Menyederhanakan Program Pendampingan Akademik

Bagikan

oleh DS

Masa pandemi covid-19 membuat banyak orang gamang dan sulit berpikir dengan baik. Banyak orang, termasuk para pengawas sekolah, kaget karena perubahan yang terjadi sehingga diperlukan penyesuaian dan transformasi. “Saya pribadi melakukan perubahan terhadap pendampingan di sekolah. Dulunya melakukan dengan tatap muka mejadi daring dan luring,” kata Zulhajidan, S.Pd., M.M., Pengawas SD pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

 

Zulhajidan menyampaikan saat menjadi pembicara kedua pada Seri Webinar Guru Berbagi edisi kedelapan, pada Senin 13 Juli 2020. Seri Webinar diselenggarakan Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK) sepanjang bulan Juli 2020. Webinar dapat diikuti melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud. 

 

Menurut Zulha, ia lebih banyak melakukan pelaksanaan pendampingan proses belajar di rumah (BDR). Ia membuat tiga bentuk pendampingan secara luring dan daring, yaitu: akademik, manajerial, serta pembimbingan dan pelatihan. “Untuk pendampingan akademik lebih fokus kepada mutu lulusan dan proses belajar. Sementara pendampingan manajerial dilakukan kepada mutu guru dan manajemen sekolah,” ujarnya.

 

Dalam pandemi ini, tugas pokok pengawas tidak terlepas dari beberapa aspek.  Seperti pemberian pembinaan kepada guru-guru dalam pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan. Kemudian mendampingi sekolah untuk menjalankan protokol penanganan Covid-19. “Ada juga pemantauan bagaimana guru menerapkan RPP yang bermakna life skill dan aktivitas fisik,” Zulha menuturkan.

 

Pendampingan Daring dan Luring

 

Menurut Zulha, di masa pandemi, pengawas sekolah harus tetap membuat laporan kegiatan pendampingan belajar dari rumah yang merupakan hasil dari penilaian proses pendampingan yang dilakukan. “Tentunya harus dilengkapi dengan bukti-bukti fisik untuk menguatkan bahwasanya seorang pengawas telah melakukan pendampingan di masa pandemi hingga mengedukasi orang tua maupun wali murid,” ujarnya.

 

Pengawas sekolah juga tetap harus memberikan pelatihan-pelatihan kepada guru. Baik yang bersifat daring, luring atau mengombinasikan keduanya. “Kita juga memberikan lembaran dan panduan sederhana dalam pembinaan kita untuk melakukan interaksi dalam rangka penyampaian proses pembelajaran di sekolah,” ucapnya.

 

Selain itu, pengawas sekolah juga bertugas melakukan pemantauan bahan ajar yang dilakukan guru. Termasuk mendampingi guru dalam menentukan media pembelajaran mana yang cocok untuk dipakai. Diharapkan hasil pemantauan menemukan guru memiliki pengalaman bagus dalam menggunakan media pembelajaran atau aplikasi digital selama belajar dari rumah. Pengawas harus mengarahkan mereka agar menyusun best practice karya inovatif atau makalah ilmiah. “Kita bimbing dan latih agar menjadi sebuah karya inovatif yang mendukung BDR dalam rangka penggunaan aplikasi digital,” ujar Zulha.

 

Namun, di lapangan terdapat beragam masalah karena sekolah memiliki ragam karakteritik berbeda-beda. Baik dari segi lokasi maupun ketersediaan sumber daya pendukung seperti jaringan internet. Oleh karena itu, ia selalu mencari cara untuk menyelesaikan semua permasalahan. Salah satunya, tidak semua guru berasal dan tinggal di daerah tempat bertugas. Mereka bisa mendapatkan pembimbingan ketika pulang ke daerah yang memiliki sinyal internet. “Jadi nanti mereka mengerjakan tugas-tugasnya itu di rumah mereka yang memiliki sinyal internet,” Zulha menceritakan.

 

Mekanisme Pendampingan Akademik

 

Pada masa awal pandemi, Zulha sudah mempunyai program pengawasan yang sudah disetujui. Namun ketika wabah merebak di Indonesia, program pengawasan tersebut kemudian direvisi berdasarkan pemetaan kondisi sekolah. “Kita lihat kondisi sekolah, guru. Kadang-kadang ada sinyalnya tetapi guru sendiri belum bisa menguasai teknologi,” katanya.

 

Program pendampingan kemudian direvisi dan disusun kembali berdasarkan pemetaan. Selanjutnya program dilaksanakan, dievaluasi, dan dibuatkan laporan dari hasil pengawasan atau pendampingan. “Itulah mekanismenya. Jadi kalau kita singkat mungkin mulai dari menyusun pendampingan, baru melaksanakan, kemudian mengevaluasi dan menyusun pelaporan,” katanya.

 

Rencana Pendampingan Akademik

 

Menurut Zulha, dalam rencana pendampingan akademik di masa pandemi ini ia berprinsip bahwa perencanaan dan pemantauan yang dibuat harus dilakukan secara simpel, harmoni, dan unik (SHU). “Simpel itu dalam arti kata bukan hanya ringkas tetapi tidak menghilangkan hakikat sebuah perencanaan,” ujar Zulha.

 

Sementara untuk isinya rencana pendampingan akademik  mencakup tujuan pendampingan akademik, langkah kegiatan yang dilakukan. Kemudian penilaian terhadap proses pendampingan dan instrumen pendampingan yang digunakan. “Nah instrumen ini  kita sederhanakan juga. Kita akan membuat baru instrumen yang sesuai masa pandemi,” sebut Zulha.

 

Contoh Rencana Pendampingan

 

Zulha mencontohkan rencana pendampingan akademik saat hanya dalam secarik kertas. Isinya memuat tujuan dan langkah-langkah kegiatan. “Saya mulai dari kegiatan awal dengan melakukan persiapan bersama kepala sekolah dan guru binaan apa saja yang akan dilakukan. Kemudian ada kegiatan inti dan kegiatan akhir. Selanjutnya ada penilaian dan  instrumen,” katanya.

 

Contoh rancangan pendampingan akademik ini bisa disesuaikan dengan kondisi wilayah lain sesuai dengan sarana yang dimiliki sekolah dan guru. Meski rencana pendampingan akademik bisa dibuat dalam satu lembar, Zulha meminta tidak menghilangkan hakikat pengawas sebagai pendamping guru dan kepala sekolah dalam menyelesaikan permasalahan sekolah, khususnya di masa pandemi.

Artikel Terkait