan ini bisa membuat pelajaran yang berpusat pada anak. Perasaan semua guru, pengajar, dan orang tua tentunya sangat berbeda-beda.  Inilah satu hal yang harus kita pahami sebagai pembina sekolah,” ujar Rosmayanti. 

Setelah mengenali perasaan warga sekolah, kepala sekolah harus mengetahui posisi sekolah. Bila ingin menjadi sekolah yang merdeka belajar, sekolah harus mempersiapkan guru yang merdeka. Sekolah juga harus melihat dan mempersiapkan apa saja yang diperlukan untuk membangun sekolah merdeka belajar.

 

Sekolah bisa memulai dengan melakukan percakapan antara guru, orang tua, dan komite. Hal lain yang perlu dilakukan adalah mendengarkan apa yang diinginkan anak-anak. Dengan begitu sekolah bisa mendesain seperti apa pembelajaran atau kurikulum yang diharapkan ke depan. “Sekolah juga bisa membangun kebiasaan kebiasaan baru. Membangun sebuah perubahan,” tuturnya.

 

Murid Merdeka

 

Menurut Rosmayanti, perubahan itu terjadi seandainya tidak ada pilihan. Namun ia percaya pilihan itu begitu banyak jumlahnya. Seseorang hanya perlu membuka cakrawala agar bisa mengetahuinya. Sekolah harus membuka jejaring antar sekolah serta membuka komunikasi dengan sekolah-sekolah lain. Memabangun hubungan dengan platform aplikasi pendidikan di luar sana serta melakukan kolaborasi yang dibangun bersama-sama.

 

Rosmayanti menyayangkan karena selama ini hal yang banyak dialami murid adalah menderita belajar, bukan merdeka belajar. Anak-anak hanya mendapatkan satu resep yang sama dan hanya fokusnya pada hasil dan kepatuhan murid. Menurutnya hasil pembelajaran bukanlah fokus utama pendidikan. “Kita harus bergerak menjadi sekolah yang merdeka belajar,” kata Rosmayanti.

 

Untuk menciptakan murid merdeka diperlukan kolaborasi seluruh komponen sekolah. Sehingga tercipta pembelajaran yang mampu membuat anak didik memiliki kompetensi dan personalisasi. “Tanda murid merdeka itu pendidikan bukan lagi berorientasi pada hasil tapi bagaimana kita menyiapkan segala sesuatu agar kompetensi anak berkembang,” Rosmayanti menambahkan.

 

Bagi Rosmayanti, ketika menjadikan kompetensi dan personalisasi sebagai tujuan utama hasilnya akan sangat beragam. Karena pembelajaran dilakukan sangat personal untuk setiap anaknya. “Tentunya sebagai sekolah yang merdeka belajar kita juga harus menjadi sekolah yang merdeka yang berkolaborasi. Baik itu guru kepala sekolah orang tua dan siswa,” ujar Rosmayanti.

 

Pada akhirnya, ketika merdeka belajar terwujud Rosmayanti berharap sekolah mampu menciptakan sekolah merdeka berkarya. Sekolah yang mencetak siswa dan  yang menghasilkan karya agar dapat digunakan oleh banyak orang. “Esensi dari merdeka belajar adalah menggali potensi terbesar para guru dan murid untuk berinovasi belajar secara mandiri,” tuturnya.

 

 

 

Jakarta, 2 Juli 2020

 

Direktorat P3GTK

Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

Situs web: p3gtk.kemdikbud.go.id

Facebook: dit.p3gtk.kemdikbud

Instagram: dit.p3gtk.kemdikbud

Youtube: P3GTK Kemdikbud

Twitter: P3GTK_Kemdikbud

Tag: webinar
Artikel Terkait