Membangun Budaya Kreasi Melalui Generasi Cinta Prestasi

Bagikan

oleh DS

Sebagai pengawas SMK, Dina Martha Tiraswati, M.Pd. menemukan sejumlah persoalan pada SMK binaan. Di antaranya kurangnya pemahaman jurusan atau peminatan pada siswa saat memasuki jenjang SMK/SMA, lulusan SMK melanjutkan studi atau bekerja tidak sesuai kompetensi; dan lingkungan sekolah tidak sepenuhnya mendukung budaya kreasi. 

 

Pengawas SMK pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini mengangkat praktik baik pada sekolah binaan sebagai makalah yang dipresentasikan pada Seri Webinar Guru Belajar episode ke-13, pada Selasa, 21 Juli 2020. Seri Webinar diselenggarakan secara maraton oleh Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK) sepanjang bulan Juli 2020. Webinar dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis, pukul 09.00-11.00 melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud. 

 

Makalah berjudul “Sekolah Membangun Budaya Kreasi Melalui Generasi Cinta Prestasi” merupakan best practices Dina Martha pada SMK Metland, Cileungsi, Kabupaten Bogor. SMK Merland memiliki Program Keahlian Perhotelan,Tata Boga, Multimedia, Akuntansi, Desain Komunikasi Visual dan Sistem Informasi Jaringan dan Aplikasi. Dian Martha telah membina SMK Metland dari awal didirikan pada tahun 2014.

 

Nilai-nilai Kependidikan

 

Dina Martha juga merumuskan pemecahan masalah ada sekolah binaan. Setidaknya pada empat hal, meliputi: 1)  visi misi sekolah yang mendukung proses merdeka belajar, untuk mewujudkan pelajar Pancasila; 2) Membangun ekosistem sekolah yang mendukung Weelbeing’s student dan memberikan peluang, kesempatan untuk siswa dalam mengeksplor dirinya dengan berbagai kreativitas; 3) Mempunyai struktur organisasi sekolah yang profesional serta meningkatkan hubungan dengan instansi terkait dan DU/DI; 4) Membangun kolaborasi, meningkatkan kesadaran kebinekaan global dan meningkatkan entrepreunership pada siswa agar lebih mandiri.

 

Berikutnya, Dina Martha menguatkan nilai-nilai kependidikan, baik kepada siswa dan juga guru dan kepala sekolah. “Sebelum melangkah kepada pembentukan karakter siswa, atau wellbeing siswa, harus dibekali dulu nilai-nilai kependidikan untuk gurunya,” kata Dina. Nilai-nilai kependidikan untuk guru dirumuskan dalam akronim METLAND SCHOOL, yang bermakna Model in integrity, Enthusiastic, Teamwork, Leadership, Action make it real, Notion, Dedication to service quality, Sincere, Creativity, Helpful, Optimistic, Ordinary teacher creates extraordinary people, dan Loving.

 

Sementara nilai-nilai kependidikan untuk siswa dirumuskan dalam “Generasi Cinta Prestasi”. Cinta yang perlu ditanamkan kepada siswa adalah cinta kepada Tuhan; cinta dan hormat kepada orangtua; cinta dan hormat kepada guru; cinta bangsa dan tanah air; cinta ilmu pengetahuan; cinta alam, lingkungan dan budaya; cinta sahabat dan sesama; cinta diri sendiri.

 

Sementara “prestasi” bermakna Percaya diri yang kuat; Riang dan selalu optimistis; Empati; Sehat jiwa dan raga; Tidak mudah menyerah dan putus asa; Amanah sebagai pemimpin; Siap menjadi pribadi mandiri; dan Inovatif dalam karya yang bermanfaat.

 

Dimensi wellbeing dirumuskan Dina ke dalam empat komponen, yakni having (kondisi sekolah), loving (hubungan sosial), being (pemenuhan diri), dan health (status kesehatan). Having, bermakna lingkungan sekolah merupakan tempat yang nyaman untuk belajar, pelayanan siswa yang baik dan menunjang proses belajar.

 

Loving bermakna lingkungan sosial belajar, hubungan guru, siswa dan dinamika kelompok. Iklim sekolah dan iklim belajar mempunyai dampak pada kesejahteraan. Being mengandung arti kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kreativitas siswa. Sementara health dimaknai ke dalam status kesehatan siswa mencakup fisik dan kesehatan mental selama menjalani kehidupan di sekolah.

 

Keberhasilan Wellbeing Siswa

 

Pada 2014, siswa SMK Metland yang hanya 27 anak, sebagian besar meneruskan untuk bekerja (60%). Sisanya meneruskan kuliah (25%) dan berwirausaha (15%). Pada tahun 2020, alumni SMK Metland yang kuliah meningkat menjadi 52%. Sisanya bekerja (44%), wirausaha (4%). Selain itu ada juga yang kuliah sambil bekerja (70%) dan kuliah sambil wirausaha. 

 

Dina mengilustrasikan ikan hiu yang dipelihara di akuarium tempat yang kecil, akan cenderung ukurannya tubuhnya tidak besar. Tetapi dilepas di lautan, hiu akan lebih besar badannya, kemampuan berenangnya juga lebih hebat. “Jadi, sekolah merupakan sarana yang potensial dalam membentuk karakter individu siswa melalui merdeka belajar dengan adanya kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif,” kata Dina.

 

Program sekolah harus dibuat secara utuh di mana ekosistem sekolah dapat mendukung proses implementasi dimensi wellbeing’s student. Sekolah dapat dijadikan sebagai wadah untuk mengeksplor keterampilan dan kreativitas yang menjadikan siswa lebih percaya diri, mandiri, diimbangi dengan prestasi akademis yang baik.

 

“Sekolah merupakan eleman yang penting dalam perkembangan individu di mana melalui generasi cinta prestasi dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila,” kata Dina.

Artikel Terkait