Praktik Baik Pembelajaran Daring di SMP Nasional KPS Balikpapan

Bagikan

oleh DS

Pandemi Covid-19 menjadikan seluruh warga sekolah semakin akrab dengan internet. Seluruh siswa di SMP Nasional KPS Balikpapan bahkan sudah terb biasa menggunakan internet di rumah mereka sebelum masa pandemi. “Kami sudah survei, 92 persen orangtua siswa berlangganan internet di rumah. Sisanya, 8 persen orangtua siswa menggunakan paket data internet pada ponsel android,” kata Ita Saripati, M.Pd, Kepala SMP Nasional KPS Balikapan.  

Ita Saripati sebagai pembicara ketiga, menyampaikannya pada Webinar Seri Guru Belajar episode ke-20, pada Senin, 3 Agustus 2020. Seri Webinar diselenggarakan secara berkelanjutan oleh Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (Dit. P3GTK) sepanjang bulan Juli 2020. Webinar dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis, pukul 09.00-11.00 melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube, P3GTK Kemdikbud.

Ita pun tak ragu melaksanakan pembelajaran daring, ketika kebijakan Belajar dari Rumah (BDR) dilaksanakan di semua sekolah pada masa pandemi Covid-19. “Saya selalu mengawal BDR secara daring, bersama para guru. Guru dapat melakukan pembelajaran daring di sekolah, jika fasilitas guru di rumah tidak mencukupi untuk melaksanakan pembelajaran daring,” kata Ita.

Tantangan Kepala Sekolah

Selama BDR, Ita Saripati sebagai kepala sekolah sudah berperan setidaknya pada lima hal. Yakni: 1) Mendayagunakan seluruh komponen pendidikan untuk pembelajaran dengan suasana yang berbeda; 2) Memberikan semangat dan apresiasi kepada guru, siswa, dan orangtua siswa; 3) Melakukan pelatihan daring secara singkat mengenal BDR; 4) Melakukan komunikasi multiarah dalam upaya sterilisasi satuan pendidikan sesuai protokol covid 19; dan 5) Koordinasi, sinkronisasi, dan komunikasi dengan berbagai wahana daring (zoom, google meet, microsoft teams, dll).

Tantangan selama BDR yang ditemui Ita, di antaranya, keberagaman kemampuan IT, baik pendidik dan tenaga kependidikan, juga siswa. Tantangan lainnya adalah akses internet sekolah yang belum maksimal; juga soal keberagaman kemampuan guru dalam menerjemahkan kata operasional KD/IPK (kurikulum) dalam instruksi di aplikasi IT selama BDR.

“Selain itu juga ada tantangan berupa kesulitan siswa dalam memperoleh persepsi yang sama di awal video conference BDR. Anak-anak di rumah harus sudah siap BDR daring setiap pukul 7.30 melalui microsoft teams. Pukul 8 pembelajaran dimulai. Awalnya anak masih malu membuka video, sehingga butuh peran wali kelas,” kata Ita. 

Menjadi tantangan paling berat juga bagi kepala sekolah adalah harapan orang tua terhadap proses BDR yang masih menganggap sama dengan pembelajaran normal. “Kepala sekolah dan guru harus memiliki kesabaran luar biasa untuk menjelasakan kepada orangtua siswa. Orangtua siswa banyak yang mengeluh selama BDR. Ada yang mengusulkan BDR daring dilakukan 7 jam. Tentunya kami sampaikan tidak mungkin anak dapat bertahan lama belajar di depan laptop,” kata Ita.

Peluang Menghadapi Pandemi

Ita menjawab beragam tantangan tersebut dengan mewujudkan peluang-peluang. Di antaranya adalah meningkatkan kemampuan IT pada guru. “Kami sudah menyusun pembelajaran daring terstandar, menurut standar sekolah kami,” katanya. Kemampuan IT juga ditingkatkan bagi peserta didik. “Peran wali kelas sangat besar dalam membimbing siswa, khususnya siswa kelas 7.”

Ita meningkatkan kualitas sarpras IT, termasuk bandwith internet di sekolah. Sebelumnya kecepatan internet 50 Mbps ditingkatkan menjadi 100 Mbps. Selain itu, Ita juga membiasakan bahasa komunikasi IT bagi guru dan siswa. Keberhasilan sekolah dalam menghadapi tantangan selama pandemi, berbuah pada meningkatnya kreativitas guru dan siswa. Di antaranya mendirikan KPST, rapor online, pengumuman kelulusan online, GG Online, remedial online, pemilu OSIS online, dan ekstra kurikulum online.

Pandemi juga mendorong terciptanya keragaman life skill siswa bersama orang tua. “Siswa sebelumnya tidak bisa mencuci piring, menyapu, dan pekerjaan rumah tangga lain, semasa pandemi mereka jadi bisa,” kata Ita. Ada juga siswa yang mencoba berkebun, bermain musik bersama orangtua. Sekolah juga membangun kepedulian sesama atas pandemi covid-19, dengan menggalang dana bantuan bagi masyarakat terdampak.

Artikel Terkait