Memahamkan Wellbeing's Student Bagi Kepala Sekolah Dan Guru Binaan

Bagikan

oleh DS

Konsep wellbeing yang dikemukakan  Carol D. Ryff tentang Psychological wellbeing, hampir sama dengan konsep yang dikemukakan oleh beberapa tokoh psikologi lain,  seperti  Maslow tentang aktualisasi diri dan Rogers tentang orang yang berfungsi  penuh (fully-functioning person).

 

Begitu juga konsep yang dikemukakan Neugarten, wellbeing bermakna tentang kepuasan hidup dan pandangan. Sementara konsep Allport yang dikemukakan Johada dan konsep Erikson untuk menggambarkan individu yang mencapai integrasi dibanding putus asa, wellbeing bermakna kematangan, kriteria positif individu yang bermental sehat.

 

“Dari sekian konsep yang dikemukakan para tokoh, ada enam aspek menarik yang dikemukakan Carol D. Ryff dalam Psychological Well-being,” kata Prof. Syawal Gultom, M.Pd., ketika membuka sesi pertama Seri Webinar Guru Belajar episode ke-13, pada Selasa, 21 Juli 2020.

 

Seri Webinar diselenggarakan secara maraton oleh Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK) sepanjang bulan Juli 2020. Webinar dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis, pukul 09.00-11.00 melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud. 

 

Aspek Wellbeing Siswa

 

Keenam aspek wellbeing siswa yang dimaksud Prof Syawal meliputi: 1) Merealisasi dan pencapaian penuh dari potensi individu di mana individu dapat menerima masa lalunya dengan segala kelebihan dan kekurangannya (self acceptance); 2) Menunjukkan sikap mandiri (autonomy); 3) Mampu membina hubungan yang positif dengan orang lain (positive relation with others); 4) Dapat menguasai lingkungannya (environmental mastery); 5) Memiliki tujuan dalam hidup (purpose in life); dan 6) Mampu mengembangkan pribadinya (personal growth).

 

Menurut Syawal, siswa yang hebat adalah siswa yang mampu menerima dirinya dengan segala potensi tanpa perlu menjadi orang lain. Siswa yang tahu betul dan yakin akan dirinya, bahwa Tuhan memberikan potensi kepada dirinya. Jadi tidak perlu menjadi orang lain.

 

Ciri siswa bahagia memiliki kemandirian, baik mandiri untuk berpikir maupun mandiri untuk bertindak. Ia memiliki nalar kritis yang mampu menganalisis dan menetapkan sesuatu. Siswa wellbeing juga bersikap positif terhadap orang lain. Aspek ini merupakan faktor penting karena di mana pun sistem pendidikan akan mengembangkan tentang jawab yang bermula pada sikap positif. “Yang paling mahal itu respect to other atau respect with other, karena begitu kita respek pada orang maka orang lain pun akan respek pada kita,” kata Syawal, yang juga Guru Besar Universitas Negeri Medan.

 

Aspek wellbeing berikutnya yang harus dimiliki siswa adalah kemampuan bersosialisasi atau menguasai lingkungan. ‘Siswa juga harus memiliki tujuan dalam hidup yang jelas sehingga mampu mengembangkan diri pribadi. Inilah konsep wellbeing menurut Carol D. Ryff,” kata Syawal.

 

Enam aspek ini tersebut harus dikembangkan kepala sekolah dalam membangun siswa. Kepala sekolah memiliki jiwa pemimpin dalam pembelajaran (instructional leader). Untuk itu kepala sekolah harus menguasai empat konteks, yakni: 1) Konteks kekinian pendidikan Indonesia dan negara lain; 2) Konteks dan perspektif pengembangan profesi guru; 3) Konteks kekinian suasana pembelajaran di sekolah; dan 4) Konteks kekinian kompetensi lulusan untuk semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan Indonesia.

 

Syawal juga menambahkan wellbeing siswa yang sesuai kondisi di Indonesia, meliputi: 1) selalu berdoa menyandarkan diri kepada Tuhan; 2) ikhlas; 3) belajar terus setiap hari; 4) kerja keras; dan 5) mempunyai rencana.

 

Memulai dari Akhir

 

Syawal juga mengutip salah satu konsep yang diusung Stephen R. Covey dalam bukunya berjudul The 7 Habits of Highly Effective People. Yakni konsep “Begin with the end in mind”. “Jadi jangan pernah memulai dari awal. Tapi mulailah dari akhir,” kata Syawal, yang pernah menjabat Kepala BPSDMPK-PMP, lembaga eselon I sebelum ada Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan.

 

Menurut Syawal, jika memulai dari awal belum tentu sampai hingga akhir, tetapi ketika mulai dari akhir kita tahu ingin seperti apa. Oleh karena itu, kaitannya dengan wellbeing siswa, kepentingan siswa adalah tujuan dari pendidikan. “Pertanyaannya, mau dijadikan apa siswa ini. Apa pandangan guru terhadap siswa?” kata Syawal.

 

Agar menjadi wellbeing, siswa harus menjadi fokus dalam dunia pendidikan bukan lagi tentang kepentingan pribadi. Siswa harus dipastikan menjadi fokus yang utama dan mendapatkan perhatian yang lebih dalam sistem pendidikan Indonesia. “Itulah yang seperti dikatakan Mas Menteri, mengutamakan siswa,” katanya.

 

Berbicara siswa diperlukan guru. Gurulah yang membantu siswa belajar karena tanpa guru siswa tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan di masa pandemi ini rumah harus menjadi sekolah sehingga orang tua pun harus menjadi guru. “Ke depan pasca Covid-19 mari kerjasama antara sekolah dan orang tua,” ujar Syawal.

 

Dalam menjalankan wellbeing student diperlukan kepala sekolah sebagai pemimpin yang sangat menentukan ke mana arah sekolah. “Sekolah adalah kepala sekolah itu sendiri. Bagaimana dia memahami wellbeing student dan students wellbeing,” kata Syawal.

 

Selain itu agar kepala sekolah dan guru mampu memahami wellbeing student perlu peran penting pengawas sekolah dan kepala dinas Pendidikan sebagai orang yang memahami dan mengawal pendidikan. Dibutuhkan paling tidak 30.000 pengawas sekolah dan kepala dinas. “Guru, kepala sekolah, pengawas sekolah dan kadisdik. Inilah orang-orang penting di republik ini yang mengawal pendidikan itu,” Prof. Syawal menegaskan.

 

Oleh karena itu, kepala dinas harus bisa menjadi narasumber bagi pengawas sekolah. Pengawas menjadi narasumber bagi kepala sekolah dan guru. Sementara kepala sekolah adalah motivator bagi guru. Begitu pun dengan guru, mereka harus menjadi narasumber dan motivator bagi siswa. Sehingga ketika siswa bertanya kepada guru, mereka mendapatkan jawaban dari gurunya. Kemudian ketika guru bertanya kepada kepala sekolah bisa menjawab dengan benar.

 

“Artinya, jangan pernah menyamakan kompetensi siswa dengan guru karena kompetensi guru lebih luas dari siswa. Ini juga berarti bahwa kompetensi kepala sekolah harus lebih besar daripada guru. Kepala sekolah harus tahu seluruh kompetensi siswa. Kompetensi pengawas dan kepala dinas harus lebih luas lagi,” katanya.

 

Menurut Syawal, idealnya kepala dinas merupakan pengawas terbaik. Pengawas merupakan kepala sekolah terbaik. Kemudian kepala sekolah adalah guru terbaik, dan guru adalah siswa terbaik. “Jangan pernah menjadi kepala sekolah kalau bukan guru terbaik, karena tidak bisa mencontohkan. Jangan pernah menjadi guru kalau bukan siswa terbaik, karena dia tidak bisa mencontohkan,” Syawal mengingatkan.

 

Tujuan Akhir Pendidikan

 

Berdasarkan Pasal 3 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,   tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, berilmu, kreatif, dan mandiri. Sehingga nantinya menjadi pribadi yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

“Berarti sekolah harus memberi latihan tanggung jawab, memberikan siswa kesempatan untuk melatih dirinya bertanggung jawab, cakap berilmu, kreatif dan mandiri,” kata Syawal. Sebagai tujuan akhir dari pendidikan, siswa yang datang ke sekolah diharapkan menjadi pembelajar yang sukses dan menjadi individu yang percaya diri. Siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab serta menjadi kontributor peradaban yang efektif. Apabila anak-anak Indonesia menjadi pelajar yang sukses ketika zaman berubah dia akan bisa bertahan.

 

Untuk itu agar menghasilkan siswa pembelajar yang sukses, lanjut Syawal, dibutuhkan guru yang profesional yang memiliki pesona dan panggilan jiwa. Guru yang mampu mengajar dengan sepenuh hati dan murah hati serta memiliki tujuan pembelajaran yang mampu meningkatkan pola berpikir tingkat tinggi. Guru yang profesional juga harus mengetahui hasil pembelajaran yang dilakukannya serta bisa merancang pembelajaran berbasis TPACK dengan  melakukan pembelajaran aktif yang mendidik. Selain itu, guru harus melakukan asesmen yang baik dengan umpan balik dan memiliki kesadaran akan CPD.

 

Syawal menyebut, salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan lulusan siap memasuk ke dunia kerja agar memiliki kehidupan layak. Namun ada sebuah proses panjang bagaimana siswa lulusan bisa masuk ke dunia kerja. “Kalau belum kita benahi sumberdaya, manajemen, dan kepemimpinan, jangan berbicara proses teaching learning,” ujarnya.

 

Kondisi Indonesia Berawal dari Kelas

 

Syawal juga memaparkan kegelisahannya tentang pardoks kondisi Indonesia. Data BPS mecatat ada sebanyak 24,79 juta orang Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Batas penghasilan masyarakat yang terbilang miskin pun terbilang sangat rendah, hanya Rp 440.538 per kapita per bulan. “Dipasang rendah pun angka kemiskinan kita masih 24 juta juga, begitu banyak,” katanya.

 

Kenyataan ini berbanding terbalik dengan potensi kekayaan alam Indonesia. Dalam Buku World in Figure 2003, terbitan The Economist, Indonesia merupakan peringkat atas penghasil lada putih, lada hitam, karet alam, puli dari buah pala, karet sintetik, kayu lapis, teh, kopo, coklat dan kelapa sawit (CPO), dan banyak komoditi lain.

 

Menurut Syawal, ada paradoks luar biasa antara kemiskinan dan kekayaan alam Indonesia. Meminjam ungkapan Presiden Amerika Serikat Kennedy: What’s wrong in our classroom? ketika melihat ada banyak orang miskin, teknologi tidak maju, Syawal menegaskan bahwa akar masalah kemiskinan berawal dari situasi belajar yang dilakukan guru. Pertama, guru tidak memenuhi jadwal, hadir pun kadang tidak. Kedua, walau guru hadir tetapi tidak tepat waktu. Ketiga, meski guru memenuhi jadwal dan hadir tepat waktu, tetapi materi pembelajaran tidak relevan. Keempat, materi relevan tetapi ketuntasan dan kedalaman materi tidak memadai. Kelima, meski materi sudah dalam, namun guru tidak mengajar dengan sepenuh hati dan berbasis penyelesaian masalah. Keenam, meski guru sudah mengajar dengan sepenuh hati, namun siswa tidak mencapai standar kompetensi.

 

Situasi  pembelajaran inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab kemiskinan terjadi. “Kalau 17 tahun lalu kita mendidik orang itu yang berpikir baik, tidak mungkin ada 24 juta orang miskin,” tutur Syawal. “Dengan segala hormat serta penghargaan yang luar biasa kepada para guru, saya tak ingin menyalahkan siapa pun.”

 

Permasalahannya, dari 44,6 juta siswa Indonesia saat ini hanya 25 persen yang dapat belajar dengan baik. “Hanya seperempat siswa, bagaimana siswa membangun negeri ini,” kata Syawal. Oleh karena itu, Syawal mengajak, agar terjadi perubahan dalam pendidikan Indonesia guru harus mengubah pola pikir, paradigma, dan cara pandang. “Jangan hanya sebatas untuk mencari materi, tetapi dengan tujuan ibadah dan mencerdaskan anak bangsa. Serendah-rendahnya, kalau tujuan guru hanya mengejar tunjangan profesi,” ucap Syawal.

Artikel Terkait