Suka Duka Guru Dan Kepala Sekolah Binaan Work From Home Di Masa Covid19

Bagikan

oleh P3GTK

 

Di saat kami #sahabatprofesigtk; guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, dan pengawas sekolah, lagi asyik-asyiknya melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab sesuai dengan tugas pokok masing-masing, tiba-tiba kami dikejutkan dengan berita tentang penyebaran suatu virus yang lebih dikenal dengan sebutan Virus Corona atau Covid-19.  Virus ini dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernafasan, namun virus ini juga bisa menyebabkan gangguan berat pada pada paru-paru sehingga mengakibatkan kematian.

Berita maraknya wabah covid-19 ini awalnya kami peroleh dari tayangan media elektronik dan media sosial di akhir tahun 2019. Melalui media tersebut kami dapat memperoleh informasi bahwa penyebaran virus corona ini bermula dari kota Wuhan, provinsi Hubei, China, kemudian terus berkembang ke seluruh dunia termasuk Indonesia dan menewaskan ratusan ribu manusia.

Ada beberapa langkah dan upaya pemerintah Indonesia dalam menangani dan menghadapi covid-19 ini, salah satunya adalah Work From Home yang bertujuan untuk meminimalisir penyebaran virus corono tersebut. Untuk itu pemerintah menghimbau masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Himbauan ini juga telah ditindaklanjuti oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi melalui Surat Edaran Nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam Upaya Pencegahan Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintah. Isinya bahwa ASN dapat bekerja di rumah/tempat tinggal, tetapi dipastikan ada dua level pejabat struktural tertinggi yang bekerja di kantor. Selain itu, ada larangan kegiatan tatap muka yang menghadirkan banyak peserta untuk ditunda atau dibatalkan.

Selanjutnya himbauan ini juga ditindaklanjuti oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran CoronaVirus Disease (Covid-19). Isi dari edaran tersebut adalah berkenaan dengan penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) yang semakin meningkat maka kesehatan lahir dan batin siswa, guru, kepala sekolah dan seluruh warga sekolah menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan kebijakan pendidikan. Dalam Surat Edaran tersebut ada beberapa hal yang perlu dicermati dan dilaksanakan, salah satunya adalah tentang Proses Belajar dari Rumah. Proses Belajar dari Rumah dilaksanakan dengan beberapa ketentuan; a. Belajar dari Rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan; b. Belajar dari Rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19; c. Aktivitas dan tugas pembelajaran Belajar dari Rumah dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah; d. Bukti atau produk aktivitas Belajar dari Rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.

Himbauan pemerintah untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari Rumah telah dilaksanakan oleh seluruh masyarakat tak terkecuali warga sekolah, karena mereka sangat menyadari bahwa stay at home/work from home dan terus berdoa kepada Tuhan Yang Kuasa adalah cara yang paling ampuh untuk memutus mata rantai penyebaran Coronavirus disease (Covid-19) ini. Implementasi Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran CoronaVirus Disease (Covid-19) dapat dilihat dalam tabel 1. Laporan Kegiatan Belajar Mengajar Dari Rumah Sekolah Binaan.

Tabel 1. LAPORAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DARI RUMAH

OLEH SEKOLAH BINAAN

   Pengawas Pembina: Dra. KARNIYANI, M.Pd

NO

SEKOLAH

STRATEGI PEMBELAJARAN

KETERANGAN

DARING

LURING

1

SMP Negeri 15 Sigi

1.     Pemberian tugas dari guru mata pelajaran dikirim sebagian besar melalui WA group. Untuk mata pelajaran Matematika (Ibu Dwi Wahyuni, S.Pd) pemberian tugas dikirim melalui WhatsApp, Massenger Facebook dan Telegram. Ibu Dwi juga membuat konten youtube untuk membahas soal yang ditugaskan.

2.     Siswa juga belajar dengan menonton materi-materi yang ditayangkan di TVRI dan hasil pembelajarannya dirangkum dan dikirim melalui WA group.

Siswa belajar di rumah/mengerjakan tugas di rumah saja dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang dipinjamkan dari sekolah sebelum aktifitas Work From Home diberlakukan.

Tidak semua siswa berkesempatan   mengikuti pembelajaran Daring karena tidak memiliki fasilitas smartphone dan tidak mampu membeli paket data. 

2

SMP Negeri 13 Sigi

1.     Ada beberapa guru mata pelajaran yang memberikan tugas melalui WhatsApp.

2.     Siswa juga belajar dengan menonton materi-materi yang ditayangkan di TVRI dan hasil pembelajarannya dirangkum siswa dan akan dikumpulkan kepada guru yang memberikan tugas.

Sebagian besar guru mata pelajaran menggunakan strategi pembelajaran Luring, yakni pemberian tugas kepada siswa dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang dipinjamkan dari sekolah sebelum aktifitas Work From Home diberlakukan.

 

Tidak semua siswa berkesempatan   mengikuti pembelajaran Daring karena tidak memiliki fasilitas smartphone dan tidak mampu membeli paket data

3

SMP Negeri 18 Sigi

1.     Pemberian tugas dari guru mata pelajaran juga dapat terselenggara melalui WhatsApp

2.     Siswa juga belajar materi-materi yang ditayangkan di TVRI dan hasil pembelajarannya dirangkum siswa dan akan dikumpulkan kepada guru yang memberikan tugas.

Sebagian besar guru mata pelajaran menggunakan strategi pembelajaran Luring, yakni pemberian tugas kepada siswa dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang dipinjamkan dari sekolah sebelum aktifitas Work From Home diberlakukan.

Tidak semua siswa berkesempatan  mengikuti pembelajaran Daring karena tidak memiliki fasilitas smartphone dan tidak mampu membeli paket data.

 

4

SMP Negeri 10 Sigi

-

Semua guru mata pelajaran menggunakan strategi pembelajaran Luring, yakni pemberian tugas/siswa belajar di rumah saja dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang dipinjamkan dari sekolah sebelum aktifitas Work From Home diberlakukan.

 

1.      Wilayah khususnya Dolo Selatan untuk akses internet belum memadai dan kebanyakan siswa belum memiliki fasilitas smartphone.

2.      Sebagian besar siswa tidak berkesempatan menyaksikan tayangan TVRI.

5

SMP Satap Negeri 12 Sigi

-

Semua guru mata pelajaran menggunakan strategi pembelajaran Luring, yakni pemberian tugas kepada siswa dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang dipinjamkan dari sekolah sebelum aktifitas Work From Home diberlakukan.

 

1.      Tidak semua siswa berkesempatan   mengikuti pembelajaran Daring karena tidak memiliki fasilitas smartphone dan tidak mampu membeli paket data

2.      Sebagian besar siswa tidak berkesempatan menyaksikan tayangan TVRI.

6

SMP Satap Negeri 10 Sigi

-

Semua guru mata pelajaran menggunakan strategi pembelajaran Luring, yakni pemberian tugas kepada siswa dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang dipinjamkan dari sekolah sebelum aktifitas Work From Home diberlakukan.

 

1.     Tidak semua siswa berkesempatan   mengikuti pembelajaran Daring karena tidak memiliki fasilitas smartphone dan tidak mampu membeli paket data.

2.     Sebagian besar siswa tidak berkesempatan menyaksikan tayangan TVRI.

7

SMP BK Marantha

1.      Pemberian tugas dari guru mata pelajaran juga dapat terselenggara melalui WhatsApp

2.     Siswa juga belajar materi-materi yang ditayangkan di TVRI dan hasil pembelajarannya dirangkum siswa dan akan dikumpulkan kepada guru yang memberikan tugas.

Sebagian besar guru mata pelajaran menggunakan strategi pembelajaran Luring, yakni pemberian tugas kepada siswa dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang dipinjamkan dari sekolah sebelum aktifitas Work From Home diberlakukan.

 

Tidak semua siswa berkesempatan   mengikuti pembelajaran Daring karena tidak memiliki fasilitas smartphone dan tidak mampu membeli paket data.

8

SMP BK Kalawara

-

Semua guru mata pelajaran menggunakan strategi pembelajaran Luring, yakni pemberian tugas kepada siswa dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang dipinjamkan dari sekolah sebelum aktifitas Work From Home diberlakukan.

 

1.      Tidak semua siswa berkesempatan   mengikuti pembelajaran Daring karena tidak memiliki fasilitas smartphone dan tidak mampu membeli paket data. Selain itu siswa banyak yang pulang kampung.

2.     Sebagian besar siswa tidak berkesempatan menyaksikan tayangan TVRI.

 

Hasil monitoring pelaksanaan Belajar dari Rumah di 8 (delapan) sekolah binaan menunjukan bahwa ada 4 (empat) sekolah binaan; 1. SMP Negeri 15 Sigi, 2. SMP Negeri 13 Sigi, 3. SMP Negeri 18 Sigi dan 4. SMP BK Maranatha, melaksanakan proses Belajar dari Rumah sesuai ketentuan yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2020. Sedangkan untuk 4 (empat) sekolah lainnya; 1. SMP Negeri 10 Sigi, 2. SMP Satap Negeri 10 Sigi, 3. SMP Satap Negeri 12 Sigi, dan 4. SMP BK Kalawara, meskipun ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Surat Edaran tersebut belum dapat dipenuhi secara keseluruhan terutama ketentuan bagian a yakni Belajar dari Rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan, namun sekolah-sekolah tersebut tetap mematuhi Surat Edaran Nomor 4 tersebut dengan melaksanakan proses Belajar dari Rumah dengan cara memberikan tugas dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang dipinjamkan untuk dipakai di rumah selama masa pandemi covid-19. Alasan sekolah melaksanakan proses Belajar dari Rumah dengan cara memberikan tugas dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang dipinjamkan untuk dipakai di rumah selama masa pandemi covid-19, selain karena faktor akses/jaringan internet belum memadai, faktor ekonomi juga sangat mempengaruhi sehingga sebagian besar siswa tidak dapat mengikuti proses Belajar dari Rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh.

Selama proses Belajar dari Rumah di masa pandemi Covid-19, pengawas sekolah tetap melaksanakan tugas sesuai dengan tupoksinya yakni dengan terus menjalin komunikasi  secara intensif kepada guru dan kepala sekolah yang menjadi binaannya dengan fasilitas komunikasi daring (Telephone, WhatsApp, Massengger, Facebook, dan lain-lain). Tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah untuk memantau perkembangan proses Belajar dari Rumah dan mengetahui suka duka Belajar dari Rumah. Suka dan Duka Belajar dari Rumah oleh seoang guru/pendidikan di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah disajikan berikut ini.

 

  1. Dwi Wahyuni, S.Pd. Guru Mata Pelajaran Matematika di SMP Negeri 15 Sigi.

Suka : Bisa menghindari atau memutus mata rantai covid-19. Jadi lebih aman. Untuk pembelajarannya lebih inovatif dan mencoba banyak hal dalam kegiatan belajar. Saya sangat suka dengan pembelajaran dengan TIK.

Duka : Ada anak anak yang responnya pada tugas baik tapi lebih banyak yang tidak. Karena motivasi belajar dan perhatiannya sangat minim. Ada yang tidak memiliki fasilitas Handphone dan tidak mampu membeli paket data karena keadaan ekonomi di bawah rata –rata

Aktivitas ibu Dwi Wahyuni, S.Pd selama proses Belajar dari Rumah:

Membahas soal-soal via telegram, messanger, WhatsApp, dan pembuatan konten youtube

 

 

  1. Tri Wahyuni Nurhidayati, S.Pd. Guru Mata Pelajaran Matematika di SMP Negeri 18 Sigi.

Suka  : Masih terpantau pembelajaran siswa dan masih bisa meliht kondisi siswa dalam keadaan sehat walafiat dan mendengar keluh kesah siswa.

Duka : Tidak semua siswa mempunyai HP apalagi HP android, gangguan signal dan ketidaktersedianya pulsa internet. Siswa yang tidak mempunyai HP mereka kadang berusaha bergabung dengan siswa yang mempunyai HP sehingga keterpaksaan tuk keluar rumah dan menempuh jarak yang lumayan jauh, inipun tidak dilaksanakan secara penuh berhubung jarak yang sangat jauh sehingga materi pembelajaran tidak diterima oleh siswa secara keseluruhan.

 

  1. Indriani, S.Pd. Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 13 Sigi

Suka : Membantu pemerintah memutus mata rantai penyebaran virus corona, memberikan pembelajaran baik guru  dan siswa untuk menguasai IT, dan banyak waktu untuk mengurus keluarga.

Duka : Rindu kepada siswa dan suasana sekolah. Banyak materi pelajaran yang tidak dapat didiskusikan.

 

  1. Mawar Wongi, S.Pd. Kepala SMP BK Maranatha.

Suka: Secara otomatis mendukung himbauan pemerintah untuk menekan penyebaran wabah virus corona dan lebih banyak waktu dengan keluarga.

Duka: Ada kerinduan yang sangat dalam kepada anak didik dan suasana sekolah serta ada beban moril seolah-olah kita tidak mampu bekerja.

Ungkapan perasaan erkait Belajar dari Rumah dan harapan wabah ini segera berakhir dari beberapa siswa SMP BK Maranatha disajikan dalam video (video terlampir)

 

  1. Deng Macinong, S.Pd Kepala SMP Negeri 10 Sigi

Suka : Guru, kepala sekolah dan tenaga administrasi sekolah serta siswa senang bisa berada di rumah/belajar dari rumah/bekerja dari rumah sekaligus bisa berkumpul dengan keluarga. Siswa dengan senang hati mengerjakan tugas yang diberikan bapak ibu guru melalui proses pembelajaran luring.

Duka : Guru. Kepala sekolah, tenaga administrasi sekolah serta siswa rindu untuk berkumpul dan bersama sama lagi di sekolah seperti sebelum adanya wabah virus ini. Siswa merindukan guru untuk menjelaskan materi pelajaran secara langsung.

Aktivitas guru-guru SMP Negeri 10 Sigi selama proses Belajar dari Rumah:

 

 

  1. H. Riduan, M.PdI. Kepala SMP Negeri 18 Sigi

Suka : Siswa gembira di rumah terus bersama keluarga dan belajarnya via medsos/daring dari guru dan melalui televisi meskipun masih ada siswa yang belum memilki android dan TV namun semangat siswa cukup tinggi dalam belajar.

Duka : Siswa rindu ke sekolah, sudah lama tak berjumpa teman, susah mendapatkan penjelasan materi secara detail dari guru, sulit berkomunikasi dan banyak informasi yang tidak diperoleh.

 

  1. Sebulon, S.Pd. Kepala SMP Satap Negeri 10 Sigi

Suka : Bagi guru, tidak repot lagi menyiapkan perangkat pembelajaran, tidak harus berdiri di kelas menerangkan pembelajaran, lebih banyak waktu berkumpul bersama keluarga di rumah.

Bagi siswa, tidak harus repot tiap hari berangkat ke sekolah untuk belajar, belajar di rumah lebih rileks dan santai dan memiliki banyak waktu bersama orang tua dan keluarga.

Duka : Bagi guru, sulitnya menahan diri karena harus Stay at Home dan tidak boleh bertatap muka langsung dengan siswa, susahnya berkomunikasi langsung dengan sebagian siswa karena keterbatasan sarana komunikasi yang dimiliki siswa, pembelajaran terasa tidak efektif dan efisien karena tidak dapat terkontrol langsung oleh guru, rasa rindu dan sedih karena sudah lama tidak bertatap muka langsung dengan siswa dan sesama rekan kerja.

Bagi siswa, rasa bosan dan jenuh karena belajarnya di rumah terus, tidak bisa bertanya langsung kepada guru kalau ada materi dan tugas yang tidak dimengerti, rindu mau bertemu dengan guru dan teman-temannya di sekolah.

 

  1. Nurfaidah, S.Pd., M.Pd. Kepala SMP Satap Negeri 12 Sigi

Suka : Bisa tinggal di rumah bersama keluarga tercinta dan mengerjakan tugas dari ibu bapak guru secara berkelompok. Kami (kepsek dan guru) dapat mengunjungi anak-anak meskipun dalam masa pandemik Covid-19 dan dalam situasi bulan puasa, tetap memakai masker dan menjaga jarak.

Duka : Anak-anak terbatas mengerjakan tugas secara mandiri bila diberikan oleh gurunya sehingga dikerjakan berkelompok. Sudah mulai bosan dan jenuh tinggal dirumah karena pekerjaan rumah hampir semua mereka lakukan guna membantu orang tua bahkan mencari nafkah. Waktu belajar lebih sedikit karena beban tugas yang diberikan oleh orang tua. Belum semua mereka memiliki fasilitas televisi sehingga mereka tidak dapat menonton program yang ditayangkan di TVRI.

 

  1. Salfina, S.Pd., M.Pd. Kepala SMP Negeri 13 Sigi

Suka :  Guru dan siswa tidak terbebani dengan tugas di sekolah sesuai dengan jadwal KBM. Waktu berkumpul dengan keluarga sangat banyak.

Duka : Ada tugas yang diberikan oleh guru tidak jelas dan perlu konfirmasi dari guru namun terkendala dengan keterbatasan media yang dimiliki oleh siswa. Rasa kangen untuk kumpul bersama baik antara siswa sangat terasa. Tukar informasi sangat terbatas.

 

  1. Sadrak, S.Pd. Kepala SMP BK Kalawara

Suka : Senang di rumah saja bersama keluarga dan belajar pun tidak terikat dengan waktu.

Duka : Siswa dan guru dibatasi untuk bertemu dan selalu ada rasa khawatir akan tertular Covid-19.

 

 

Dra. Karniyani, M.Pd

Pengawas Sekolah
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Sigi

Tag:
Artikel Terkait