TRANSFORMASI MENUJU PENGAWAS SEKOLAH ERA DIGITAL

Bagikan

oleh P3GTK

Di mata seorang Prof. Dr. Tri Marhaeni Puji Astuti, M.Hum, pandemi covid-19 yang masih melanda Indonesia meski menjadi musibah namun di sisi lain juga pembawa berkah. Menurutnya, dengan adanya pandemi jadi memunculkan peluang karena membawa perubahan dan tugas baru, khususnya kepada pengawas sekolah. Pola pikir pengawas sekolah berubah secara frontal,” katanya.

 

Sebelum ada pandemi Covid-19, pengawas sekolah terbiasa melaksanakan tugas-tugas sebagaimana biasa. Bahkan tak sedikit yang merasa jenuh karena terus mengulang pola pekerjaan dan kebiasaan yang sama. Di antaranya melakukan kegiatan supervisi akademik, manajerial, membina dan melatih guru dan kepala sekolah.

 

“Begitu ada pandemi, mendadak heboh.  Pengawas mulai mencari cara baru untuk bisa melakukan tugasnya. Mereka mencari tahu bagaimana mengakses aplikasi digital yang dapat difungsikan sebagai media bekerja,” kata Prof Tri ketika berbicara pada pada Seri Webinar Guru Belajar yang diselenggarakan Direktorat Profesi Pendidik dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan, pada 1 Juli 2020, melalui aplikasi zoom meeting dan disiarkan langsung di kanal Youtube P3GTK Kemdikbud.

 

Di masa pandemi ini, kata Tri, Pengawas harus bertransformasi. Berubah dari era konvensional menuju era digital. “Banyak konsekuensi yang harus dihadapi dari transformasi ini. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka kita harus mengalami dan melakukan itu semua,” kata Tri.

 

Dalam menuju era baru, ada tahap-tahap yang harus dilakukan pengawas sekolah pada masa normal baru. Mulai dari konstruksi kehidupan normal sebelum pandemi datang hingga masa beradaptasi dengan kebiasaan baru. Pengawas sekolah harus bermigrasi dari yang belum mengerti menjadi memahami teknologi. Apapun alasannya, penguasaan teknologi di masa ini sangat penting.

 

Tri meminta pengawas agar bermetamorfosa menjadi masyarakat digital. Pengawas sekolah merupakan bagian dari struktur sosial yang harus menyesuaikan perubahan ini. Keterpaksaan yang dilakukan akan memunculkan kebiasaan yang membentuk masyarakat digital. “Dengan begitu masyarakat akan terbiasa hidup pada masa pandemi covid-19. Interaksinya berubah dari nyata ke maya,” ujar Guru Besar Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Semarang.

 

TERBIASA DENGAN KEBIASAAN BARU

 

Tri yakin setelah pandemi ini usai masyarakat digital akan terus berjalan karena mulai terbiasa dengan kondisi normal baru. “Zaman dulu sehat itu empat sehat lima sempurna itu normalnya. Sekarang kurang, harus pakai masker, menjaga jarak, dan menjaga pola hidup sehat,” katanya.

 

Untuk masuk ke dalam masyarakat digital, pengawas sekolah harus menguasai perkembangan teknologi. Pengawas sekolah harus menyesuaikan diri dengan aplikasi-aplikasi digital dalam proses pengawasan, supervisi akademik, supervisi manajerial. Ketika  pola kerja mulai menggunakan aplikasi digital, mereka akan terbiasa dengan kebiasaan baru. Dengan begitu pengawas pun menjadi pribadi yang cerdas karena mau berkreasi dan berinovasi. “Inilah yang membentuk masyarakat digital. Sehingga kondisi masa depan era digital tidak hanya digunakan pada saat masa pandemi,” kata Tri.

 

Tri menginginkan pengawas sekolah memahami model pengawasan dan panduan kerja di masa pandemi. Setelah memahami, tetap bermanfaat untuk masa depan meski tidak dalam kondisi pandemi. Ia berharap pengawas sekolah memahamai E-Pengawasan 5.0 dan kepangkatan daring. “Tujuannya untuk mengantisipasi apabila penilaian dilakukan secara daring. Model yang diharapkan bersama untuk seorang pengawas yang smart,” kata Tri.

 

INFRASTRUKTUR DIGITAL

 

Tri menyadari untuk masuk ke dalam masyarakat digital diperlukan pemenuhan infrastruktur yang memadai. Ia berharap pemerintah dapat memenuhi infrastruktur jaringan internet menjangkau seluruh wilayah. “Kalau tidak bisa gratis, paling tidak murah,” kata Tri.

 

Tri juga meminta pemerintah memperluas jaringan internet agar bisa diakses di berbagai daerah. Pasalnya masih banyak daerah yang belum bisa menikmati sarana internet dengan alasan geografis. “Pemenuhan infrastruktur untuk menuju digital society ini sangat penting,” ujarnya.

 

Strategi yang digagas Tri meliputi: mengutamakan protokol kesehatan era normal baru dalam menjalankan tugas pokok (tupok) pengawas, membuka pola pikir untuk perubahan, kreatif dan inovatif, memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk menjalankan tupok pengawas.

 

Pengawas sekolah diminta tidak abai dalam melaksanakan protokol kesehatan di era normal baru. Pengawas menjadi contoh utama bagi warga sekolah dan masyarakat sekitar. Pengawas juga diharapkan peduli dan ikut andil mengampanyekan hidup sehat. baik itu di sekolah binaan atau bukan.

 

Tri juga menekankan agar pengawas sekolah selalu bergembira dalam menjalankan tugas. Pengawas harus memiliki empati yang besar kepada warga sekolah, baik guru, siswa, dan orang tua siswa.  “Gembira meningkatkan imunitas kita,” ujarnya.

 

 

Jakarta, 1 Juli 2020

 

Direktorat P3GTK

Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

Situs web: p3gtk.kemdikbud.go.id

Facebook: dit.p3gtk.kemdikbud

Instagram: dit.p3gtk.kemdikbud

Youtube: P3GTK Kemdikbud

Twitter: P3GTK_Kemdikbud

Tag:
Artikel Terkait