MEMBANGUN RUMAH DIGITAL APSI

Bagikan

oleh P3GTK

Rumah Digital Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI). Itulah yang digagas APSI menandai momentum pandemi covid-19 kala melanda di Tanah Air. “Pandemi merupakan momentum yang tepat dalam menjalankan perubahan. Transformasi dari pengawasan manual menjadi pengawasan digital.  Pengawas harus bisa memaksimalkan teknologi di masa pandemi ini,” kata Dr. Agus Sukoco, MM., Ketua Umum APSI.

 

Sukoco memaparkan gagasan Rumah Digital APSI ketika berbicara pada pada Seri Webinar Guru Belajar yang diselenggarakan Direktorat Profesi Pendidik dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan, pada 1 Juli 2020, melalui aplikasi zoom meeting dan disiarkan langsung di kanal Youtube P3GTK Kemdikbud.

 

Rencananya, Rumah Digital APSI akan terus dikembangkan ke depan. Rumah Digital APSI berisi data seluruh pengawas sekolah yang tersambung secara virtual berbasis teknologi digital. Semua pengawas sekolah memiliki portofolio digital. “Saya ibaratkan rumah digital ini virtuality-nya seindah realiti,” katanya.

 

Sukoco mendorong dan mengupayakan program-program bagi pengawas sekolah seluruh Indonesia di masa pandemi ini. Misalnya setiap Rabu dan Jumat pukul 13.00 hingga 16.00 WIB Rumah Digital APSI melaksanakan forum ilmiah pengawasan digital secara virtual. Kegiatan ini memaparkan banyak makalah ilmiah, best practices pengawasan sekolah. APSI sudah melatih lebih dari 2000-an guru yang sudah memasuki angkatan ke-19.

 

SIMPEL, HARMONI, DAN UNIK

 

Dalam webinar, Sukoco memaparkan makalah berjudul “Simpel, Harmoni, Unik”. Simpel, Harmoni, dan Unik merupakan model pengawasan. Simpel artinya sederhana dalam isi dan tampilan tapi memuat hal pokok, yakni tujuan, kegiatanm dan evaluasi. Simpel harus memiliki tujuan yang jelas arahnya seperti apa dalam membina guru. “Misalnya apabila di masa pandemi fokus tujuannya adalah kesehatan, kedisiplinan, keterampilan hidup, dan bagaimana anak-anak itu kreatif,” kata Sukoco.

 

Harmoni bermakna, pengawas sekolah harus menyatu dengan apa yang menjadi program Dinas Pendidikan. Pengawas sekolah meneruskannya kepada kepala sekolah dan guru. Ujungnya tentu adalah memberi banyak manfaat bagi siswa. “Semuanya harus harmoni. Ada keselarasan antara program guru, kepala sekolah, dan pengawas,” tuturnya.

 

Strategi kepengawasan juga unik karena setiap sekolah mempunyai masalah dan karakteristik yang berbeda. Strategi supervisinya pun berbeda. Ia mendorong pengawas sekolah mampu Menyusun program berbasis kinerja sesuai dengan kondisi saat ini. “Tidak lagi menggunakan berbasis dokumen dan administrasi. Semuanya merujuk apa yang mau dicapai anak-anak kita” kata Sukoco yang juga pengawas SMP pada Subdinas Pendidikan Jakarta Timur ini.

 

BERBASIS APLIKASI

 

Sebagai bagian dari perkembangan era digital, APSI telah mengembangkan pengawasan berbasis aplikasi. Mulai dari e-guru versi 1.0, e-pengawasan versi 5.0, hingga e-kepala sekolah versi 1.0. Aplikasi  untuk membantu tugas pengawas sekolah melakukan identifikasi masalah, kebutuhan, dan pengembangan. “Sampai membantu bagaimana kepala sekolah menyusun  best practices,” ujarnya.

 

 

Jakarta, 1 Juli 2020

 

Direktorat P3GTK

Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

Situs web: p3gtk.kemdikbud.go.id

Facebook: dit.p3gtk.kemdikbud

Instagram: dit.p3gtk.kemdikbud

Youtube: P3GTK Kemdikbud

Twitter: P3GTK_Kemdikbud

Tag:
Artikel Terkait