PERAN KEPALA SEKOLAH MASA ADAPTASI KEBIASAAN BARU

Bagikan

oleh DS

Jakarta, Direktorat P3GTK Kemendikbud---- Latar belakang sebagai guru seni dan budaya tetap mewarnai dalam kepemimpinan Dr. Dedi Nurhadiat, M.Pd., Kepala SMAN 1 Setu, Kabupaten Bekasi. “Kata, gambar, dan lagu” di tangan Dedi menjadi inovasi menarik yang bermanfaat untuk pembelajaran dan pelaksanaan adaptasi kebiasaan baru (AKB).

 

“Guru dalam pembelajaran dapat membuat inovasi dalam bentuk kata, lagu, dan gambar. Dapat dalam bentuk RPP alat peraga, media pembelajaran, pantun pembuka dan penutup pembelajaran, atau dengan menyanyikan lagu atau doa dari kitab suci,” kata Dedi, saat memaparkan makalah berjudul “Peranan Kepala Sekolah Saat Adaptasi Kebiasaan Baru”. Makalah disampaikan dalam Seri Webinar Guru Belajar: Kepala Sekolah dalam AKB Pasca-Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan Direktorat Profesi Pendidik dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan, pada 30 Juni 2020, melalui aplikasi zoom meeting dan disiarkan langsung di channel Youtube P3GTK Kemdikbud.

 

Dedi menggarisbawahi pentingnya sejumlah komponen pengelolaan sekolah di masa AKB yang harus dipahami para kepala sekolah. Komponen penting tersebut meliputi:

 

Tugas utama sekolah adalah keselamatan dan mencerdaskan

Di masa AKB, kepala sekolah bertanggung jawab agar sekolah berperan mengutamakan keselamatan semua warga sekolah. Fokus utama pada yang rentan terpapar covid-19. Misalnya yang berusia lanjut, memiliki riwayat penyakit penyerta, seperti diabetes, ganggung paru-paru, ginjal, autoimun dan ibu hamil. 

 

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) harus diutamakan

Di masa AKB, kepala sekolah melaksanakan MBS terbatas. Pelaksanaannya dibatasi, karena tidak seluruh komponen MBS dapat dilaksanakan secara tatap muka (luring), melainkan juga perpaduan daring, baik dengan media online conference atau aplikasi percakapan seeprti whatsapp.  

 

MBS juga sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar yang digaungkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim. “Melalui MBS, sekolah merdeka dalam merealisasikan AKB. Merdeka dalam menentukan desain gambar, lagu untuk sosialisasi AKB. Juga merdeka dalam menentukan metode pelaksanaan AKB dan pembelajaran,” kata Dedi.

 

Metode yang beragam perlu dilakukan dalam membuka dan menutup pembelajaran virtual. “Misalnya dengan mengawali pesan keselamatan sebelum melaksanakan blended learning. Dalam blended learning harus disertai monitor perekam gambar atau siaran langsung untuk keamanan bagi Kesehatan,” kata Dedi. Jika diperlukan, pembelajaran virtual juga melibatkan psikolog. Di antaranya dalam menentukan kapan anak tepat memulai belajar, kapan anak jenuh belajar virtual, bagaimana pula solusinya.

Peran kepala sekolah sebagai manajer

Peran sebagai manager menjadi kunci utama dalam pengelolaan sekolah, dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

 

Kejenuhan pembelajaran virtual

Kepala sekolah harus memantau pembelajaran virtual para guru. Sejumlah persoalan yang harus dihindari dalam pembelajaran daring misalnya materi tidak monoton, jaringan internet tidak sering mengalami gangguan, siswa kurang antusias, dan guru yang kurang berimprovisasi.  

 

Kejenuhan pembelajaran virtual dapat dikurangi dengan sejumlah cara, di antaranya: tema bersama, membangun antusias pribadi siswa, pemberian simbol, dan pemberian penghargaan. Tema bersama harus disosialisasikan dengan unik, ada keterkaitan erat antar-bidang studi, ajakan yang memotivasi semangat siswa.

 

“Misalnya tema yang diajarkan guru biologi, akan dilanjutkan oleh guru matematika dari sisi perhitungan sehingga pembelajaran menarik, dan ditunggu siswa. Jadi ada tema berkesinambungan antar-bidang studi,” kata Dedi. Dedi membagi tips memilih tema menarik, di antaranya: sedang hangat diperbincangkan, sesuai dengan psikologi perkembangan siswa, juga tema yang sesuai dengan psikologi sosial.

 

Metodologi pembelajaran virtual yang solutif

Pembelajaran virtual bukan semata untuk tujuan penyampaian materi bidang studi. Pemilihan metodologi, diharapkan juga mampu menjalin kerja bersama dalam sebuah tim; menggabungkan beberapa metode proyek sesuai kesepakatan; mendorong berkompetisi sehat antar-kelompok. “Misalnya ada tugas kelompok kepada siswa, jika digabungkan akan menjadi satu karya bersama,” kata Dedi. 

Artikel Terkait