Mengembangkan Wellbeing's Student Bagi Kepala Sekolah dan Guru

Bagikan

oleh DS

Berapi-api, lantang, tegas dan materi yang padat berisi sepanjang paparan. Itulah ciri khas Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd, ketika menjadi pembicara. Pun ketika menjadi pembicara pada Seri Webinar Guru Belajar ke-13, pada Selasa, 21 Juli 2020.

 

Seri Webinar diselenggarakan secara berkelanjutan oleh Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK) sepanjang bulan Juli 2020. Webinar dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis, pukul 09.00-11.00 melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud. 

 

Webinar kali ini mengangkat tema “Mengembangkan Pemahaman Student’s Wellbeing bagi Kepala Sekolah dan Guru Binaan”. Selain Prof. Syawal, pembicara lain adalah Weilin Han, M.Sc. (Konsultan Pembelajaran Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan) dan Dina Marta Tiraswati, M.Pd. (Pengawas SMK pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat). Webinar dipandu Jatnika Hermawan, SSi, M.Si (Direktorat P3GTK) sebagai moderator.

 

Memulai dari Siswa

 

Syawal mengutip salah satu konsep yang diusung Stephen R. Covey dalam bukunya berjudul The 7 Habits of Highly Effective People. Yakni konsep “Begin with the end in mind”. “Jadi jangan pernah memulai dari awal. Tapi mulailah dari akhir,” kata Syawal, yang pernah menjabat Kepala BPSDMPK-PMP, lembaga eselon I sebelum ada Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan.

 

Agar menjadi wellbeing, siswa harus menjadi fokus dalam dunia pendidikan bukan lagi tentang kepentingan pribadi. Siswa harus dipastikan menjadi fokus yang utama dan mendapatkan perhatian yang lebih dalam sistem pendidikan Indonesia. “Itulah yang seperti dikatakan Mas Menteri, mengutamakan siswa,” katanya.

 

Agar kepala sekolah dan guru mampu memahami wellbeing student perlu peran penting pengawas sekolah dan kepala dinas pendidikan sebagai orang yang memahami dan mengawal pendidikan. Dibutuhkan paling tidak 30.000 pengawas sekolah dan para kepala dinas. “Guru, kepala sekolah, pengawas sekolah dan kadisdik. Inilah orang-orang penting di republik ini yang mengawal pendidikan itu,” Prof. Syawal menegaskan.

 

“Artinya, jangan pernah menyamakan kompetensi siswa dengan guru karena kompetensi guru lebih luas dari siswa. Ini juga berarti bahwa kompetensi kepala sekolah harus lebih besar daripada guru. Kepala sekolah harus tahu seluruh kompetensi siswa. Kompetensi pengawas dan kepala dinas harus lebih luas lagi,” katanya.

 

Menurut Syawal, idealnya kepala dinas merupakan pengawas terbaik. Pengawas merupakan kepala sekolah terbaik. Kemudian kepala sekolah adalah guru terbaik, dan guru adalah siswa terbaik. “Jangan pernah menjadi kepala sekolah kalau bukan guru terbaik, karena tidak bisa mencontohkan. Jangan pernah menjadi guru kalau bukan siswa terbaik, karena dia tidak bisa mencontohkan,” Syawal mengingatkan. Baca: Memahamkan Wellbeing’s Student kepada Kepala Sekolah dan Guru Binaan.

 

Nilai-nilai Cinta dan Prestasi

 

Makalah menarik berikutnya disampaikan Dina Martha berjudul “Sekolah Membangun Budaya Kreasi Melalui Generasi Cinta Prestasi”.  “Generasi Cinta Prestasi” merupakan nilai-nilai kependidikan. Cinta yang perlu ditanamkan kepada siswa adalah cinta kepada Tuhan; cinta dan hormat kepada orangtua; cinta dan hormat kepada guru; cinta bangsa dan tanah air; cinta ilmu pengetahuan; cinta alam, lingkungan dan budaya; cinta sahabat dan sesama; cinta diri sendiri.

 

Sementara “prestasi” bermakna Percaya diri yang kuat; Riang dan selalu optimistis; Empati; Sehat jiwa dan raga; Tidak mudah menyerah dan putus asa; Amanah sebagai pemimpin; Siap menjadi pribadi mandiri; dan Inovatif dalam karya yang bermanfaat.

 

Dimensi wellbeing dirumuskan Dina ke dalam empat komponen, yakni having (kondisi sekolah), loving (hubungan sosial), being (pemenuhan diri), dan health (status kesehatan). Having, bermakna lingkungan sekolah merupakan tempat yang nyaman untuk belajar, pelayanan siswa yang baik dan menunjang proses belajar. Loving bermakna lingkungan sosial belajar, hubungan guru, siswa dan dinamika kelompok. Iklim sekolah dan iklim belajar mempunyai dampak pada kesejahteraan.

 

Being mengandung arti kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kreativitas siswa. Sementara health dimaknai ke dalam status kesehatan siswa mencakup fisik dan kesehatan mental selama menjalani kehidupan di sekolah.

 

“Jadi sekolah merupakan sarana yang potensial dalam membentuk karakter individu siswa melalui merdeka belajar dengan adanya kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif,” kata Dina.

 

Program sekolah harus dibuat secara utuh di mana ekosistem sekolah dapat mendukung proses implementasi dimensi wellbeing’s student. Sekolah dapat dijadikan sebagai wadah untuk mengeksplor keterampilan dan kreativitas yang menjadikan siswa lebih percaya diri, mandiri, diimbangi dengan prestasi akademis yang baik.

 

“Sekolah merupakan eleman yang penting dalam perkembangan individu di mana melalui generasi cinta prestasi dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila,” kata Dina. (Baca: Membangun Budaya Kreasi Melalui Generasi Cinta Prestasi).

 

Konsep Prosper Menjadi Harmoni

 

Weilin Han, sebagai pembicara ketiga mengangkat makalah berjudul “Mencapai Well-Being Murid dalam Kerangka Kerja Pengawas”. Menurut Wei, terdapat banyak rujukan yang dapat digunakan oleh pengawas sekolah maupun kepala sekolah dalam menciptakan wellbeing student. Dalam dokumen yang diterbitkan OEDC, Transformative Competencies 2003, terdapat kompetensi-kompetensi yang perlu dicapai untuk menuju wellbeing di tahun 2030.

 

Salah satu buku yang menjadi rujukan Wei dalam wellbeing adalah the PROSPER School Pathways for Student Wellbeing Policy and Practices. Buku ini berisi kebijakan dan praktik wellbeing. “Sudah tiga tahun saya gunakan sebagai rujukan, karena tertuju langsung pada kebijakan dan praktik” ujar Wei.

 

Dalam buku ini, rumusan PROSPER merupakan singkatan dari Positivity, Relationship, Outcome, Strength, Purpose, dan Engagement. Konsep PROSPER diadaptasi oleh Program Jabar Masagi yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi HARMONI. HARMONI merupakan akronim dari Hasil yang berproses, Andal berdaya lenting, Relasi yang positif, Makna dalam tujuan, Orientasi sikap positif, Nilai sesuatu kekuatan, Inisiatif yang melibatkan.

 

”Konsep orang Sunda atau orang Jawa, wellbeing bermakna bagja dalam bahasa Sunda, dan bagyo di bahasa Jawa, yang artinya bahagia,” tutur Wei. (Baca: Konsep “Harmoni” untuk Memahami Wellbeing Siswa).

 

Kurikulum Berbasis Kapasitas hingga Terminologi Baru Wellbeing

 

Peserta yang mendapat kesempatan sebagai penanya pertama adalah Johannes Marbun, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, SMKN 1 Sorkam, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Marbun menanyakan bagaimana konsep kurikulum berbasis kapasitas, yang diwacanakan Prof. Syawal? Menurut Syawal, banyak pekerjaan masa lalu yang sudah hilang saat ini. Pekerjaan saat ini pun belum tentu bertahan di masa depan. Kalau guru mengajar siswa dengan kurikulum berbasis kompetensi, guru mengajar berdasarkan kondisi kompetensi saat ini.

 

“Idealnya guru, selain menggambarkan kompetensi masa lalu, yang sekarang sudah hilang. Di masa depan, kompetensi sekarang tidak bisa diprediksi dibutuhkan. Tapi prediksi saya, akan muncul pekerjaan baru. Itulah kenapa kurikulum tidak bisa berbasis kompetensi, karena sebagian kompetensi akan hilang di masa depan,” kata Syawal.

 

Kurikulum berbasis kapasitas berbicara daya tampung, daya serap, dan apa yang dapat dihasilkan manusia secara optimal, semampu apa manusia menyerap kemampuan. Kurikulum berbasis kapasitas fokus pada pengembangan potensi siswa. “Potensi manusia itu tidak terbatas, jika kurikulum mampu mengembangkan potensi. Di dalam kapasitas memang ada kompetensi,” katanya.

 

Dalam penerapannya, Syawal mencontohkan pelajaran matematika. Dalam kurikulum berbasis kapasitas, seharusnya ada sebagian yang dihapus dalam unit pembelajaran matematika. “Di antaranya yang rutin diajarkan. Kapasitas yang dibutuhkan masa depan, khususnya matematika harus berbicara soal modeling, koneksi, komunikasi. Kalau kompetensi hanya bicara soal persamaan kuadrat. Jadi yang dibutuhkan ke depan, memanfaatkan matematika untuk membangun kapasitas,” kata Prof. Syawal.

 

Penanya berikutnya, Rohmat Widiyanto, guru di Sampit, Kalimantan Tengah. Rohmat menanyakan bagaimana pembelajaran jarak jauh dilakukan jika kondisi 74% siswanya miskin, akses internet terbatas, tidak bisa melakukan pembelajaran daring. Menurut Dina, kondisi sekolah lain juga banyak mengalami kesulitan serupa. Ketika akses terbatas untuk melaksanakan PJJ, guru harus melalukan inovasi pembelajaran yang sesuai. Misalnya, mengikuti Belajar dari Rumah yang disiarkan TVRI, pembelajaran melalui whatsapp, atau SMS.

 

“Tidak selalu PJJ harus menggunakan zoom. Pengawas sekolah dan kepala sekolah dapat membantu para guru untuk melakukan inovasi pembelajaran. Misalnya guru membuat video pembelajaran, atau membuat modul pembelajaran. Jika memang tidak memungkinkan, guru yang harus hadir di rumah siswa yang kesulitan akses pembelajaran daring,” kata Dina.

 

Penanya berikutnya adalah Hasmawati, Pengawas Sekolah pada Dinas Pendidikan Kota Makassar. Menurutnya, guru masih banyak yang bingung dengan banyaknya istilah, seperti pembelajaran bermakna, sekolah ramah anak, literasi, pelajar Pancasila, sekarang muncul wellbeing student. Bagaimana mengintegrasikan semua istilah tersebut agar guru lebih mudah memahami.

 

Weilin memberi gambaran ketika membeli makanan, apakah hanya karena bungkusnya atau isinya. Ketika berbicara pendidikan karakter, sekolah ramah anak, atau wellbeing student, ruhnya yang sama adalah memusatkan pada siswa.

 

“Ketika wellbeing digunakan di tataran global, sementara kita menggunakan istilah lain, maka perlu lagi menyamakan. Jadi Bapak Ibu Guru tidak perlu bingung, hanya perlu menyamakan persepsi. Ambil esensinya dan proyeksikan ke depan,” kata Weilin.

Artikel Terkait