Refleksi Peran Organisasi Profesi sebagai mitra Ditjen GTK untuk mewujudkan profesionalisme dalam transformasi GTK

Bagikan

oleh DS

Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan melalui Pokja Pengembangan Organisasi Profesi mengundang 2 orang perwakilan mitra Organisasi Profesi GTK dari 35 Organisasi Profesi unsur Guru-Guru mapel, guru/pendidik PAUD, guru Pendidikan khusus, Kepala Sekolah, sampai dengan Pengawas Sekolah.

 

Kegiatan dilaksanakan di Hotel Aryaduta mulai tanggal 31 Agustus 2020 dibuka oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Dr. Iwan Syahril, Ph.D yang memulai dengan cerita asal-usul Bangsa Indonesia yang besar melalui pemuda pemudi Indonesia yang mempersatukan dan memajukan persatuan Indonesia. Awalnya, dibahas dengan mengapa Lagu Indonesia 3 Stanza dinyanyikan sebagai dasar pembukaan acara sampai dengan Bahasa Indonesia dahulu hanya 5% orang yang baru memulainya.

 

Makna sumpah pemuda sebagai referensi adalah sejarah yang melahirkan cita-cita pemuda pemudi Indonesia dari berbagai macam etnis dan agama walaupun 60 % orang jawa, 15 % orang sunda ini semua adalah untuk memperkuat kesadaran kebangsaan dan kemauan memperteguh Indonesia. Kesepatakan antara pemuda-pemudi dari kelompok yang berbeda-beda yang menghasilkan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, tidak dapat didapatkan secara instan dari kongres pemuda 1926 yang pertama maupun kongres yang kedua pada tahun 1928.

 

Iwan Syahril menyampaikan mempunyai mimpi, ingin memfasilitasi dengan tujuan yang jelas mempunyai organisasi profesi GTK yang Bersatu, yang memperkuat persatuan untuk memperjuangkan Pendidikan Pendidikan Indonesia. Mencari solusi, mencari gagasan seperti halnya sumpah pemuda, perlu ada proses akan tetapi kita sudah mempunyai teks, sudah mempunyai guru-guru teladan, guru berdedikasi, guru berprestasi.

 

Untuk memperkuat Organisasi Profesi sebagai mitra Ditjen GTK, Iwan Syahril mengajak untuk Bersatu, berkerjasama, bergotong royong, dan bersinergi agar melakukan refleksi bersama dari bawah ke atas (bottom to up) dalam mengembangkan profesi guru dengan melihat tantangan, hambatan, identifikasi dan mencari solusi bersama untuk memajukan Pendidikan Indonesia yang berpusat pada murid bukan memikirkan kita akan tetapi memikirkan pendidikan untuk masa depan Indonesia.

 

Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D dalam materi transformasi peran organisasi profesi GTK mengungkapkan bagaimana perjuangan dalam menyusun Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 sebagai dasar peraturan untuk organisasi profesi dalam pengembangan organisasi profesi dimana setiap guru wajib menjadi anggota organisasi profesi, perjuangan anggaran APBN 20% untuk bidang Pendidikan dan untuk sertifikasi guru.

 

Menurut Fasli Jalal, keberhasilan negara-negara Amerika, Jepang, Finland dalam kode etik, bantuan hukum perlindungan profesi, pembinaan dan pengembangan profesi guru tidak bisa sepenuhnya di jalankan di Indonesia karena perbedaan budaya dan regulasi proses rekrutmen guru, seleksi guru maupun profesi guru sebagai seorang pendidik. Di Amerika seorang guru ada di Sekolah mulai pukul 9.00 pagi sampai pukul 17.00 sore sedangkan di Indonesia hanya 24 jam guru mengajar.

 

Sebagai contoh untuk profesi Dokter sebagai Ikatan Dokter Indonesia, untuk ujian profesi dan ujian akhir diakuinya sebagai Dokter adalah melalui penilaian akhir dari organisasi profesi dan konsorsium bukan dari Perguruan Tinggi, memang untuk guru diharapkan seperti ini, ucap Fasli Jalal.

 

Untuk menjadi Guru yang professional dalam hal ini membutuhkan Kartu Tanda Pendidik (KTP) yaitu NUPTK, sedangankan untuk Surat Izin Mengajar (SIM) sebagai dasar mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, mengevaluasi yang dinilai dan diawasi oleh organisasi profesi disinilah kedepan peran organisasi profesi untuk transformasi GTK agar tatakelola GTK semakin baik dan semakin maju.

 

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh

 

Artikel Terkait