REVITALISASI MBS PADA MASA ADAPTASI KEBIASAAN BARU

Bagikan

oleh P3GTK

Weilin Han, M.Sc., pembicara pertama dalam Seri Webinar Guru Belajar langsung melempar tiga pertanyaan kepada peserta. Peserta diminta menjawab tiga pertanyaan melalui situs web www.menti.com. Menurut Weilin, tiga pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan kesehatan mental murid-murid di masa pandemi: Hal apa saja yang pihak sekolah komunikasikan kepada para orang tua murid? Bagaimana pihak sekolah memastikan kesehatan mental para murid? Kegiatan apa saja yang pihak sekolah lakukan untuk menjaga kesehatan mental para murid?

 

Dari jawaban para peserta, Weilin melihat begitu banyak variasi jawabannya. Tampak dalam layar warna dan ukuran tulisan semakin lama semakin kecil membentuk sebuah gambar. Dengan hasil tersebut, Weilin merasa senang atas apresiasi yang diberikan peserta webinar. Jawaban yang diberikan sesuai dengan apa yang diharapkannya. “Luar biasa. Terima kasih atas partisipasinya di menti ini,” tutur Weilin.

 

Sebelum memasuki tahun jaran baru, Weilin mengajak sekolah melakukan komunikasi bersama komite sekolah dan orang tua. Tujuannya melakukan evaluasi PJJ atau BDR yang sudah berjalan selama 3 bulan. Mereka berkomunkasi metode yang digunakan di masa transisi serta menyampaikan rancangan sekolah untuk tahun ajaran baru. “Bukan hanya apa yang menjadi minat dan bakat murid tercapai, tetapi juga kesehatan mental anak diperhatikan,” tuturnya. Lihat: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak.

 

Kepemimpinan Berbasis Merdeka Belajar

 

Seri Webinar Guru Belajar ketiga ini mengangkat tema “Revitalisasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Merdeka Belajar”. Webinar yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan GTK pada Kamis, 2 Juli 2020 ini dapat diikuti melalui aplikasi zoom meeting dan disiarkan langsung di kanal Youtube P3GTK Kemdikbud. Kegiatan menghadirkan Sekretaris Ditjen GTK Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Ed, Weilin Han, M.Sc (Konsultan Bidang Pembelajaran), dan Rosmayanti Mutiara (Kepala SD Cikal Serpong).

 

Sayangnya Ibu Seditjen GTK berhalangan hadir, karena dalam waktu bersamaan harus mendampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi X DPR. Webinar yang dipandu M. Dzaky F. Surapranata, SE., M.Comm, analis kebijakan ahli muda Direktorat P3GTK ini tetap berjalan menarik bagi 500 peserta.

 

Pembicara kedua, Rosmayanti Mutiara, memaparkan makalah berjudul Kepemimpinan Berbasis Merdeka Belajar. Sekolah Cikal dikenal sebagai sekolah yang mengedepankan kemampuan dan minat siswa. Siswa dapat bermain sekaligus belajar di bangunan yang melekat dengan alam dan area bermain. Sekolah ini memiliki kurikulum International Baccalaureate (IB). Cikal juga tidak memiliki mata pelajaran khusus tapi siswa mengembangkannya melalui praktik. Dengan semua lingkungan yang hangat dan komunitas yang ramah dan bersahabat, para siswa merasa seperti di rumah bersama keluarga. Sekolah Cikal Cilandak mendapat ijin dari International Baccalaureate sebagai Program Tahun Dasar International Baccalaureate.

Pada fase kenormalan baru, kata Rosmayanti, pimpinan sekolah dan jajarannya menghadapi kebutuhan sekolah untuk bertransformasi menuju kebiasaan baru dengan tetap menjaga merdeka belajar. Di sekolah Cikal, sebelum pandemic covid-19, sudah merintis sebagai sekolah merdeka belajar yang sudah diterapkan sejak tiga tahun silam. Setidaknya ada lima hal, yang menjadi refleksi sekolah dalam menerapkan merdeka belajar, yakni: perubahan, mengenali perasaan, mengenali diri, bersiap, dan bergerak.

 

“Kami juga aktif mendengar dan melakukan banyak komunikasi semua komunitas warga sekolah, kemudian membuat kesepakatan dan kebiasaan baru, membuka banyak jejaring, dan melakukan kolaborasi,” kata Rosmayanti. Lihat: Kepemimpinan Berbasis Merdeka Belajar.

 

TUGAS SISWA TIDAK HARUS BERBASIS INTERNET

 

Pada sesi tanya jawab, soal keterbatasan sarana prasarana dan infrastruktur jaringan internet masih mengemuka. Misalnya yang ditanyakan Zainul Fanani, SDN Kalak I Surabaya. Bagaimana bila sekolah sebagian besar siswanya secara kemampuan ekonomi orangtua mereka pas-pasan. Anak-anak kesulitan membeli paket internet?

 

Menurut Weilin, guru memang harus memahami kondisi ekonomi orangtua siswa. Ia mengajak guru menerapkan pemikiran dengan pola asset based thinking, atau menggunakan potensi yang ada di sekolah. “Misalnya mengajak anak didik apa kekuatan mereka, ada keakraban, keluargaan sebagai modal, ada rumah bersama. Tugas kepada siswa, bagaimana melibatkan murid membantu orangtuanya yang jualan, dapat berupa membuat pembukuan, jadwal pembelian. Ini dapat masuk pelajaraan matematika, IPS. Atau memastikan rumah dalam keadaan yang bersih,” kata Weilin.

 

Tugas guru kepada murid tidak selalu harus yang berkaitan dengan internet. Weilin mencontohkan tugas guru kepada siswanya menyiapkan bukber keluarga, memangkas rambut teman-temannya. “Banyak hal yang tidak melulu jaringan internet. Dapat pula dengan memberikan tugas secara offline,” katanya.

 

Wahdinah, SPd. MPd, guru dari Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Selatan, juga merasa kesulitan melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Weilin kembali menegaskan  bahwa pembelajaraan di masa pandemi, patokan utama bukan buku teks atau kurikulum, melainkan guru melayani siswa agar tetap dapat belajar.

 

“Apakah dengan PJJ atau tatap muka biasa, guru perlu mengenali murid-muridnya. Misalnya, ketika topiknya pemanasan global, guru dapat memberikan tugas siswa membuat pantun, bersih-bersih rumah, menanam pohon. Intinya mencari bentuk kemerdekaan murid yang beragam,” kata Weilin.

 

Sebagai sosialisasi memasuki tahun ajaran baru 2020/2021, Weilin meminta sekolah membuat daftar yang perlu disiapkan sekolah pada masa AKB. Weilin menyarankan sekolah masuk ke situs web WHO yang sudah ada daftar yang perlu disiapkan sekolah. “Ada juga panduan dari Dinas Pendidikan Jawa Barat bagi sekolah memasuki tahun ajaran baru di masa AKB,” katanya.

 

Yustinawati, pengawas SMP Kota Palembang juga menanyakan sulitnya supervisi akademik selama diterapkannya PJJ dan BDR. Pada jenjang SMP, ada 1o mapel yang diampu 10 guru. “Kami memahami, bahwa pembelajarn tidak untuk menuntaskan target kurikulum, tapi lebih pada sikap positif siswa. Bagaimana semua guru menuangkan tugas secara riil, sehingga guru satu dan guru lain, tidak berbenturan,” kata Yustinawati.

 

Menurut Weilin, selama ini guru terpaku bahwa pembelajaran tematik hanya pada jenjang SD. Padahal, pelajaran tematik terintegrasi dapat diterapkan di semua jenjang. “Harus ada rapat diantara semua guru, bicarakan indikator yang wajib dicapai masing-masing, baru dibicarakan teknis setiap mata pelajaran. Misalnya, tentang topik pemanasan global, guru IPA dapat masuk, atau guru fisika SMA, juga guru bahasa untuk menilai kebahasaan. Ada proses yang bisa dilaksanakan bersama, yakni pelajaran terintegrasi justru saat pandemi,” kaya Weilin.

 

Rachmad, guru SMP Aceh Singkil, menanyakan stretagi pembelajaran yang tepat buat sekolahnya yang berada di kawasan zona hijau, pada tahun ajaran baru nanti. Menurut Wei, selama ini guru masih terpaku melihat ruang kelas hanya berupa ruang yang dibatasi dinding. Padahal halaman sekolah, lingkungan sekolah, alam raya pun sejatinya kelas untuk belajar.

 

“Ini kesempatan bagi semua guru untuk menggali, mengeksplorasi, menggunakan kebebasan untuk menggunakan kelas yang sudah Tuhan berikan,” katanya. “Ruang kelas tidak lagi berbatas. Ingat juga bahwa siswa sekarang diharapkan learning, bukan studying.”

 

Weilin juga meminta para guru mengenali siswa, dari pembelajaran selama pandemi, dapat dikembangkan untuk mengetahui apa cita-cita anak. Anak bisa diajak membuat renstra untuk mencapai cita-citanya. Jadi renstra pun dapat dibuat siswa.”

 

 

 

 

Jakarta, 2 Juli 2020

 

Direktorat P3GTK

Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

Situs web: p3gtk.kemdikbud.go.id

Facebook: dit.p3gtk.kemdikbud

Instagram: dit.p3gtk.kemdikbud

Youtube: P3GTK Kemdikbud

Twitter: P3GTK_Kemdikbud

Tag: webinar
Artikel Terkait