KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN: MERDEKA BELAJAR, MERDEKA MENGAJAR

Bagikan

oleh P3GTK

Zaman terus berubah, teknologi pun semakin berkembang. Dunia pun memasuki era revolusi industri 4.0 menandai berubahnya teknologi di dunia kerja. Manusia dipaksa hidup di dua dunia, yakni dunia nyata dan dunia virtual. Internet of things yang merupakan ruh di era digital saat ini mengkondisikan manusia secara personal dan komunal menjadi sangat bergantung kepada teknologi digital yang semakin hari semakin beraneka ragam dan menambah wawasan.

 

“Jika tidak menjadi SDM industri 4.0 yang cerdas, maka kita bisa jadi akan menjadi korban pelengkap penderitaan,” kata Drs. Nana Djuhana, M.Pd, Kepala SMAN 90 Jakarta. Nana menjadi pembicara ketiga pada Seri Webinar Guru Berbagi yang memasuki jilid kelima, pada Selasa, 7 Juli 2020. Seri Webinar diselenggarakan Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK), melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud.

 

Menurut Nana, adanya pandemi covid-19 mendorong teknologi digital kian dipelajari, khususnya oleh para guru. Guru memaafaatkan teknologi digital sebagai media pembelajaran selama program belajar di rumah.

 

Prosedur Pembelajaran Tatap Muka

 

Berdasarkan surat keputusan bersama (SKB) empat menteri: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri, pembelajaran pada masa kenormalan baru ditentukan berdasarkan zona. Bagi sekolah yang berada di zona merah, orange, dan kuning dianjurkan melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Sementara zona hijau bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka secara terbatas.

 

Melalui  SKB tersebut, ada beberapa prosedur yang harus sekolah lakukan ketika pembelajaran tatap muka dilaksanakan. Mulai dari mengatur ruang kelas dengan menerapkan jarak 1,5 m dengan jumlah siswa maksimal 18 orang per kelas. Untuk jumlah hari tatap muka ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mengutamakan kesehatan dan keselamatan. Sekolah juga harus memperhatikan kondisi kesehatan warga sekolah. Apabila ada yang memiliki penyakit penyerta, warga sekolah harus dalam kondisi terkontrol dan tidak memiliki gejala Covid-19.

 

Sekolah juga tidak diperkenankan membuka kantin, siswa dan warga sekolah disarankan membawa bekal makan dan minuman sendiri. Warga sekolah diwajibkan menggunakan masker 3 lapis dan selalu mencuci tangan menggunakan sabun. Warga sekolah diwajibkan selalu menjaga jarak aman. Untuk seluruh kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler yang bukan bagian dari pembelajaran tidak diperbolehkan.

 

Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar

 

Menjelang tahun ajaran baru 2020/2021 setiap sekolah dituntut segera mempersiapkan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan baik dan tepat. Menurut Nana, setidaknya ada beberapa penyebab mengapa pencapaian key performance indicator (KPI) sekolah di tahun ajaran sebelumnya tidak maksmil.

 

“Di antaranya karena tenaga pengajar tidak memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan materi-materi pengajaran. Penerapan PJJ juga dilaksanakan mendadak sehingga guru tidak siap dengan proses pembelajaran,” katanya.

 

Penyebab lain, produktivitas dan inovasi kurang optimal dilakukan karena masih sedikit guru yang memperdayakan teknologi digital untuk pembelajaran. Sebagian besar guru belum mengetahui model PJJ yang efektif dan efisien. Ada juga ketimpangan kualitas SDM dan fasilitas tenaga pengajar di seluruh Indonesia. “Terutama dalam pengetahuan mengolah digital content untuk PJJ,” kata Nana.

 

Di sisi lain siswa dan orang tua masih bingung menggunakan berbagai macam aplikasi dalam PJJ. Mereka juga sering kali terkendala sarana dan prasarana, terutama kuota dan jaringan internet. “Ini menjadi masalah yang juga harus dihadapi oleh guru dan siswa dalam PJJ,” katanya.

 

Hasilnya, kata Nana, selama masa PJJ berlangsung banyak Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tidak terpenuhi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tenaga pengajar mengenai bagaimana mengemas materi pembelajaran dalam bentuk digital (Digital Content Creating).

 

Hasil Persepsi Anak

 

Menurut Nana, ada fakta yang perlu dicermati berdasarkan survei pembelajaran di rumah yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Sebanyak 59 persen anak merasa tidak senang karena metode pembelajaran belum sesuai. Kemudian ada 38 persen anak menyatakan sekolah belum memiliki program yang baik dalam penerapan belajar di rumah.

 

Anak-anak berharap pembelajaran dari rumah dilakukan denganmenggunakan komunikasi dua arah. Mereka juga berharap pembelajaran berlangsung secara efektif dengan penjelasan materi yang maksimal. Sementara untuk tugas para siswa menginginkan tugas yang kreatif, bukan hanya sekadar tanya jawab.

 

Solusi untuk Sekolah

 

Dalam menghadapi PJJ, kata Nana, sekolah harus mempersiapkan ekosistem manajemen sekolah terintegrasi dan mempersiapkan teknologi pendidikan. Melalui sistem ini kepala sekolah, guru, murid dan orang tua terhubung secara digital dan tatap muka. “Dengan begini, maka ke depannya, sekolah akan mampu menjawab tantangan Industri 4.0,” tutur Nana.

 

Menurut Nana, ada empat kunci yang bisa dilakukan sekolah dalam melaksanakan PJJ. Pertama, sekolah menggunakan sistem administrasi digital untuk mengurangi beban kerja guru dan admin. Kedua, sekolah membantu guru agar menguasai teknologi digital sehingga PJJ bisa berjalan dengan efektif dan efisien. Ketiga, memberikan materi yang edukatif dan kreatif pada anak didik. Materi belajar yang menarik dan fleksibilitas waktu secara daring dan luring. Keempat, sekolah dan guru harus mempermudah siswa dan orang tua dalam menggunakan aplikasi yang terpadu.

 

 

Jakarta, 7 Juli 2020

 

Direktorat P3GTK

Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

Situs web: p3gtk.kemdikbud.go.id

Facebook: dit.p3gtk.kemdikbud

Instagram: dit.p3gtk.kemdikbud

Youtube: P3GTK Kemdikbud

Twitter: P3GTK_Kemdikbud

Tag:
Artikel Terkait