KEPEMIMPINAN, LEARNING MANAGEMENT SYSTEM, DAN BLENDED LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF MODEL MERDEKA BELAJAR

Bagikan

oleh P3GTK

Jakarta, Direktorat P3GTK, Kemendikbud--- SMK Negeri 11 Bandung, meski saat ini berada dizona kuning, sudah menyiapkan simulasi pembelajaran tatap muka terbatas pada tahun ajaran 2020/2021. Siswa yang hadir di sekolah hanya satu tingkat per minggunya, siswa tingkat lain pembelajaran daring. Minggu pertama yang hadir kelas 10, selebihnya pembelajaran daring. Minggu kedua giliran kelas 11 masuk sekolah, yang lain daring. Pada minggu ketiga, giliran kelas 12 yang masuk sekolah, selebihnya pembelajaran daring,” kata Dr Anne Sukmawati Kurnia Dewi, MMPd, Kepala SMKN 11 Kota Bandung, Jawa Barat.  

 

Anne menyampaikan makalah tentang persiapan sekolahnya pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ketika menjadi pembicara pada Seri Webinar Guru Berbagi edisi kelima yang diselenggarakan Direktorat Profesi Pendidik dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK), pada 7 Juli 2020. Webinar dilaksanakan secara marathon, sejak 30 Juni, mulai Senin hingga Kamis setiap pekannya, melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung di kanal Youtube P3GTK Kemdikbud.

 

Seri kelima webinar mengangkat tema “Kepemimpinan Pembelajaran, Learning Management System dan Blendid Learning sebagai alternatif Model Merdeka Belajar di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal).” Selain Anne, hadir pembicara lain yakni Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd (Guru Besar Universitas Negeri Medan), dan Drs. Nana Juhana, M.Pd (Kepala SMAN 90 Jakarta). Diskusi dipandu Dr. Martono, Analis Perencana, Evaluasi, dan Pelaporan, Dit. P3GTK, selaku moderator.

 

PENERAPAN KURIKULUM IMPLEMENTATIF BERBASIS KOLABORATIF

 

Pembelajaran tatap muka terbatas yang digagas SMKN 11 Bandung pada tahun ajaran baru nanti, tetap dipadu pembelajaran daring melalui Learning Management System (LMS) SCOLA. Kegiatan belajar mengajar di sekolah diutamakan praktik kejuruan dan diskusi. Sementara yang sifatnya teori dilaksanakan melalui LMS, grup WA, telegram, atau siswa mengunduh materi pembelajaran saat di sekolah, untuk dipelajari secara mandiri.

 

Guru di sekolah melaksanakan pembelajaran daring dan tatap muka sesuai jadwal. Setiap guru harus menyiapkan modul pembelajaran yang bersifat kolaboratif dan integratif. Misalnya memadukan antar-mata pelajaran produktif dengan mata pelajaran muatan lokal dan nasional.

 

“Kami juga ada kelas kolaborasi melalui LMS. Jadi tiap guru yang mengajar jadwalnya sudah terblok di LMS,” ujarnya. Oleh karena itu, guru SMKN 11 Bandung wajib memiliki kompetensi mumpuni yang mampu membuat bahan ajar, media pembelajaran, hingga strategi pembelajaran.

 

Selama tiga bulan masa pembelajaran di rumah, April-Juni 2020 lalu, Anne sudah melaksanakan pembelajarnan kolaboratif dan integratif. Guru mapel MGMP produktif bersatu membuat grup WA. Mereka membuat pemetaan kompetensi dasar (KD) yang beririsan, kemudian membahas materi, teknis, dan penugasan. Misalnya grup WA kolaborasi pembelajaran kelas 10 dan 11 jurusan BDP. Siswa menerima penugasan, dengan bimbingan penugasan oleh guru. Siswa melaporkan perkembangan tugas pekerjaan setiap hari Rabu dan Jumat pukul 9.00. Tahap selanjutnya guru memberikan penilaian.  Lihat: Persiapan Sekolah Menuju AKB Berbasis Blended Learning.

 

PARADOKS BERMULA DARI GURU

 

Prof. Syawal mengawali bahasan dengan memaparkan paradoks Indonesia. Menurut data BPS, ada 24,79 juta orang Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. “Angka yang cukup besar. Jumlah jumlah penduduk Sumatera Utara saat ini hanya 12 juta jiwa. Artinya penduduk miskin Indonesia dua kali lipat penduduk Sumatera Utara,” ujar Syawal.

 

Batas penghasilan masyarakat yang terbilang miskin di indonesia terbilang sangat rendah. Hanya Rp 440.538 per kapita per bulan. Kenyataan kemiskinan ini berbanding terbalik dengan potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Mengutip Buku World in Figure 2003, terbitan The Economist, Indonesia merupakan penghasil lada putih, lada hitam, karet alam, puli dari buah pala, karet sintetik, kayu lapis, teh, kopo, coklat dan kelapa sawit (CPO) merupakan terbesar di dunia, dan berada di peringkat teratas.

 

Paradoks luar biasa itu, kata Syawal, bermula dari bangku sekolah, yakni berawal dari beberapa situasi belajar yang dilakukan guru. Pertama, guru tidak memenuhi jadwal, hadir pun tidak. Kedua, walau guru hadir tetapi tidak tepat waktu. Ketiga, meski guru memenuhi jadwal dan hadir tepat waktu, tetapi materi pembelajaran tidak relevan. Keempat, ketika materi relevan, tetapi ketuntasan dan kedalaman materi tidak memadai. Kelima, guru tidak mengajar dengan sepenuh hati dan berbasis penyelesaian masalah. Keenam, tidak memperhatikan muridnya untuk mencapai standar kompetensi.

 

“Situasi pembelajaran inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab kemiskinan terjadi. Kalau 17 tahun lalu guru mendidik orang dengan baik, tidak mungkin ada 24 juta orang miskin itu,” kata Syawal. “Dengan segala hormat serta penghargaan yang luar biasa kepada para guru saya tak ingin menyalahkan siapa pun.”

 

Namun permasalahannya, Prof. Syawal melihat dari 44,6 juta siswa Indonesia saat ini hanya 25 persen yang bisa belajar dengan baik. Berbicara kualitas pendidikan Indonesia, artinya membahas kualitas manusia, mendiskusikan nasib 44,6 juta siswa Indonesia dari jenjang SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB, dengan tokoh utamanya adalah guru. “Seperti itulah konstruksinya kalau orang berbicara mulailah dari ujung,” kata Syawal. Lihat: Penguatan Inovasi Pembelajaran.

 

KETIDAKSIAPAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH

 

Sementara Nana Djuhana membawakan makalah berjudul “Kepemimpinan Pembelajaran: LMS dan Blendid Learning”. Menjelang tahun ajaran baru 2020/2021 setiap sekolah dituntut segera mempersiapkan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan baik dan tepat. Menurut Nana, setidaknya ada beberapa penyebab mengapa pencapaian key performance indicator (KPI) sekolah di tahun ajaran sebelumnya tidak maksmil.

 

“Di antaranya karena tenaga pengajar tidak memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan materi-materi pengajaran. Penerapan PJJ juga dilaksanakan mendadak sehingga guru tidak siap dengan proses pembelajaran,” katanya.

 

Penyebab lain, produktivitas dan inovasi kurang optimal dilakukan karena masih sedikit guru yang memperdayakan teknologi digital untuk pembelajaran. Sebagian besar guru belum mengetahui model PJJ yang efektif dan efisien. Ada juga ketimpangan kualitas SDM dan fasilitas tenaga pengajar di seluruh Indonesia. “Terutama dalam pengetahuan mengolah digital content untuk PJJ,” kata Nana.

 

Di sisi lain siswa dan orang tua masih bingung menggunakan berbagai macam aplikasi dalam PJJ. Mereka juga sering kali terkendala sarana dan prasarana, terutama kuota dan jaringan internet. “Ini menjadi masalah yang juga harus dihadapi oleh guru dan siswa dalam PJJ,” katanya.

 

Hasilnya, kata Nana, selama masa PJJ berlangsung banyak Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tidak terpenuhi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tenaga pengajar mengenai bagaimana mengemas materi pembelajaran dalam bentuk digital (Digital Content Creating). Lihat: Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar.

 

ANTUSIASME SESI TANYA JAWAB

 

I Made Rasta, S.Pd, M.Pd.H, Kepala SMKN 1 Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali, mengawali sesi tanya jawab. Juara 2 Kepala SMK Berprestasi Nasional 2019 ini menanyakan esensi mendasar dari blended learning dengan memadukan berbagai konten mata pelajaran produktif jika dihubungkan dengan pembelajaran daring berbasis project based learning. Menurut Anne, mencontohkan anak-anak kompetensi keahlian RPL dapat menghasilkan satu aplikasi dari beberapa Kompetensi Dasar (KD). Misalnya tugas membuat aplikasi warung online

 

“Tugas membuat proposal berdagang wirausaha online, misalnya, merupakan kumpulan dari beberapa KD produktif. Dimulai dari analisis pasar, sampai harganya. Misalnya di kelas multimedia, ada penugasan membuat video pembelajaran. Guru matematika bisa meminta tolong siswa membuat video pembelajaran. Di sinilah ada kolaborasi guru produktif dengan guru normatif,” kata Anne.

 

Prof. Syawal mengapresiasi pertanyaan tersebut. Menurutnya pembelajaran terbaik bukan berpusat pada siswa, tapi mengaktivasi sumber belajar. “Siapa yang bisa mengaktivitasi sumber belajar, dialah guru hebat, pembelajar yang hebat,” katanya.

 

Esensi blendid learning, karena menggunakan sumber daring dan luring, sumber belajarnya menjadi lebih banyak. Ketika siswa belajar berbasis projek, maka projek-projek sebelumnya dapat dilacak karena dapat berselancar di dunia maya. “Menggunakan sumber belajar digital, pastilah lebih cepat daripada belajar hanya dari satu sumber,” kata Syawal menambahkan.

 

Peserta webinar yang beruntung mengajukan pertanyaan adalah Ropin Sigalingging, MPd, pengawas sekolah pada Dinas Pendidikan Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Ia menanyakan cara mengukur efektivitas pembelajaran paikem secara daring. Menurut Prof. Syawal, untuk mengukur efektivitas pembelajaran dengan melihat produk belajar yang dihasilkan siswa saat pembelajaran daring. Bentuknya bisa keterampilan, program, atau dalam bentuk benda.

 

Untuk mengukur efektvitas LMS, setidaknya ada beberapa hal, di antaranya, apakah materi LMS lengkap; apakah rancangan proses di LMS dapat memungkinkan siswa mengunggah file, video, suara; apakah ada interaksi guru dan siswa; apakah penugasan guru ada tidak; apakah ada evaluasi yang terintegrasi dengan LMS. “Setidaknya ada tujuh pilar pembelajaran daring, yaitu sekolah punya kebijakan, panduan, siswa sudah siap, guru juga siap, memiliki LMS, help desk, dan didukung jaringan memadai,” kata Syawal.

 

Sementara Nasrullah SPS, dari SLBN Pembina Aceh, meminta penjelasan tentang penerapan pembelajaran daring untuk siswa tunagrahita. Menurut Prof. Syawal, pembelajaran daring untuk siswa SD saja masih berat. Di negara maju pun, pembelajaran daring efektif pada tingkat perguruan tinggi. “Namun memamg pembelajaran tidak boleh berhenti saat pandemi. SLB dapat menyiapkan simulasi pembelajaran, berupa video simulasi. Guru merekam berbagai simulasi pembelajaran, kemudian diputar oleh siswa di rumah,” kata Syawal.

 

 

 

 

Jakarta, 7 Juli 2020

 

Direktorat P3GTK

Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

Situs web: p3gtk.kemdikbud.go.id

Facebook: dit.p3gtk.kemdikbud

Instagram: dit.p3gtk.kemdikbud

Youtube: P3GTK Kemdikbud

Twitter: P3GTK_Kemdikbud

Tag:
Artikel Terkait