Konsep "Harmoni" Untuk Memahami WellBeing Siswa

Bagikan

oleh DS

Dalam tataran global, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) telah mencantumkan kriteria mengenai wellbeing pada tahun 2013. Pada 2014, OECD juga telah menerbitkan buku yang mengkaji wellbeing. Dalam buku tersebut bahkan disebutkan bahwa pembicaraan manusia tentang wellbeing sudah dilakukan pada tahun 1820.

 

”Itu artinya sudah 200 tahun lalu manusia membicarakan mengenai wellbeing,” kata Weilin Han, M.Sc., Konsultan Pendidikan Bidang Pembelajaran Direktorat Jenderal GTK, ketika berbicara dalam Seri Webinar Guru Belajar episode ke-13 pada Selasa, 21 Juli 2020.

 

Seri Webinar diselenggarakan secara maraton oleh Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK) sepanjang bulan Juli 2020. Webinar dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis, pukul 09.00-11.00 melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud. 

 

Pada tahun 2015, United Nations Development Programme (UNDP) menggunakan wellbeing sebagai salah satu tujuan global PBB untuk memastikan kehidupan yang sehat serta mempromosikan wellbeing di semua usia, dan untuk semua.  “Jadi bukan masalah miskin atau kaya, bukan masalah ada di daerah pelosok atau perkotaan. Semua berhak untuk bahagia,” kata Wei.

 

Di Indonesia sendiri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, menyampaikan wellbeing sebulan setelah dilantik sebagai Mendikbud. Tepatnya dalam kegiatan Simposium Internasional Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah, pada 30 November 2019.

 

Menurut Wei, wellbeing tidak dapat didefinisikan sebagai rumusan yang baku karena wellbeing adalah sebuah proses konstruksi keadaan seseorang secara menyeluruh dan berkelanjutan, untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Wellbeing adalah proses rekonstruksi keadaan yang secara menyeluruh dan berkelanjutan yang terus menerus untuk menjadi manusia yang seutuhnya.

 

Rujukan Wellbeing

Menurut Wei, terdapat banyak rujukan yang dapat digunakan oleh pengawas sekolah maupun kepala sekolah dalam menciptakan wellbeing student. Dalam dokumen yang diterbitkan OEDC, Transformative Competencies 2003, terdapat kompetensi-kompetensi yang perlu dicapai untuk menuju wellbeing di tahun 2030.

 

Salah satu buku yang menjadi rujukan Wei dalam wellbeing adalah the PROSPER School Pathways for Student Wellbeing Policy and Practices. Buku ini berisi kebijakan dan praktik wellbeing. “Sudah tiga tahun saya gunakan sebagai rujukan, karena tertuju langsung pada kebijakan dan praktik” ujar Wei.

 

Dalam buku ini, rumusan PROSPER merupakan singkatan dari Positivity, Relationship, Outcome, Strength, Purpose, dan Engagement. Konsep PROSPER diadaptasi oleh Program Jabar Masagi yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi HARMONI. HARMONI merupakan akronim dari Hasil yang berproses, Andal berdaya lenting, Relasi yang positif, Makna dalam tujuan, Orientasi sikap positif, Nilai sesuatu kekuatan, Inisiatif yang melibatkan.

 

”Konsep orang Sunda atau orang Jawa, wellbeing bermakna bagja dalam bahasa Sunda, dan bagyo di bahasa Jawa, yang artinya bahagia,” tutur Wei.

 

Hasil Berproses

Menurut Wei, hasil yang berproses bukan sekadar ulangan maupun ranking di kelas. Hasil berproses adalah mengajak untuk mengidentifikasi tujuan apa yang diharapkan oleh anak-anak. Kemudian mengajak anak membayangkan hasil yang akan diraih. Selanjutnya melakukan identifikasi pada tantangan yang akan terjadi. Terus ajak murid-murid di dalam kelompok maupun komunitas untuk berpikir, mencari cara untuk menyelesaikannya. ”Yang didampingi adalah prosesnya. Bukan sekadar hasil,” kata Wei.

 

Wei juga mengajak peserta untuk membayangkan praktik “hasil berproses” yang baik, yang dilakukan di sekolah binaan.  Mulai dari identifikasi tujuan dan membayangkan hasil yang terjadi. Kemudian identifikasi tantangan serta rencana penanganannya.  

 

Wei mencontohkan, identifikasi tujuan atau gol dan membayangkan hasil yang terjadi adalah seperti menginginkan sekolah yang bersih tanpa adan tenaga kebersihan sekolah. Tantangannya adalah diri sendiri yang masih belum bisa menjaga kebersihan.

 

Andal Berdaya Lenting

Semua orang termasuk pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, pasti memiliki masalah. Yang terpenting adalah bagaimana cara mengatasi masalah. Belajar bagaimana menghadapi kekhawatiran dengan pemikiran-pemikiran yang logis. Mengganti pikiran-pikiran negatif yang berasal dari rasa takut menjadi pemikiran positif, serta menjaga jarak dari pengaruh emosi. “Atasi kekhawatiran kita ini termasuk di sekolah binaan tadi,” kata Wei.

 

Untuk itu, “Andal berdaya lenting” adalah cara untuk menciptakan anak yang andal, sama seperti busur yang ketika semakin dilentingkan, semakin kuat menghasilkan lontaran anak panah. Dengan  begitu, ketika anak menemui masalah mereka bisa mengadapinya.  “Tidak baperan, dan mengajak anak terus mencoba,” ujar Wei.

 

Agar anak andal dan berdaya lenting, anak harus ditemani dan diberi pengharapan yang optimistis. Mengajarkan mereka menghadapi kekhawatiran dengan pemikiran-pemikiran yang logis, serta menemani mereka mengatur jarak dari emosi yang negatif.  “Ajarkan untuk berpengharapan dan optimis, kita sedang mengajarkan anak-anak kita untuk masa depan,” ujarnya.

 

Relasi yang Positif

Relasi yang positif antara guru dan siswa adalah hubungan baik yang terjadi antarkeduanya. Bukan karena rasa takut, melainkan rasa hormat dan apa adanya. Apabila terjadi konflik perbedaan pendapat antara guru-siswa merupakan hal biasa. “Yang terpenting adalah bagaimana guru dapat memberikan dukungan ke murid sehingga murid tidak tergantung,” kata Wei.

 

Relasi yang positif terbentuk dari ketergantungan murid kepada guru menjadi rendah. Alasannya karena mereka bisa mandiri, tanpa harus menunggu perintah oleh gurunya. Untuk itu, guru harus hadir memberi dukungan kepada siswa yang memiliki konflik. Guru mendukung sikap siswa yang saling menghargai dan bisa mengatasi konflik sendiri sehingga mereka bisa bergantung kepada dirinya sendiri, bukan orang lain.

 

Makna dalam Tujuan

Setiap orang lahir di dunia untuk tujuan yang lebih besar. Maka sekolah sudah seharusnya mendampingi murid. Guru harus mampu berpikir jangka panjang. Bukan hanya sekadar tentang gelar maupun pekerjaan. “Bukankah kita percaya bahwa manusia itu baru bernilai kalau bermanfaat untuk sesamanya,” ujar Wei.

 

Sekolah harus membuktikan tindakan dan komitmen untuk mendampingi dan memberikan motivasi tinggi lewat kegiatan-kegiatan kecil yang bermanfaat, yang bisa meningkatkan motivasi anak sehingga anak menjadi pribadi yang terbaik di dalam diri mereka. “Dengan begitu mereka memiliki tujuan jangka panjang dari hal-hal yang kecil,” ucap Wei.

 

Orientasi Sikap Positif

Untuk menciptakan orientasi sikap positif, sudah seharusnya sedari kecil anak-anak dibiasakan dengan melakukan beragam kegiatan yang memiliki orientasi positif. Baik itu belajar, bermain, maupun  bergurau dengan cara yang positif. “Ingat ada banyak humor, tapi yang positif, yang tidak merendahan orang lain. Humor yang bisa diterima oleh semua kalangan,” Wei menuturkan.

 

Nilai Sesuatu kekuatan

Menurut Wei, setiap anak-anak siapa pun dan dari mana asal mereka, mau miskin atau kaya, dari kota atau daerah semua memiliki kekuatan. Kekuatan yang terdiri dari kemampuan, karakter, harga diri, dan pola menghargai. “Inilah nilai sesuatu kekuatan,” ujar Wei. 

 

Inisiatif yang Melibatkan

Untuk bisa mewujudkan wellbeing, Wei mengingatkan agar semua pihak melibatkan banyak orang, baik secara kognitif, emosi, perilaku, dan sosial. Sekolah melibatkan banyak pihak untuk bisa bersama-sama bergotong-royong menciptakan wellbeing. Tanpa membeda-bedakan etnis dan agama. “Kita saling menghargai dalam keberagaman. Karena wellbeing itu bisa dicapai apabila semua menghargai keberbedaan,” Wei menjelaskan.

Artikel Terkait