PROFIL PENGAWAS SEKOLAH DALAM TRANSFORMASI PENDIDIKAN

Bagikan

oleh P3GTK

Jakarta, Direktorat P3GTK, Kemendikbud---Penyebaran Covid-19 di seluruh dunia mengubah tatanan hidup orang. Orang harus beradaptasi dengan kebiasaan baru, termasuk dalam pekerjaan. “Pandemi juga mengakibatkan pergeseran pola pendidikan. Perubahan kerangka kerja transformasi pendidikan ini juga menyebabkan peran pengawas sekolah berubah, harus menyesuaikan diri menuju tatanan baru pendidikan,” kata Pangarso Yuliatmoko, M.Pd., Pengawas SMK pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

 

Pangarso menjadi pembicara pertama pada Seri Webinar Guru Belajar edisi keempat, bertema “Peran dan Profil Pengawas Sekolah pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal)”. Webinar diselenggarakan Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan GTK pada Senin, 6 Juli 2020, pukul 09.00-11.00, melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung di kanal Youtube, P3GTK Kemendikbud. 

 

Kepemimpinan dan Cetak Biru Teknologi

Menurut Pangarso, ada empat kerangka kerja transformasi pendidikan yang harus dimiliki pengawas sekolah, yakni: Kepemimpinan dan Kebijakan Transformatif, Pengajaran dan Pembelajaran, Lingkungan Cerdas, dan Cetak Biru Teknologi.

 

Dalam kepemimpinan dan kebijakan transformatif, setidaknya ada empat poin yang harus dipahami pengawas sekolah. Pertama, pengawas sekolah selalu memiliki visi untuk perubahan. Sebuah visi bersama yang terbuka untuk sistem sekolah yang mewakili siswa, pengajar, dan masyarakat. Pengawas juga harus memiliki fleksibilitas untuk melakukan revisi berkelanjutan guna mengatasi perubahan yang terjadi secara terus menerus.

 

Kedua, pengawas juga harus mampu membuat perencanaan strategis dengan jaminan kualitas. Pemantauan dan evaluasi pengawas sekolah dapat membantu transformasi dalam menentukan dan menilai kualitas, serta mengukur kemajuan. “Pengawas juga harus berperan untuk meningkatkan partisipasi pemangku kepentingan dan juga memberdayakan para pemimpin untuk mendorong sebuah perubahan,” katanya.

 

Ketiga, pengawas harus mampu menjalin kemitraan dan pengembangan kemampuan. Kemitraan yang efektif dapat meningkatkan prestasi siswa, mengefisiensikan biaya. Pemahaman yang jelas tentang organisasi, baik pemerintah dan swasta yang terlibat, memastikan tercapainya kerja tim  yang sukses dan maksimal.

 

Keempat, inklusi dan aksebilitas. Pengawas harus mendorong sekolah menjadikan siswa mengambil tanggung jawab lebih besar atas pembelajaran mereka, mengembangkan keterampilan teknologi yang mudah diakses yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh siswa.

 

Pengajaran dan Pembelajaran Modern

Covid-19 juga telah mengubah tatanan guru dalam mengajar. Akibatnya pola pembelajaran antara guru dengan siswa yang tadinya dilakukan secara konvensional berubah menjadi pola pembelajaran modern. Untuk itu, agar kepala sekolah dan guru dapat beradaptasi secara cepat dengan pola-pola pembelajaran harus terus mengasah dan mengembangkan diri.

 

Pembelajaran harus lebih profesional dan dilakukan secara efektif. Di antaranya, dengan mendorong kolaborasi antarsiswa, observasi ruang kelas, dan umpan balik guru dalam tugas, yang akan menumbuhkan rasa kebersamaan.

 

Pengawas sekolah harus mendorong guru agar pembelajaran dimaksimalkan dengan baik. Harapannya dapat menciptakan pendidikan yang memberikan pengalaman yang memotivasi siswa, menarik, dan relevan, untuk semua siswa.

 

Agar guru mampu memberikan pengalaman mendalam bagi siswa diperlukan peran penting pengawas sekolah. Menurut Pangarso, bukti menunjukkan bahwa siswa akan memperoleh manfaat dari pengalaman yang mereka dapat, dari menggunakan indra dan menjelajahi lingkungan. Baik itu orang, benda, tempat, maupun peristiwa. Hubungan yang lebih kuat pun tercipta antara siswa dengan dunia nyata. “Pembelajaran harus kita konsepkan luas ke luar. Tidak hanya terkait lingkup kelas,” ujarnya.

 

Terkait kurikulum dan penilaian, menurut Pangarso, alat penilaian dapat digunakan sebagai dasar untuk pembelajaran dan tes siswa dengan model trial and error. Sekolah juga dapat menciptakan lingkungan penilaian yang merupakan bagian dari kurikulum.

 

Lingkungan Cerdas

Menurut Pangarso, untuk bisa menciptakan sebuah lingkungan yang cerdas, pengawas sekolah harus berkolaborasi secara kreatif di ruang kerja yang fleksibel. Pengawas dapat menciptakan cara kerja yang lebih berkelanjutan dan hemat energi serta menyediakan keamanan yang responsif dan terkondisi koordinasi untuk menjaga keamanan komunitas pembelajaran.

 

Cetak Biru Teknologi

Dalam era digital diperlukan cetak biru teknologi dalam lingkungan pendidikan. Sebuah teknologi yang handal dan responsip yang didorong oleh data yang memberdayakan siswa, pengajar dan admin untuk membuat pencapaian yang lebih baik setiap hari di ruang kelas modern.  “Transformasi pendidikan ini mendorong peran pengawas sekolah untuk berubah,” kata Pangarso.

 

Peran dan Fungsi Pengawas  di Sekolah

Menurut Pangarso, perang dan fungsi  seorang pengawas di sekolah binaan saat ini harus bertransformasi. Ia menilai, ketika sekolah bertansformasi, peran pengawas pun harus ikut bertransformasi. Dari awalnya melakukan identifikasi mutu sekolah binaan hingga memberikan peta konsep. Sekarang peran Pengawas menjadi tiga bagian yang sangat penting, yakni sebagai pelatih, sebagai pembimbing, dan juga sebagai pendamping. “Peran Pengawas saat ini sangat penting dalam melatih guru dan sekolah binaan. Setelah dilatih guru dan kepala sekolah harus dibimbing dan didampingi supaya semua tujuan dapat tercapai,” ujarnya.

 

Oleh karena itu, Pangaraso berharap, program pelatihan, pembimbingan dan pendampingan mampu meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan tuntutan transformasi pendidikan di abad 21. “ Jadi perubahan peran dan fungsi Pengawas sekolah di masa pandemi ini maupun di masa depan terkait tiga hal tersebut,” tuturnya.

 

Pengawas Sekolah Masa Depan

 

Pengawas sekolah masa depan, menurut Pangarso, harus visioner, mampu menjadi manajer, kolaboratif, terbuka, menginspirasi dan memotivasi, serta responsive. Pengawas sekolah harus bisa mengembangkan visi yang jelas dan ringkas untuk mendorong dan menciptakan momentum yang berdampak jangka panjang. Pengawas juga harus berlaku menjadi seorang manajer. Mempunyai pendekatan manajemen yang terprogram dan memiliki perencanaan efektif untuk mencapai alur kerja. Selain itu pengawas di masa depan harus memiliki jaminan kualitas yang terukur serta tata kelola yang kuat.

 

Pengawas sekolah juga harus mampu berkolaborasi membangun kemitraan dengan berbagai organisasi publik maupun swasta dalam strategi jangka panjang. Guna membantu meningkatkan kapasitas melalui digitalisasi administrasi dan manajemen atau meningkatkan keterampilan pendidik. Pengawas juga harus terbuka mendukung inklusi sosial dengan membuat teknologi yang lebih mudah diakses dalam pemenuhan kebutuhan siswa. “Digitalisasi pengawasan sudah saatnya kita lakukan. Sebagai pengawas kita harus menciptakan akses yang mudah yang sesuai dengan kebutuhan para siswa,” Pangarso menerangkan.

 

Pengawas sekolah di masa depan pun harus menginspirasi dan memotivasi guru dengan melaksanakan pembimbingan yang profesional dengan berbagai ide, startegi, dan juga berbagai keberhasilan pendidik. Guru perlu dimotivasi dan menjadi inspirator dalam menciptakan inovasi sehingga mampu memajukan pendidikan di sekolah.    

 

Pengawas masa depan harus responsif dan mudah beradaptasi terhadap perubahan sehingga dapat memecahkan masalah pendidikan sesuai kebutuhan. Seorang pengawas sekolah harus memiliki kecakapan dan ketanggapan dalam menghadapi setiap perubahan dalam melaksanakan pola pembelajaran dan manajemen. “Pengawas harus responsif, siap sedia, dan mengetahui apa yang dibutuhkan sekolah binaan supaya bisa beradaptasi di era new normal ini,” ujar Pangarso.

 

Implementasi Kepengawasan Sekolah

 

Di masa pandemi, pengawas sekolah harus segera melakukan persiapan kepengawasan. Yang pertama memeriksa kesiapan sekolah dan guru dalam melaksanakan pembelajaran dari rumah. “Kita pantau sekolah-sekolah, bagaimana kegiatan guru-guru dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh dari rumah secara rutin,” kata Pangarso.

 

Untuk melihat hasil belajar, Pangarso melakukan suvei terhadap hasil belajar siswa di sekolah binaan. Ia bertanya terkait tingkat kepuasan mereka dalam melaksanakan pembelajaran dari rumah yang dilakukan oleh guru. Ia dapat melihat apakah pembelajaran yang dilakukan dari rumah dapat berjalan efektif dan bisa meningkatkan prestasi serta kreativitas siswa di rumah.

 

Hasilnya, kata Pangarso, siswa dapat tetap belajar dengan baik dan tetap bisa berkarya dan berkreasi walaupun belajar dari rumah. Mereka tak kalah dengan anak-anak yang belajar dari sekolah. “Hasilnya sangat luar biasa,” ujar Pangarso yang bersyukur karena pelatihan, pembimbingan dan pendampingan yang dilakukan kepada sekolah dan guru-guru binaan di masa pandemi ini membuat mereka siap dalam menghadapi pembelajaran jarak jauh.

 

Digitalisasi Kepengawasan

Digitalisasi dalam tugas pengawas sekolah sudah sangat urgen dilakukan. Baik dalam pemantau kepada sekolah binaan maupun guru-guru binaan. Saat ini dapat dilakukan secara daring memanfaatkan aplikasi, seperti onenote class notebook, aplikasi dari Micorosft Office 365.

 

Pengawas harus mampu beradaptasi dengan menggunakan teknologi. Pengawas harus menjadi garda paling depan dalam menggunakan teknologi. Pengawas harus mampu melatih, membimbing dan mendampingi guru. “Jadi sebelum guru mampu menggunakan media digital seharusnya pengawas sekolah lebih mampu terlebih dahulu. Pemanfaatan teknologi bagi pengawas menjadi hal sangat penting,” Pangarso menuturkan. Dengan teknologi, pengawas bisa melaksanakan tiga pekerjaan secara daring, yakni pembinaan, pelatihan, pembimbingan.

 

Penggunaan Aplikasi E-KTSP

Di Jawa Tengah, kata Pangarso, saat ini telah ada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berbasis aplikasi, e-ktsp. Aplikasi dapat digunakan sekolah untuk mengesahkan KTSP. Melalui aplikasi ini, sekolah tak perlu berbondong-bondong pergi ke Dinas Pendidikan untuk membawa dokumen KTSP untuk meminta tanda tangan. “Kita gunakan dari awal tahap perencanaan, penyusunan, penetapan, hingga pengesahan, semua ada di dalam aplikasi ini,” katanya.

 

Kehadiran e-ktsp sangat membantu pengawas dan sekolah binaan dalam melakukan verifikasi secara daring. “Masa new normal ini mau tidak mau memaksa kita untuk berubah. Tidak lagi seperti dulu yang mengumpulkan orang banyak, pelatihan di ruangan dengan banyak orang. Ketika konsultasi harus bertatap muka langsung. Kita tidak bisa seperti itu,” Pangarso menambahkan.

 

 

 

Jakarta, 6 Juli 2020

Direktorat P3GTK

Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

Situs web: p3gtk.kemdikbud.go.id

Facebook: dit.p3gtk.kemdikbud

Instagram: dit.p3gtk.kemdikbud

Youtube: P3GTK Kemdikbud

Twitter: P3GTK_Kemdikbud

Tag:
Artikel Terkait