Mengembangkan Kompetensi Kepala Sekolah di Masa Pandemi

Bagikan

oleh DS

---“Tidak hanya Belajar dari Rumah (BDR), kepala sekolah itu penuh tantangan dan peluang untuk mengembangkan kompetensinya. Setiap saat kepala sekolah tentu ada tantangan dan peluang untuk mengembangkan kompetensinya, baik belajar dari rumah atau belajar di sekolah,” tutur Dr. Husnul Chotimah, M.Pd., Kepala SMA Negeri 10 Kota Malang, Jawa Timur.

Husnul menyampaikannya pada Webinar Seri Guru Belajar episode ke-20, pada Senin, 3 Agustus 2020. Seri Webinar diselenggarakan secara berkelanjutan oleh Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK) sepanjang bulan Juli 2020. Webinar dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis, pukul 09.00-11.00 melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud

Menurut Husnul, secara umum sekolah di Indonesia saat ini terdiri dari tiga generasi pengajar, generasi baby boomers, generasi X, dan generasi Y. Sekitar 25 persen guru adalah generasi baby boomers, kelahiran hingga 1964. Kemudian 50 persen guru lahir antara tahun 1965-1980 (generasi X). Sisanya, 25 persen adalah kelahiran tahun 1981-1994 (Generasi Y). “Ini adalah fakta yang juga penuh tantangan bagi kepala sekolah karena tiga generasi guru harus mengajar generasi Z,” kata Husnul.

Mengajar generasi Z memerlukan pembelajaran berbasis e-learning. Sebuah pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi. “Anak-anak kita sekarang mulai dari SD maunya belajar dengan pemanfaatan teknologi,” tutur Husnu.

Diperlukan kualifikasi tambahan agar guru mampu memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan generasi Z. Mulai dari penguasaan sarana prasarana teknologi seperti gawai, internet, dan aplikasi berbasis digital pengolah kata, angka, dan presentasi. “Hal inilah yang sangat diperlukan guru di era BDR ini,” tutur Husnul. 

Tanpa ada BDR, guru sejatinya harus mampu menguasai teknologi informasi untuk mengajar generasi Z. Namun di masa pandemi Covid-19 yang datang secara mendadak, banyak guru tidak siap melaksanakan BDR. Menurut Husnul, pendidikan bukan sekadar perpustakaan literasi tetapi merupakan sebuah wadah untuk mendidik siswa agar memiliki kecerdasan akademis dan karakter. Oleh sebab itu, kepala sekolah yang memiliki kompetensi manajerial, supervisi, kewirausahaan, sosial, dan, kepribadian harus menghadapi tantangan dan peluang untuk dapat mengelola pendidikan di sekolah agar berjalan dengan efektif di masa pandemi ini.   

Tantangan dan Peluang Kompetensi Manajerial

Menurut Husnul, ketika BDR harus dilaksanakan, hanya ada satu tantangan dalam kompetensi manajerial, yaitu pengelolaan sekolah dari luring ke daring. Ia menangkap sebuah peluang untuk melakukan digitalisasi manajemen. “Semua proses manajemen berbasis digital,” Husnul menerangkan.

Husnul mencontohkan digitalisasi manajemen SMAN 10 Malang selama pandemi melalui aplikasi berbasis digital bernama SIM SMANDASA. “Artinya  Sistem Informai SMAN Negeri 10 Malang, dasa itu artinya sepuluh,” katanya.

Melalui aplikasi digital, semua komponen sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, staf, siswa, komite sekolah, pengawas sekolah, hingga tenaga keamanan dapat mengakses informasi sekolah melalui gawai. Dalam aplikasi ini terdapat beragam menu, seperti Jurnal Digital Mengajar berisi presensi kehadiran guru, data siswa, dan data tugas. “Semua komponen sekolah termasuk komite sekolah tahu apa yang terjadi di SMAN 10 Malang, baik tugas guru dan tugas karyawan setiap harinya,” kata Husnul.

Dalam aplikasi SIM SMANDASA, terdapat juga menu Data Absensi Pendidik,  Tenaga Kependidikan, dan Peserta Didik. Melalui menu ini kepala sekolah bisa melihat data guru, tenaga kependidikan, dan siswa yang hadir maupun tidak hanya mengunakan gawai. “Jadi saya bisa tahu siapa, karena otomatis semuanya terekam,” ujar Husnul.

Aplikasi juga menampilkan menu Pemberian Sumbangan Orang tua dan Pelanggaran. Sehingga semua pihak dapat melihat dan memantau jumlah sumbangan dan pelanggaran yang terjadi di sekolah. “Semua bisa mengisi data pelaporan kasus di SMAN 10 Malang sehingga pengurus komite juga tahu,” tutur Husnul.

Menurut Husnul, dalam aplikasi ini juga terdapat menu Ekstra Kurikuler Siswa Digital. Menu ini memperlihatkan beragam foto dan video kegiatan ekstra kurikuler yang dilakukan siswa di sekolah. Pada masa MPLS siswa baru tahun ajaran 2020/2021, juga dapat disimak berbagai kegiatan ekstra kurikuler secara virtual. “Jadi mereka tinggal memilih dan mengisi link-nya,” ujar Husnul.

Selain itu, ada pula menu Disposisi Surat dan Buku Tamu. Melalui menu ini tamu sekolah dicatat dalam aplikasi oleh tenaga kependidikan. Mulai dari nama, alamat rumah, asal instansi hingga maksud dan tujuan. “Sementara disposisi kepala sekolah, nanti saya menuliskan dalam aplikasi disposisinya apa,” Husnul menjelaskan.

Tantangan dan Peluang Kompetensi Supervisi 

Husnul menemukan beberapa tantangan dalam melakukan supervisi guru. Mulai dari guru yang kesulitan memadukan beberapa aplikasi dalam pembelajaran,  pembinaan daring, dan perlunya format baru dalam melakukan supervisi pembelajaran daring.

Untuk peluangnya, ia meminta para guru belajar menggunakan aplikasi pembelajaran secara internal melalui daring bersama guru dan staf lain yang telah menguasai aplikasi pembelajaran digital. Di antaranya, video pembelajaran dengan PPT, pembuatan media barcode, konversi pdf secara daring, manajemen file di google drive, google sheet dan aplikasi pembelajaran google lainnya.

“Ini menjadi best practices saya berjudul Strategi Pohon Pepaya. Yang memberi pelatihan adalah generasi milenial seperti pohon pepaya yang muda di atas dan yang matang di bawah,” tutur Husnul. Dalam pembelajaran daring, ia menyiapkan format supervisi yang efektif untuk pembelajaran daring. “Khusus format supervisi sedang saya kerjakan dan saya lakukan penelitian,” tuturnya.

Tantangan dan Peluang Kompetensi Kewirausahaan

Tantangan kompetensi kewirausahaan bagi kepala sekolah di masa pandemi ini adalah memberi layanan prima yang inovatif, memotivasi, dan punya nilai jual bagi peserta didik. “Kalau di SMA kewirausahaan seperti itu, tetapi kalau SMK terkait dengan produk dan jasa,” kata Husnul.

Husnul menilai, peluang memberikan layanan prima yang inovatif, memotivasi, dan punya nilai jual bagi peserta didik ini sudah dilakukannya bersama dengan para guru dan tenaga kependidikan lain di sekolah. Salah satunya melalui video lesson study secara daring yang telah diunggah ke situs berbagi video youtube. “Menurut saya termasuk kompetensi kewirausahaan di mana kita memiliki inovasi dan motivasi untuk berbagi dengan teman-teman di tempat yang lain. Silakan buka youtube SMK Negeri 10 Malang,” ujarnya.

Husnul berharap melalui video lesson study yang dibuatnya, kepala sekolah lain bisa mengadopsi untuk digunakan dalam kegiatan supervisi secara daring. “Jadi mulai tahap pra supervisi kepala sekolah dapat terlibat. Kemudian tahap kunjungan kelas kepala sekolah juga dapat masuk. Lalu pada tahap pasca supervisi kepala sekolah juga bisa ikut secara daring,” tutur Husnul.

Kepala sekolah juga memiliki peluang membuat instrumen supervisi. Hal ini mengacu pada pemberian bantuan bagi guru kepala sekolah merdeka untuk membuat format atau instrumen supervisi di sekolah. Instrumen supervisi bertujuan untuk meningkatkan keprofesionalan guru.

Pendidikan Karakter Masa BDR

Untuk pembinaan pendidikan karakter selama BDR, salah satunya berupa kegiatan keagamaan bagi siswa dan guru sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Misalnya doa bersama, khataman Al Quran, dan kebaktian secara virtual.

Menurut Husnul, kegiatan ini sebelum masa pandemi juga merupakan kegiatan rutin yang dilakukan sekolah dalam membina karakter siswa. Pandemi turut mengubah kegiatan kegamaan menjadi virtual. “Jadi siswa dibagi karena kalau zoom kapasitas hanya seribu siswa, sehingga kami padu dengan google meet,” tutur Husnul.

Artikel Terkait