Menyederhanakan Program dan Laporan Pengawasan

Bagikan

oleh DS

Gagasan muncul justru saat musibah. Itulah yang dirasakan Dr. Ninik Kristiani, M.Pd, Pengawas SMA pada Dinas Pendidikan Kota Malang, Jawa Timur. Saat pandemi covid-19 semakin menguat, Ninik beruntung mengikuti pelatihan pengawasan digital yang digelar Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI). Pelatihan pengawasan digital itu kini sudah memasuki angkatan ke-20.

 

Setelah mengikuti pelatihan, Ninik pun mencoba melaksanakannya pada sekolah binaan. Ia kemudian menyadari bahwa dengan melakukan beragam kegiatan pendampingan virtual, ia sekaligus mendorong guru dan kepala sekolah menghasilkan karya tulis berupa best practices.

“Apa yang saya lakukan ini saya tulis menjadi best practice karena sesuai dengan pelatihan yang diberikan APSI sebagai bagian dari latihan mencoba,” katanya. Melalui pendampingan virtual, kata Ninik, guru dan kepala sekolah hampir setiap hari mampu menghasilkan karya inovatif berbasis digital.

 

Ninik menyampaikannya sebagai pembuka Seri Webinar Guru Berbagi edisi kedelapan, pada Senin, 13 Juli 2020. Webinar diselenggarakan secara berkelanjutan sepanjang bulan Juli 2020 oleh Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK). Webinar dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis, pukul 09.00-11.00 melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud. 

 

Jilid kedelapan webinar mengangkat tema “Panduan Penyederhanaan Program dan Laporan Pengawasan”. Selain Ninik Kristiani, dua pembicara lain adalah Prawoto, M.Pd (Ketua Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia Provinsi DKI Jakarta) dan Zulhajidan, S.Pd., M.Pd. (Pengawas SD pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan, Riau. Diskusi dipandu Hery Azhar Djafar, SS, M.Pd (Analisis Fasilitasi Peningkatan Kompetensi Direktorat P3GTK) sebagai moderator. 

 

MEMBIASAKAN PENDAMPINGAN VIRTUAL

 

Ninik mengalami pengalaman menarik ketika kali pertama melakukan pendampingan virtual kepada guru dan kepala sekolah binaan. Ia melihat peserta yang hadir dalam pertemuan daring masih banyak yang belum memiliki komitmen dan kedisiplinan yang baik.

 

“Tingkat konsistensi peserta terbilang rendah karena banyak peserta yang hadir dalam pertemuan virtual hanya sebatas mengisi presensi kehadiran. Tak jarang peserta menghilang dan tidak melanjutkan kegiatan hingga akhir acara. Berbeda dengan tatap muka yang bisa dikawal dengan mudah, virtual ini tidak memungkinkan melihat semua peserta,tuturnya.

 

Ninik kemudian memutar otak untuk mengatasi ketidakdisiplinan peserta. Ia menambahkan komponen yang harus diisi peserta agar tidak meninggalkan kegiatan. Mulai dari pengisian presensi di awal kegiatan, mengisi kuis di pertengahan sesi, hingga mengisi angket tanggapan terhadap kegiatan di sesi akhir pendampingan virtual.

 

“Setelah semua rangkaian kegiatan dilaksanakan, sebelum peserta meninggalkan room, saya meminta semua peserta melakukan share lokasi disertai foto sebagai bukti kehadiran,” kata Ninik. Lihat: Pendampingan Lahirkan Karya Inovatif.

Dari Pendampingan RPP Hingga Bahan Ajar Inovatif

 

Zulhajidan sebagai pembicara kedua, menilai ada transformasi proses pendampingan akademik yang dulu tatap muka berubah menjadi daring, yakni pendampingan proses belajar di rumah (BDR). Pendampingan akademik focus pada mutu lulusan dan proses pembelajaran.

 

Tugas pokok pendampingan akademik pada masa adaptasi kebiasaan baru (AKB), di antaranya adalah: pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan; sekolah menjalankan protokol penanganan COVID-19; RPP menerapkan pembelajaran bermakna, life skills, dan aktivitas fisik; laporan kegiatan pendampingan BDR; penentuan media pembelajaran; dan pembuatan bahan ajar inovatif menggunakan berbagai aplikasi digital.

 

“Pengawas sekolah juga dapat membuat karya inovatif digital pendukung BDR, serta menyusun best practice dan makalah ilmiah selama work from home hasil BDR,” katanya. Lihat: Menyederhanakan Program Pendampingan Akademik.

 

Karena Adatif dan Terpakai

 

Sementara Prawoto, sebagai narasumber ketiga menyampaikan materi “Menyerdehanakan Program Pendampingan Manajerial”. Ia mengawali dengan pertanyaan: Mengapa perlu penyedehranaan? “Karena adaptif, perlu menyelaraskan situasi kondisi, ketersediaan media, karakteristik sekolah binaan, kemampuan pengawas sekolah,” kata Prawoto.

 

Selain itu juga karena butuh keterpakaian yang lebih simple, harmonis, dan unik. “APSI memang punya moto agar program sekolah harus Simpel, Harmonis, dan Unik. Simpel karena tidak mengurangi substansi pekerjaan. Harmonis dengan semua regulasi. Tiap sekolah memiliki keunikan masing-masing, sehingga tidak dapat diseragamkan,” kata Prawoto.

 

Alur pendampingan manajerial yang dapat dilakukan, dimulai dari melakukan pemetaaan sekolah binaan untuk mengidentifikasi karakteristik dan kebutuhan pendampingan di sekolah binaan. Kemudian pengawas sekolah memiliki media yang digunakan. Barulah pengawas sekolah, menyusun program, menyosialisasi program kepada kepala sekolah, hingga melaksakan pendampingan. Lihat: Menyederhanakan Program Pendampingan Manajerial.

 

Menyelaraskan Kerja Pengawas

 

Sesi tanya jawab diawali pertanyaan tertulis yang disampaikan Ali Tamami, Pengawas Sekolah pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Ali Tamami menanyakan apakah dalam menyusun program kerja pengawas sekolah diawali dengan pengambilan data semacam Evaluasi Diri Sekolah (EDS) sekolah binaan?

 

Menurut Ninik, terkait EDS pada masa pandemi, yang dapat dipetakan adalah zona penyebaran covid-19 pada sekolah-sekolah binaan. Setelah itu memetakan sekolah berdasarkan kesiapan teknologi. Ada tipe A sudah memiliki infrastruktur dan mindset terhadap teknologi sudah siap. Sekolah tipe B adalah yang baru memiliki infrastruktur teknologi, namun mindset belum. Sementara sekolah tipe C, baik infrastruktur dan mindset terhadap teknologi belum siap.

 

Sementara EDS sekolah binaan di masa normal, Ninik mengacu pada pelatihan APSI bekerja sama Badan Akreditasi Nasional (BAN) sekolah/madrasah. Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi pengawas sekolah dalam memantau standar nasional Pendidikan. “Jadi EDS ke depan arahnya adalah Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP) 2020. Mulai mutu lulusan, proses pembelajaran, mutu guru, dan manajemen sekolah. Identifikasi ke sekolah binaan kita sandingkan ke IASP 2020,” kata Ninik.  

 

Zulhajidan menambahkan, apa yang saat ini sudah dilakukan sebaiknya akan tetap menjadi kebiasaan baru meskipun pandemic sudah berlalu. Zulha mencontohkan, pada sekolah-sekolah  binaannya. Awalnya ia memaksa guru dan kepala sekolah yang sudah memiliki laptop harus mampu mengikuti pendampingan daring. “Dari awalnya dipaksa, mereka akhirnya mampu. Jadi ketika pandemi telah berakhir, kebiasaan pendampingan daring misalnya, tetaplah bisa dijadikan kebiasaan baru,” katanya.

 

Prawoto juga menambahkan, pengawas sekolah sebelum menyusun program harus sudah mengidentifikasi masalah, melakukan pemetaan karakteristik sekolah, sehingga akan muncul kebutuhan pendampingannya seperti apa. “Jadi program yang disusun sudah sesuai kebutuhan,” kata Prawoto.

 

I Wayan Darsana, Koodinator Pengawas Sekolah pada Dinas Pendidikan Provinsi Bali menanyakan, apakah Direktorat P3GTK akan merevisi buku Panduan Kerja Pengawas Sekolah untuk menyederhanakan program kerja pengawas, agar selaras dengan penilaian angka kredit pengawas.

 

Ninik memberikan jawaban, para pengawas sekolah diharapkan mengikuti pelatihan pengawasan digital yang dilaksanakan APSI. Melalui e-pengawasan 5.0, APSI membantu para pengawas melaksanakan tugas pengawasan. Dengan memiliki portofolio digital, pengawas sekolah dapat menyusun data diri dan kinerja pengawas.

 

Kinerja pengawas dengan dibantu e-pengawasan 5.0 akan merangkum dari identifikasi sekolah, sasaran kerja, program kerja, pengembangan profesi, dan DUPAK online. “Ini semua dikemas dalam e-pengawasam 5.0. Sekali pun saat ini proses DUPAK belum online, namun APSI sudah menyiapkan ke depan. Saat proses DUPAK online, pengawas sudah siap,” katanya. 

 

Prawoto menambahkan, sebagai pengurus APSI DKI Jakarta, akan berupaya agar panduan kerja pengawas sekolah diselaraskan agar harmonis. Sesugguhnya panduan hanya sebuah inspirasi untuk pengawas sekolah. Setiap pengawas sekolah harus menyesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah binaan. “Jangan alergi untuk berbeda. Jangan karena ada panduan menjadikan semua sama. Tiap diri pengawas sekolah dapat menciptakan panduan praktis,” katanya.

Artikel Terkait