PERAN DAN PROFIL PENGAWAS SEKOLAH PADA MASA ADAPTASI KEBIASAAN BARU

Bagikan

oleh P3GTK

 

Jakarta, Direktorat P3GTK, Kemendikbud--- “Pengawas sekolah masa depan itu visioner, mampu menjadi manajer, kolaboratif, terbuka, menginspirasi dan memotivasi, serta responsive.” Setidaknya itulah yang harus dimiliki seorang pengawas sekolah menurut Pangarso Yuliatmoko, M.Pd., pengawas SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

 

Pangarso, sebagai pembicara pertama, membuka kegiatan Seri Webinar Guru Berbagi seri keempat yang diselenggarakan Direktorat Profesi Pendidik dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan, pada 6 Juli 2020. Webinar dilaksanakan secara marathon, sejak 30 Juni, mulai Senin hingga Kamis, melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung di kanal Youtube P3GTK Kemdikbud.

 

Seri keempat webinar mengangkat tema “Peran dan Profil Pengawas Sekolah pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal).” Selain Pangarso, hadir pembicara lain yakni Zulahjidan, S.Pd, MM (Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau) dan Toyib, SPd, M.Pd (Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat). Diskusi yang diiikuti 518 peserta ini dipandu Dra. Rini Herlina, M.Pd., pengawas sekolah pada Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, selaku moderator.

 

Menurut Pangarso, pandemi covid-19 mengakibatkan pergeseran pola pendidikan. Perubahan kerangka kerja transformasi pendidikan ini juga menyebabkan peran pengawas sekolah mau tidak mau harus berubah. Untuk dapat menyesuaikan diri menuju tatanan baru Pendidikan, setidaknya ada empat kerangka kerja transformasi pendidikan yang harus dimiliki pengawas sekolah. “Kepemimpinan dan kebijakan transformatif, pengajaran dan pembelajaran, lingkungan cerdas, dan cetak biru teknologi,” kata Pangarso, yang juga peraih Juara 3 Pengawas SMK Berprestasi Nasional Tahun 2019. Lihat: Profil Pengawas Sekolah dalam Transformasi Pendidikan.

 

SINERGISITAS DAN PROTAJARAK

 

Pembicara kedua, Zulhajidan, Spd., MM, secara ringkas merangkum setidaknya ada enam peran yang dapat dilakoni pengawas sekolah pada masa AKB. Peran pengawas sekolah tersebut meliputi: 1) Memahamai karakteristik sekolah binaan; 2) Memahami kebutuhan kepala sekolah binaan; 3) Memahami kebutuhan guru binaan; 4) Memastikan sekolah melaksanakan layanan pendidikan berkualitas melalui pendampingan akademik dan manajerial; 5) Memastikan sekolah mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik dan seluruh stakeholder sekolah; 6) Melaksanakan pengawasan digital pada sekolah binaan.

 

Di akhir diskusi, Zulhajidan memberikan sejumlah simpulan, yakni konsep normal baru memang berbeda dengan masa sebelum pandemik; layanan pendidikan berkualitas dilaksanakan melalui sinergisitas program pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru. “Pengawas sekolah juga harus memberikan pendampingan kepada kepala sekolah, guru, binaan dalam mengatasi masalah pada masa pandemi. Selain itu perlu kinerja pengawas sekolah didukung aplikasi,” kata Zulhajidan. Lihat: Sinergisitas Program Pengawas Sekolah dengan Program Kepala Sekolah dan Guru.

 

Toyib sebagai pembicara terakhir memberikan tips peran yang harus diemban pengawas sekolah pada masa pandemi dengan Protajak. Protajak merupakan akronim dari profesional, tangguh, tanggung jawab, dan berkarakter. “Pengawas sekolah yang professional adalah memiliki kompetensi, bekerja berdasarkan regulasi, menguasai TIK, serta selalu aktif dalam pengembangan diri,” kata Toyib.

 

Tangguh sendiri diuraikan menjadi kuat, tabah, handal, dan kukuh. Sementara karakter pengawas sekolah harus memiliki karakter religiusitas, nasionalisma, kemandirian, integritas, dan gotong royong. Lihat: Peran Pengawas Sekolah yang “Protajarak” di Masa Adaptasi Kenormalan Baru.  

 

DARI KEMITRAAN HINGGA PELATIHAN DARING

 

Pada sesi tanya jawab, Rachmad Jupri, Pengawas SD Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, membuka pertanyaan tentang upaya meningkatkan penggunaan IT dalam pengawasan, mengingat sekolah binaannya masih terbiasa pengawasan luring.

 

“Latar belakang geografis di Indonesia memang belum semua daerah terjangkau jaringan internet. Di daerah kami Kalimantan Barat juga belum semuanya memiliki jaringan internet. Namun saya yakin setiap kecamatan sudah ada jaringan internet, sehingga pengawas sekolah harus menyesuaikan kondisi sekolah binaan. Kita dapat melakukan binaan secara kombinasi, daring dan luring. Di awal pembinaan perlu dilakukan secara luring, baru diikuti pembinaan secara daring,” kata Toyib memberikan jawaban.

 

“Sepuluh sekolah binaan saya, satu pun belum memiliki jaringan internet sekolah. Pengawas sekolah tidak boleh memaksa agar disediakan jaringan internet di sekolah. Kita bisa mengusahakan, misalnya melalui komunikasi dengan grup whatsapp. Sehingga memang perlu perpaduan daring dan luring,” kaya Zulhajidan menambahkan.

 

Pangarso memberikan saran perlunya menggali kemitraan dengan pihak lain. Misalnya dengan perangkat desa, menggandeng privider internet, untuk mendirikan tower tambahan sehingga sekolah terjangkau jaringan internet. “Untuk meningkatkan kompetensi sudah ada pelatihan pengawasan digital yang dapat diikuti seluruh pengawas sekolah melalui program Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia,” kata Pangarso.

 

Penanya berikutnya, M. A’yunul Mubarok, pengawas PAI Kemenag Banyuwangi menanyakan tentang hilangnya Pendidikan karakter dalam pembelajaran daring. Menurut Zulhajidan, pembelajaran daring dapat memupuk banyak Pendidikan karakter. Misalnya dari kepatuhan siswa untuk mengikuti jadwal pembelajaran secara daring.

 

“Anak akan disiplin waktu. Selain itu juga menjadikan siswa lebih mandiri, karena akan berusaha belajar meski tidak bertemu langsung guru. Akan tumbuh juga karakter kerjasama. Selama pembelajaran daring, anak akan berusaha berkolaborasi dengan teman, kakak, atau orangtuanya, saat mereka menemukan permasalahan pembelajaran. Jadi akan ada karakter baru selama masa kebiasaan baru ini,” kata Zulhajidan.  

 

Sementara Rumita Dasra, pengawas sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Pelalawan, Provinsi  Riau, menanyakan bagaimana membangun sinergisitas dengan guru dan kepala sekolah agar dapat meningkatkan prestasi siswa dan sekolah. Menurut Pangraso, pengawas sekolah dapat menerapkan program yang sudah ia lakukan yakni melalui Silabi, atau Sinergi Latihan dan Bimbingan.

 

“Pertama, pengawas sekolah harus mampu melakukan pendekatan kondisi siswa di semua sekolah binaan. Pengawas sekolah harus menyesuaikan dengan era anak digital. Sehingga pengawas sekolah dapat membimbing guru agar mengajar dengan cara anak digital belajar. Guru dapat diikutkan pelatihan pembelajaran digital. Makanya pengawas harus punya kompetensi lebih, termasuk penguasaan TIK agar dapat memberikan pembinaan, pelatihan, dan pembimbingan kepada sekolah binaan,” ujar Pangarso.

 

Pertanyaan lain dilontarkan Kemas Umar Dani, pengawas SMA Dinas Pendidikan Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Kemas meminta contoh model dan strategi perencanaan kepengawasan manajerial dan akademik dengan format dan instrumen yang simpel. Zulhajidan menyarankan para pengawas mengikuti pelatihan daring yang dilaksanakan AKSI. Seperti disampaikan Ketua AKSI Agus Sukoco pada webinar sebelumnya, AKSI memberikan ragam pelatihan kepengawasan dengan metode SHU alias Simpel, Harmonis, dan Unik. 

 

“Dalam aplikasi e-pengawasan sudah simple. Jika guru menggunakan RPP satu lembar, maka pengawas sekolah juga membuat Rencana Pengawasan Akademik satu lembar saja. Arahnya kepengawasan akan simple, hanya pendampingan Akademik, Manajerial, dan Pelatihan,” katanya. 

 

 

 

Jakarta, 6 Juli 2020

 

Direktorat P3GTK

Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

Situs web: p3gtk.kemdikbud.go.id

Facebook: dit.p3gtk.kemdikbud

Instagram: dit.p3gtk.kemdikbud

Youtube: P3GTK Kemdikbud

Twitter: P3GTK_Kemdikbud

Tag:
Artikel Terkait