Pendampingan Lahirkan Karya Inovatif

Bagikan

oleh DS

Ketika melakukan pendampingan secara virtual kepada guru dan kepala sekolah binaan, Dr. Ninik Kristiani, M.Pd., Pengawas SMA Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, menemukan hal menarik. Ia melihat peserta yang hadir dalam pertemuan daring masih banyak yang belum memiliki komitmen dan kedisiplinan yang baik.

 

“Tingkat konsistensi peserta terbilang rendah karena banyak peserta yang hadir dalam pertemuan virtual hanya sebatas mengisi presensi kehadiran. Tak jarang peserta menghilang dan tidak melanjutkan kegiatan hingga akhir acara. Berbeda dengan tatap muka yang bisa dikawal dengan mudah, virtual ini tidak memungkinkan melihat semua peserta,” tuturnya.

 

Ninik kemudian memutar otak untuk mengatasi ketidakdisiplinan peserta. Ia menambahkan komponen yang harus diisi peserta agar tidak meninggalkan kegiatan. Mulai dari pengisian presensi di awal kegiatan, mengisi kuis di pertengahan sesi, hingga mengisi angket tanggapan terhadap kegiatan di sesi akhir pendampingan virtual.

 

“Setelah semua rangkaian kegiatan dilaksanakan, sebelum peserta meninggalkan room, saya meminta semua peserta melakukan share lokasi disertai foto sebagai bukti kehadiran,” kata Ninik ketika berbicara pada Seri Webinar Guru Berbagi edisi kedelapan, pada Senin 13 Juli 2020. Seri Webinar diselenggarakan Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK), melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud. 

 

Guru Penggerak Zona

 

Dari  Covid-19, Ninik mengambil hikmah luar biasa. Ia belajar bahwa dalam keterbatasan akibat pandemi teknologi dapat dimanfaatkan dengan baik untuk melakukan pendampingan di sekolah. “Awalnya saya mencoba, terus berikutnya saya berkarya. Guru dan kepala sekolah peserta pendampingan juga menghasilkan karya,” ujar Ninik.

 

Pendampingan virtual yang dilakukan Ninik merupakan buah dari pelatihan pendampingan digital yang diberikan Asosiasi Pengawas Seluruh Indonesia (APSI). Berkat pelatihan pengawasan digital APSI, Ninik belajar dan mampu mengaplikasikan pembimbingan dan pendampingan kepada sekolah binaan secara virtual. “Saya bersyukur karena mengenal APSI sehingga mendapatkan beragam pelatihan digital kepengawasan yang bisa diaplikasikan ke sekolah binaan,” kata Ninik.

 

Sebelumnya Ninik merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan ketika pembelajaran dan pekerjaan harus dilaksanakan dari rumah. Apalagi pada pertengahan Maret 2020, ia sedang melakukan kegiatan bertajuk guru penggerak zona, dengan mengolaborasikan sekolah binaan di Kota Malang, Jawa Timur.

 

Guru penggerak zona, kata Ninik, merupakan kegiatan mengajar antarguru terbaik di sekolah binaan yang saling berdekatan lokasinya. Tujuannya agar guru mampu mengubah diri sendiri dan di sekitar sekolah. Selain itu juga agar guru mendapatkan mutu yang sama dengan guru lain dalam satu lokasi sekolah binaan. “Saya kemas menjadi program lessson study berbasis zona,” kata Ninik.

 

Ninik terlebih dahulu membuat grup WA untuk mengoordinasi guru dan kepala sekolah binaan. Ia kemudian menyusun lembaran untuk disebarkan kepada sekolah binaan.  Ia menyiapkan materi dalam bentuk paparan power point (PPT) dan presensi kehadiran peserta. “Semua materi terkait pelatihan sudah saya siapkan,” kata Ninik.

 

Ninik mendapati persoalan lain saat kegiatan berlangsung. Banyak guru masih bingung mengikuti pertemuan virtual karena baru kali pertama menggunakan aplikasi. Ninik terdorong dan termotivasi melakukan pendampingan kepada guru-guru di sekolah binaan. “Ketika melakukan pendampingan, saya layaknya seperti seorang guru,” kata Ninik.

 

Begitu pertemuan virtual selesai, Ninik selalu mengawal dan memantau para peserta secara berkelanjutan melalui WA grup. “Saya pantau bagaimana hasil pertemuan, progresnya seperti apa, karyanya seperti apa. Hal itu nanti akan dipakai pada presentasi kegiatan berikutnya,” tuturnya.

 

Mendorong Menghasilkan Karya

 

Ninik pun menyadari bahwa dengan beragam kegiatan pendampingan virtual dapat mendorong ia bersama guru dan kepala sekolah menghasilkan karya tulis berupa best practices. “Akhirnya atas apa yang saya lakukan ini saya tulis menjadi best practice karena sesuai dengan pelatihan yang diberikan APSI sebagai bagian dari latihan,” katanya.

 

Melalui pendampingan virtual, kata Ninik, guru dan kepala sekolah hampir setiap hari mampu menghasilkan karya inovatif berbasis digital. “Saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan tadi bisa didokumentasikan dengan baik. Semacam sifatnya dari induktif menuju ke deduktif,” katanya.

 

Ninik kemudian menyusun best practices berjudul Swavirtis Terpropan Dongkrak Ki Digital yang artinya swalayan virtual gratis terprogram dan terpantau dongkrak karya inovatif digital. Best  practices ini merupakan karya tulis dari pengalaman yang melakukan pembimbingan virtual, di mana terdapat materi yang bisa diunduh gratis serta perencanaan dan pemantauan program yang dilakukan.

 

Best practices berikutnya yang disusun Ninik adalah Buku Panduan Kerja Pengawas Sekolah (BPKPS) yang Simple, Harmoni, dan Unik (SHU) di Masa Pandemi Covid-19. “Saya ingin memperbaiki panduan pedoman dalam masa darurat penyebaran Covid-19 saya kolaborasikan dengan pengalaman best practices tadi,” tutur Ninik.

 

Ninik menggaris bawahi panduan yang dibuatnya hanya mewadahi program pengawasan di wilayahnya, Kota Malang, Jawa Timur. Panduan tersebut belum tentu dapat dilaksanakan di wilayah lain. Sebab tiap wilayah memiliki kondisi dan pengalaman berbeda. “Oleh karena itu sangat mungkin apabila di ruangan ini ada 500 akan muncul 500 panduan,” Ninik menjelaskan. 

 

Pengawas Sekolah sebagai Pendamping

 

Dalam proses pendampingan, ujar Ninik, diawali dengan proses pemetaan terlebih dahulu. Pemetaan terkait kondisi zona sekolah, apakah hijau, kuning, orange, maupun merah. “Kita petakan untuk menjadi skala prioritas atau yang akan menjadi bagian strategi kita di dalam mendampingi sekolah-sekolah,” ujar Ninik.

 

Kemudian dilanjutkan menyusun rencana pendampingan, seperti pendampingan dan pelatihan, rencana pendampingan bimlat, dan rencana pelaksanaan bimlat (RPB). “Ini saya sandingkan seperti yang dikerjakan oleh guru sehingga ada keselarasan antara yang dikerjakan pengawas dengan guru,” ujar Ninik.

 

Dalam menyusun Bimlat, pengawas harus terlebih dahulu memetakan materi  yang masuk dalam pendampingan akademik dan materi yang masuk pendampingan manajerial. Termasuk memetakan bagian pendampingan kegiatan pembinaan, pemantauan, penilaian, dan bagian bimlat mana.

 

Program bimlat dapat dibuat dengan cara sederhana seperti halnya pada silabus. Isinya memuat materi, sasaran, indikator keberhasilan, skenario kegiatan, penilaian kegiatan, alokasi waktu dan sumber daya. “Skenario inilah yang dijabarkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Bimlat,” katanya.

 

Kemudian dalam menyusun RPB yang setara dengan RPP. Isinya terdapat tujuan bimlat, kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, penilaian, dan instrumen yang digunakan. “Jadi dari program yang sederhana tadi dituangkan kepada RPP yang juga sederhana,” tuturnya.

 

Laporan kegiatan pendampingan selama pandemi juga dilakukan dengan cara sederhana. Kegiatan yang dilaporkan mengacu pada program pada RPB. “Bukti otentiknya kemudian dilampirkan pada laporan-laporan yang disusun,” ujarnya.

Artikel Terkait