MENDORONG PENGAWAS SEKOLAH MAHIR APLIKASI DIGITAL

Bagikan

oleh DS

Berdasarkan data literasi digital pengawas sekolah yang dikeluarkan Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) pada Juni 2020, sebanyak 70 persen pengawas sekolah belum mampu mengoperasikan aplikasi digital. Sisanya, 20 persen tergolong mampu, dan hanya 10% yang sudah mahir menggunakan aplikasi digital. “Ini merupakan tantangan bagi kami organisasi profesi untuk terus mendorong teman-teman pengawas sekolah,” kata Dr. Agus Sukoco, MM., Ketua Umum Asosiasi Pengawas Seluruh Indonesia (APSI).

 

Agus Sukoco menyampaikan fakta tentang kemampuan mengoperasikan pengawas sekolah aplikasi digital pada Seri Webinar Guru Berbagi yang memasuki jilid keenam, pada Rabu, 8 Juli 2020. Seri Webinar diselenggarakan Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK), melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud. 

 

Menurut Agus, besarnya jumlah pengawas sekolah yang belum bisa menggunakan aplikasi digital disebabkan mereka berada di zona nyaman. Mereka terbiasa melakukan tugas dengan cara-cara konvensional hingga enggan mencoba hal baru. Di sisi lain pengawas sekolah kurang aktif dalam organisasi profesi APSI. Akibatnya beragam informasi yang disiarkan melalui organisasi profesi tidak mereka ketahui.

 

Penyebab lain, kata Agus, kurangnya kesadaran pengawas sekolah dalam melakukan investasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak pengawas merasa belum penting dan belum perlu menambah wawasan bidang teknologi. “Sehingga ketika masa pandemi ini mereka harus kita paksa melakukan investasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi,” tutur pengawas sekolah pada Subdinas Pendidikan Jakarta Timur.

 

Membangun Rumah Digital

 

Pandemi Covid-19 menjadi momentum tepat bagi APSI membangun aplikasi rumah digital sebagai wadah yang berisi aplikasi portofolio digital dan e-Pengawasan versi 5.0. Menurutnya, apa yang dikembangkan APSI merupakan bagian dari program kerja lima tahunan yang telah berjalan sejak tahun 2018.

 

Menurut Agus, pembangunan aplikasi berbasis digital sudah lama dirancang. Selain itu, kehadiran rumah digital merupakan solusi guna meningkatkan kinerja dan kecakapan pengawas sekolah dalam menggunakan teknologi digital. “Tahun 2020 ini kami terus melakukan sosialisasi pemanfaatan media digital. Karena bagaimana pun pengawas akan masuk ke dalam portofolio digital,” ujar Agus.

 

Dalam aplikasi portofolio digital ini nantinya, Agus berharap, berisi seluruh data pengawas sekolah. Mulai dari data kinerja hingga sekolah binaan. Semuanya terkumpul dalam satu ruang data yang bisa terpantau dan terhubung secara virtual. “Melalui aplikasi portofolio digital ini juga nantinya setiap pengawas akan memiliki satu akun dalam web APSI,” ujar Agus .

 

Oleh karena itu, APSI mendorong pengawas di seluruh Indonesia yang berjumlah 25 ribu orang agar bisa membangun data diri yang berkaitan dengan portofolio kepengawasan agar disimpan dalam aplikasi digital APSI.

 

Portofolio digital terdiri dari data diri, kinerja melalui e-pengawas dan organisasi profesi APSI. Dalam data diri berisi data yang tersimpan pada Dapodik dan Simtendik, prestasi dan karya, spsial kemasyarakatan, serta jaringan dan kolaborasi.

 

Agus menggambarkan, atap dari rumah digital merupakan organisasi profesi yang menaungi pengawas sekolah. Pilarnya merupakan kinerja yang dilakukan pengawas. Sedangkan data diri adalah pondasi yang menggambarkan karakter, kompetensi, dan prestasi tiap pengawas. “Kami berharap semua pengawas akan terhubung secara virtual melalui aplikasi ini,” kata Agus.

 

Lima Langkah e-Pengawasan

 

Aplikasi e-pengawasan versi 5.0 merupakan data kinerja pengawas sekolah. “Setelah membuat portofolio digital, pengawas sekolah akan mengaktualisasikan melalui aplikasi e-pengawasan ini,” tuturnya.

 

Setidaknya ada lima langkah pengaktualisasian aplikasi e-pengawasan, yaitu: Identifikasi Sekolah (masalah, kebutuhan, pengembangan), Sasaran Kerja Pegawai (hasil identifikasi dituangkan dalam SKP), Program Kerja (perencanaan, pelaksnaaan, dan evaluasi), Pengembangan Profesi (best practices, gagasan ilmiah, kreatif dan inovatif), dan Daftar Usul Penetapan Angka Kredit (DUPAK, secara otomatis tersambung mulai dari identifikasi, SKP, Program Kerja, dan Pengembangan Profesi).

 

Agus menerangkan, pengawas harus melakukan identifikasi sekolah berdasarkan masalah, kebutuhan, dan pengembangan. Tujuannya agar setiap pengawas mengetahui masalah dan kebutuhan sekolah yang dibinanya. “Tentu semua sekolah ingin berkembang. Nah pengawaslah yang akan mendampingi ke mana sekolah itu akan berkembang,” kata Agus.

 

Selanjutnya, setelah mengidentifikasi sekolah maka pengawas sekolah menuangkannya dalam bentuk program Sasaran Kerja Pegawai (SKP) yang kemudian dibuat menjadi program kerja yang sesuai dengan temuan-temuan di sekolah. “Inilah harapannya, semua pengawas akan mengaktualisasikan potensi dan kompetensinya ke dalam program kerja ini,” ujar Agus.

 

Dengan begitu pengawas sekolah menjadi pribadi kreatif dan inovatif yang memiliki gagasan ilmiah serta pengalaman baik yang bisa menjadi inspirasi. “Tentunya semuanya itu akan diteruskan dalam usulan kenaikan pangkat melalui Dupak,” tutur Agus.

Artikel Terkait