Mengawal Mutu Pembelajaran Di Masa Transisi -Pandemi Covid 19

Bagikan

oleh DS

 

Jakarta, Direktorat P3GTK, Kemendikbud--- Selama hampir empat bulan masa darurat pandemi covid-19 mempengaruhi tatanan yang sudah berjalan normal sebelum ini. Beberapa target dan beragam kegiatan yang biasa dilaksanakan sekolah harus banyak berubah, tidak hanya berkurang bahkan sebagian dihentikan.

Dr. Asep Tapip Yani, M.Pd., Ketua Umum Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) mengajak masyarakat untuk menormalkan diri meski dalam ketidak normalan. Karena menyamankan diri dengan ketidak nyamanan adalah cara beradaptasi dengan kebiasaan baru.

“Sekolah harus menyiapkan diri di tengah wabah yang penyebarannya begitu cepat dan tidak terdeteksi ini. Namun harus tetap menjaga kualitas pendidikan yang diberikan kepada siswa. Menjaga mutu itu kewajiban kita, karena anak-anak itu adalah masa depan kita,” ujar Asep Ketika menjadi narasumber pada Seri Webinar Guru Belajar: Kepala Sekolah dalam AKB Pasca-Pandemi Covid-19”. Kegiatan diselenggarakan Direktorat Profesi Pendidik dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan, pada 30 Juni 2020, melalui aplikasi zoom meeting dan disiarkan langsung di channel Youtube P3GTK Kemdikbud.

Dua Tantangan Sekolah

Menurut Asep, ada dua tantangan yang harus sukses dilaksanakan secara bersamaan oleh sekolah di masa pandemi. Pertama, sekolah harus sukses melakukan upaya pencegahan covid-19 dengan menjalankan protokol kesehatan. Di antaranya melakukan pembatasan jarak dan kebiasaan hidup bersih serta sehat agar terhindar dari virus.  Sekolah juga harus menerapkan bekerja dengan adaptasi kebiasaan baru (AKB) dalam normal baru bagi para guru. Bagi siswa, sekolah harus membiasakan mereka belajar dengan kondisi masa normal baru.

Tantangan kedua, sekolah harus sukses melaksanakan program sekolah sesuai dengan tahun ajaran. Tanpa merubah dan memundurkan tahun ajaran baru. “Ke depan kita pun akan menghadapi tahun ajaran baru dengan berbagai kegiatan. Maka seluruh program yang berkaitan dengan tahun ajaran baru harus disiapkan,” ujarnya.

Menurut Asep, para orang tua siswa menilai pembelajaran anak-anak mereka dari rumah. Bagaimana ketika anak tidak belajar dan guru pun tidak mengajar. Di sebagian sekolah swasta sampai menuntut keringanan pada pembiayaan sekolah. Padahal kenyataanya, baik siswa dan guru melakukan proses belajar mengajar.

Guru menyiapkan pembelajaran selama pandemi dan siswa melaksanakan tugas yang diberikan. “Guru menggunakan beragam cara agar pembelajaran tetap terjaga. Sehingga suksesnya program sekolah tetap diupayakan,” kata Asep.

Kebijakan yang Harus Diambil Sekolah

Sekolah harus menjamin terlaksananya upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Sekolah juga harus ikut mengampanyekan upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Baik secara lisan maupun melalui tulisan-tulisan menggunakan media sosial yang sudah tak asing lagi saat ini. Hal ini perlu dilakukan karena masih banyak orang tak acuh dengan pandemi meski telah dihimbau banyak pemangku kepentingan melalui berbagai media dan lembaga.

Asep menuturkan, sekolah harus melaksanakan protokol kesehatan dan membiasakan warga sekolah hidup bersih dengan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Seperti masker, face shield, hand sanitizer, disenfektan, dan tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya. Sesuai protokol kesehatan ruang kelas pun harus dirubah

Sementara itu untuk menetapkan model implementasi program sekolah, seperti PPDB, MPLS, PBM, keberlangsungan pembiayaan disesuaikan dengan kebijakan dan arahan pemerintah pusat maupun daerah. Setiap wilayah memiliki kebijakan yang berbeda terkait status pandemi Covid-19.

Meminimalisasi Pembelajaran Tatap Muka

Asep mencontohkan, ketika tahun ajaran baru semester ganjil pada Juli hingga Desember 2020, sekolah harus meminimalisasi pembelajaran tatap muka. Bahkan dapat juga kebijakan meniadakan pembelajaran tatap muka.  

Selama pandemi ini, Asep menghimbau sekolah agar pembelajaran bisa dilakukan secara daring dengan menggunaka media berbasis internet (daring) atau pembelajaran luring. “Indonesia ini sangat luas jadi tidak semua pembelajaran jarak jauh bisa daring. Apalagi di wilayah yang belum mendapatkan jaringan listrik dan internet,” uajrnya.

Praktik Berbasis Projek

Asep berharap pada semester genap pada Januari hingga Juni 2021, pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan dengan menggunaka protokol AKB. Menurutnya, sulit menghilangkan pembelajaran tatap muka untuk jenjang SMK karena berkaitan dengan praktik.

Namun demi kemanan dan keselamatan warga sekolah, dirinya akan mengikuti arahan dan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. “Jadi yang utamanya adalah bagaimana menyelamatkan generasi muda ini supaya tidak terpapar,” ujar Asep.

Asep juga berencana untuk tidak mengirimkan siswa mengikuti praktik kerja lapangan (PKL) ke Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Ia akan menggantinya dengan kerja praktik di sekolah dengan praktik berbasis proyek, produk, dan penyelesaian masalah. “Setelah selesai mereka juga mengalami apa yang dilakukan di lapangan,” kata Asep.

Sementara untuk model dan langkah-langkah pembelajaran yang diterapkan, Asep tidak ingin menyeragamkan. Guru memiliki pilihan dan model sendiri dalam mengajar yang telah mereka kuasai. “Sehebat-hebatnya metodologi kalau tidak disukai dan dikuasai gurunya, tidak akan jadi apa-apa,” Asep menjelaskan. Soal keberlangsungan pembiayaan sekolah, Asep membagi kiat yakni sekolah melakukan proses pembayaran melalui transfer dan disiapkan aplikasi untuk memudahkan laporan bukti transfernya.

 

 

Artikel Terkait